logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 5 Menuju Persekutuan

Aku berjalan mantap ke rumah Bu Endah. Angan-angan untuk mendapatkan alamat jelas tempat pesugihan yang dulu pernah didatangi Pak Yusuf pasti kudapatkan dari Bu Endah. Dengan beralasan meminta singkong aku akan mencari tahu alamat dan bagaimana caranya dulu Pak Yusuf melakukan ritual pesugihan.
Setiba di rumah Pak Yusuf aku langsung mengucap salam dan di jawab oleh Bu Endah.
“Eh, Nak Dina. Ada apa, Nak?” tanya Bu Endah padaku.
“Dina boleh minta singkong lagi gak, Bu? Karena ibu dan bapak sakit, jadi gak bisa mulung dan kami gak punya uang,” jawabku sedikit malu.
“Sudah, Nak, jangan ambil singkong lagi. Ibu kasih beras saja. Kebetulan ibu dapat rezeki beras dari tetangga,” tawar Bu Endah yang iba melihatku.
Aku sedikit bahagia mendengar perkataan Bu Endah. Setidaknya hari ini kami akan makan nasi.
“Mari masuk, Nak!” ajak Bu Endah.
Bu Endah mengajak aku masuk ke rumahnya, ini kesempatan yang baik untuk mencari info tentang pesugihan itu.
“Apa Pak Yusuf tidak di rumah, Bu?” tanyaku sedikit gugup.
“Pak Yusuf sedang bekerja di ladang orang, Nak,” jawab Bu Endah, tangannya sibuk mewadahi beras ke dalam kantung plastik.
“Bu ... apa ular siluman yang Ibu ceritakan tidak pernah datang lagi?” tanyaku sedikit ragu.
Bu Endah menatap wajahku. Ada rasa tak enak hati sudah bertanya tentang ular itu lagi. Wajah Bu Endah terkesan tak suka. Namun, mau bagaimana pun aku harus mencari tahu cara melakukan pesugihan itu.
“Kenapa kamu menanyakan ular itu, Nak?” Bu Endah balik bertanya dengan wajah yang heran.
“Oh, tidak, Bu. Dina hanya ingin melepas beban dengan mengobrol bersama Ibu. Maaf jika Dina salah bertanya tentang ular itu.” Aku tertunduk, sedih. Mungkin tidak akan kudapatkan alamat pesugihan itu.
“Sudahlah, Nak. Itu adalah masa lalu ibu. Kemarin mungkin Ibu sedang lelah sampai tak sadar menceritakan aib keluarga sendiri.” Bu Endah yang berhenti sejenak melanjutkan aktivitasnya mewadahi beras.
Aku kecewa mendengar perkataan Bu Endah. Bagai mana ini? Sepertinya Bu Endah enggan membahas ular itu lagi. Aku terus memikirkan cara agar bisa mendapat alamat tempat pesugihan.
“Sudah berulang kali kami ingin lepas dari jeratan ular siluman itu, tetapi tidak pernah berhasil. Bahkan, kami telah mendatangi gunung tempat pesugihan ular itu di daerah X(Nama dan tempat disamarkan) untuk melakukan ritual pembatalan janji terhadap siluman ular, tapi siluman itu tak menerimanya,” terang Bu Endah tiba-tiba.
Bagai mendapat durian runtuh saat mendengar perkataan Bu Endah. Tanpa harus kutanya, ia mengatakan sendiri di mana tempat melakukan pesugihan itu. Gunung yang terdapat di daerah X tersebut tidak terlalu jauh dari daerah tinggalku. Walau harus menempuh waktu beberapa jam aku sedikit tahu di mana gunung itu berada.
“Ya, sudah, Bu. Jangan diceritakan lagi jika membuat Ibu sedih.” Karena sudah mendapat apa yang kuinginkan, aku tak ingin Bu Endah terus bersedih dengan mengingat masa lalunya.
Bu Endah memberikan beras. Ia juga memberikan beberapa sayuran yang didapat pak Yusuf dari ladang. Aku bergegas pamit untuk pulang kemudian mengucapkan banyak terima kasih kepada Bu Endah.
Suatu saat nanti, akan kubalas semua kebaikannya. Hanya keluarga Bu Endah yang sangat peduli dengan keluargaku, merekalah yang sering membantu kami. Mungkin karena dulunya Pak Yusuf dan Bapak bersahabat.
Tekadku kini sudah bulat untuk melakukan pesugihan. Aku tinggal mencari cara untuk bisa sampai di gunung tersebut. Yang pasti, tanpa satu orang tahu jika aku melakukan pesugihan.
🐍🐍🐍
Sambil memasak pemberian Bu Endah aku terus memikirkan cara untuk datang ke daerah X. Walau jaraknya tidak terlalu jauh, tetapi tak bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Aku membutuhkan uang untuk naik bus, sedangkan aku tidak memiliki uang sedikit pun.
Aku juga belum mendapatkan ide. Alasan apa yang akan kukatakan kepada kedua orang tuaku? Mereka tidak boleh sampai tahu jika anaknya ini akan melakukan pesugihan.
“Dina ....” Tiba-tiba suara ibu mengagetkanku.
“Ada apa, Bu? Apa Ibu sudah lapar? Makanannya sebentar lagi siap,” ucapku lalu meniup-niup bara api agar membesar.
“Tidak, Nak, Ibu hanya ingin membantumu memasak. Kenapa Ibu perhatikan dari tadi kamu melamun?” Ibu duduk di sampingku kemudian memotong sayuran.
“Em ... Dina sedang berpikir bagaimana bisa mendapatkan pekerjaan. Dina ingin kehidupan kita lebih layak, agar tidak ada orang yang menghina dan seenaknya memfitnah kita,” ujarku menatap wajah ibu.
“Maafkan Ibu, Nak. Ibu tidak bisa berbuat banyak untukmu. Maaf.” Ibu tertunduk menangis.
Kupeluk tubuh kurusnya. Aku tahu batinnya pun sakit, bahkan lebih sakit dari yang kurasa. Melihat anak-anaknya terlantar itu pasti menyakitkan.
Namun tak pernah kulihat ibu mengeluh, iya selalu setia menemani bapak. Walau hidup penuh dengan kekurangan. Bahkan tak pernah kulihat ibu mengeluarkan suara keras, ia begitu lemah lembut. Selalu menerima apa pun perlakuan orang.
Akan tetapi, sikap ibu membuat orang menjadi semena-mena terhadap kami. Aku tidak bisa menerima itu. Perlakuan mereka semua membuat rasa dendam dihati ini.
Aku sudah bukan anak kecil lagi yang hanya akan menerima dan menangis saat dihina. Selangkah lagi, rasa sakit hati ini akan kubalas. Mereka semua akan mendapat balasan yang lebih sakit dari yang keluargaku alami.
Hari ini aku memutuskan untuk memulung, ibu dan bapak masih belum sembuh. Setidaknya sedikit-sedikit aku bisa menghasilkan uang. Aku akan menyisihkan untuk biaya mendatangi gunung tersebut.
Walau nanti ibu dan bapak sudah sehat dan memulung lagi, aku akan tetap memulung. Sampai uangku cukup dan mencari alasan untuk mendatangi gunung itu.
Hari-hari terus kulalui, memulung tanpa kenal lelah. Meski hinaan terus datang kepadaku, tetapi itu tak sedikit pun menyurutkan semangatku. Bahkan hinaan mereka selalu kujadikan motivasi untuk terus bekerja dengan giat agar secepatnya rencana itu terlaksana.
Terus kuingat manusia-manusia sombong yang dengan seenaknya menginjak-injak harga diri kami. Mereka yang tanpa segan-segan melempari kami dengan sampah. Mereka yang sering menghina kami yang miskin ini.
Semua itu, akan selalu kuingat. Tujuanku adalah membalas lebih sakit dari rasa sakit yang kurasa.
Aku membuka tabungan selama beberapa bulan memulung. Kuhitung lembaran-lembaran uang receh tersebut. Kurasa, jumlahnya sudah cukup untuk biaya menuju daerah X. Aku tak perlu memikirkan biaya untuk pulang karena aku pasti sudah kaya raya.
Perlahan Kuhampiri ibu dan bapak yang sedang istirahat, sengaja aku menunggu adik-adik tertidur.
“Bu, Pak. Ada yang mau Dina bicarakan.” Aku duduk di antara ibu dan bapak.
“Ada apa, Nak?” jawab bapak.
“Besok Dina akan bekerja ke kota, Pak,” kataku yang membuat mereka terkejut.
“Bekerja ke kota? Dengan siapa, Nak? Siapa yang mengajakmu ke Kota?” Ibu bertanya bertubi-tubi. Ia sangat terkejut mendengar ucapanku.
Aku menyerahkan sebuah kertas informasi lowongan pekerjaan untuk menjadi pekerja rumah tangga di kota. Sebenarnya ini hanya alasanku saja. Saat tadi sedang memulung aku menemukan kertas tersebut. Muncullah ide untuk membuat alasan bekerja ke kota.
“Dina harap ibu dan bapak memberi doa untuk Dina dan jangan khawatirkan Dina. Dina ingin mengubah nasib kita Pak, Bu.” Aku mencoba meyakinkan mereka.
“Tapi, Nak ....” Kata-kata ibu terhenti ia seakan tak memberikan izin kepadaku.
“Bu, cukup doakan saja Dina. Beri Dina restu untuk berjuang mengubah nasib kita.” Kugenggam tangannya dan menatap mata ibu lekat.
Bapak dan ibu hanya diam. Terlihat bulir bening mengalir di kedua bola mata mereka. Kupeluk erat tubuh yang makin kurus itu. Esok perjuangan akan dimulai dan ini semua untuk keluargaku.
Aku tahu bapak dan ibu tak bisa banyak melarang karena mereka sadar tidak bisa memberi lebih terhadap kami, anak-anaknya. Mereka hanya bisa pasrah dengan keputusanku.
Mereka hanya bisa memeluk sambil menangis mengusap kepalaku. Malam ini aku tidur di dalam pelukan ibu dan bapak. Kami bertiga menangis bersama sampai terbuai ke alam mimpi.
Esok akan menjadi awal mimpi-mimpi itu akan menjadi nyata.

Komentar Buku (165)

  • avatar
    Kilauanpena

    Jangan lupa Mampir dan saling dukung

    06/04/2022

      4
  • avatar
    Restu

    mantap

    9d

      0
  • avatar
    Anda Jasaku

    seru

    21/04

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru