logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 4 Fitnah dan Penganiayaan

“Ibu, Bapak! Tolong jangan pukul orang tuaku!” Aku menangis sejadinya setelah mengetahui orang yang sedang dipukuli warga adalah orang tuaku.
“Nah, ini anak maling bakal jadi maling juga pasti,” teriak salah satu warga.
Aku memeluk kedua orang tuaku. Darah segar mengalir dari pelipis Ibu. Bapak bajunya sudah dilucuti warga, bibirnya membengkak dan hidungnya mengeluarkan darah.
“Ibu, Bapak, kenapa bisa jadi begini?” Aku terus menangis melihat keadaan kedua orang tuaku yang babak belur.
Keempat adikku datang. Mereka semua menangis melihat kondisi ibu dan bapak yang penuh luka. Namun warga seakan belum puas, kami dilempari batu dan dipukuli dengan kayu. Aku berusaha memeluk adik-adik, biar tubuhku yang terluka. Tak apa kepalaku yang terlempar batu.
Rasa sakit ditubuh ini sudah tak aku rasa lagi. Namun, amarah dan sakit hati kini menggebu. Aku tahu ibu dan bapak tidak mungkin mencuri, mereka orang yang jujur. Ini fitnah!
“Hei, sudah-sudah, cukup! Jangan main hakim sendiri.” Tiba-tiba Pak Yusuf datang menghentikan aksi warga.
“Pak Yusuf, mereka ini maling. Harus diberi pelajaran.” Salah satu warga memprovokasi.
“Apa sudah ada bukti dan ada saksi? Jika memang ada kita bawa saja ke yang berwajib tidak perlu main hakim sendiri. Negara ini punya hukum bapak-bapak.” Pak Yusuf berusaha menengahi.
“Memang mereka belum maling. Tapi pasti mau maling, Pak! Kalau gak niat maling ngapain mereka melihat dan mondar mandir di depan rumah Bu Tari,” ucap Pak Jali, ia terlihat paling bersemangat memukul ibu dan bapak.
“Astagfirullah, Pak Jali! Ini namanya fitnah. Sudah lepaskan mereka atau kalian yang ada di sini akan aku laporkan polisi karena sudah menganiaya keluarga Pak kanto.” Pak Yusuf membubarkan warga.
Warga bersorak tanda tak suka dan salah satu warga yang sedari tadi memprovokasi tampak kesal karena aksinya dihentikan Pak Yusuf.
Pak Yusuf menghampiri kami yang sedang menangis dan menahan sakit. Beliau mengajak kami untuk ke rumahnya dan diobati.
“Pak Yusuf, kami tidak mau maling. Kami sedang memulung di depan rumah Bu Tari. Di sana banyak bekas botol mineral.” Ibu menjelaskan alasan mereka mondar mandir di depan rumah Bu Tari sambil terus menangis.
“Aku tau, Bu. Kalian sekeluarga adalah orang yang baik. Sudah ikhlas kan saja, semua akan ada balasannya,” kata Bu Endah, ia mengusap-usap luka ibu dengan kapas dan obat merah.
Pak Yusuf dan Bu Endah meminta kami mengikhlaskan kejadian yang baru saja kami alami. Mungkin bapak dan ibu bisa untuk sabar, tetapi tidak dengan aku. Luka yang ada di tubuhku tidak lebih sakit dari luka hatiku.
Akan selalu kuingat wajah-wajah orang yang tersenyum melihat kesengsaraan kami. Rasa dendam di hati ini sudah tidak bisa terbendung. Cukup! Aku rasa semua sudah cukup. Ini saatnya aku harus bangkit, meski nyawa sekali pun taruhannya.
Aku akan mencari cara untuk membalas rasa sakit ini. Fitnah seperti ini bukan baru pertama kami alami. Kali ini sudah terlalu kejam. Ibu dan bapak babak belur dipukuli mereka. Bahkan, mereka tidak berhenti memukul dan melempar batu walau ada kami anak-anaknya.
Adik-adik pun terluka terkena sabetan kayu dan lemparan batu. Kejam, mereka kejam! Tanpa ada bukti mereka menghakimi, merusak mental kami.
🐍🐍🐍
Kini hari sudah berganti malam, kami sudah kembali ke rumah setelah diobati oleh Pak Yusuf dan istrinya. Kami pula diberi makan oleh mereka, Pak Yusuf memang sangat baik. Ibu pernah bercerita dahulu bapak dan Pak Yusuf bersahabat. Entah hal apa yang membuat keduanya berjarak.
Ibu dan bapak sudah menyiapkan tikar untuk tidur. Kupandangi wajah mereka satu persatu.
Bulir-bulir hangat mengalir di pipi melihat wajah mereka yang terlihat sangat lelah. Mereka pasti kesakitan setelah dipukuli warga ramai-ramai. Terlihat rasa takut di wajah adik-adikku. Kuhampiri dan memeluk adik yang paling bungsu.
Aku mulai merebahkan diri di atas tikar usang sambil air mata terus mengalir mengingat kejadian sore tadi. Betapa kejamnya mereka semua, tanpa rasa iba sedikit pun mereka menganiaya kami. Apa yang harus kulakukan?
Aku harus bisa membalas perlakuan kejam itu. Bahkan, harus lebih sakit dari apa yang keluargaku alami.
Sepanjang malam aku terus berpikir. Apa harus kubunuh mereka satu persatu? Apakah aku harus menjadi penjahat demi membalas rasa sakit ini?
Aku hanya seorang anak perempuan, pastilah tenagaku tidak akan mampu untuk melawan meski satu orang pun. Hanya uanglah yang bisa membalas semua dendam di hati ini. Iya, hanya uang!
Akan tetapi, bagaimana caranya? Tiada pekerjaan yang bisa kudapat. Bahkan tiada orang yang mau memperkerjakan aku.
Jika harus memulung seperti ibu dan bapak, itu tidak akan bisa menghasilkan uang yang banyak. Sedangkan keahlian aku tak ada, ijazah sekolah pun tak punya. Lantas apa yang harus kulakukan?
Aku teringat cerita Bu Endah siang tadi. Pak Yusuf mendapatkan kekayaan dengan cara bersekutu dengan siluman ular. Apakah itu nyata? apakah aku bisa melakukan itu juga? Namun, bagaimana caranya dan di mana tempat pak Yusuf melakukan persekutuan itu?
Aku harus mencari tahu dari Bu Endah. Apa pun nanti risikonya jikalau itu nyata dan aku menjadi kaya raya pasti akan kulakukan. Meski nanti aku tidak bisa menikah atau tidak bisa memiliki anak. Namun, yang penting adalah kebahagiaan keluargaku.
Terpenting adalah membalas hinaan dan cacian oleh orang-orang yang tak berperasaan itu. Mereka akan mendapatkan balasan dariku. Bahkan anak-anak mereka harus merasakan rasa takut yang terlukis di wajah adik-adik.
Niatku sudah bulat. Tak sabar lagi aku menunggu pagi. Rasanya malam begitu sangat lambat. Aku ingin segera mencari tahu tempat dan bagaimana cara melakukan pesugihan siluman ular. Aku mulai membayangkan, jika nanti sudah kaya raya akan kubuat semua orang menyesal karena sudah bertindak semaunya.
🐍🐍🐍
Matahari mulai menampakkan sinarnya, tetapi bapak dan ibu masih tertidur. Aku tahu mereka sedang kesakitan. Hanya saja mereka diam. Hati ini semakin pilu melihat kedua orang tuaku menderita.
Aku bangkit dan menuju dapur. Tidak ada apa-apa di dapur ini. Hanya ada sisa singkong kemarin yang aku minta dari Bu Endah.
Aku berinisiatif merebus singkong itu sambil merebus air bersebelahan di tungku. Tidak perlu menunggu lama singkong sudah masak, air pun telah mendidih. Segera kusediakan ke dalam wadah. Air hangat kutuang ke dalam gelas. Kami tidak mempunyai teh, kopi, apalagi susu. Karena itu, hanya air hangat ini yang akan kusuguhkan kepada bapak, ibu dan adik-adik.
“Ibu, Bapak. Mari bangun kita sarapan dulu, Dina sudah masak.” Dengan lembut aku membangunkan mereka.
Adik-adik pun ikut bangun mendengar suaraku. Kuletakkan singkong yang masih hangat untuk mereka makan.
“Terima kasih, ya, Nak. Dina memang anak yang baik. Maafin ibu. Kita tidak bisa membeli beras, ibu dan bapak belum mendapatkan uang,” ucap ibu sambil terisak. Terdengar begitu pilu.
“Tak apa, Bu. Siang nanti Dina bisa minta singkong lagi sama Pak Yusuf.” Aku menenangkan ibu agar ia tidak larut dalam kesedihan.
Aku memang sedang mencari alasan untuk bisa ke rumah Pak Yusuf. Dengan meminta singkong, aku bisa mencari tahu lebih banyak lagi tentang tempat pesugihan yang pernah dilakukan Pak Yusuf. Rencana ini harus berhasil, aku harus bisa membalas rasa sakit di hati ini.
Setiap kali melihat wajah ibu, bapak dan adik-adik rasa sakit itu semakin dalam. Wajah mereka tak akan pernah kulupa. Mereka yang telah tega membuat kami makin sengsara. Tunggu aku, tak akan lama lagi kalian semualah yang akan mengemis memohon pada kami.
Semoga Bu Endah memberi petunjuk yang aku butuhkan agar jalanku dipermudah. Walau apa yang kulakukan adalah dosa besar, tetapi tiada jalan lain lagi. Aku tidak ingin keluargaku semakin dihina. Bahkan, kini mereka telah menganiaya kami.

Komentar Buku (165)

  • avatar
    Kilauanpena

    Jangan lupa Mampir dan saling dukung

    06/04/2022

      4
  • avatar
    Restu

    mantap

    11d

      0
  • avatar
    Anda Jasaku

    seru

    21/04

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru