logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 2 Cerita Pilu Bu Endah

Setelah selesai makan, aku bergegas membereskan peralatan makan yang telah digunakan. Adik-adik sudah terlihat kenyang dan mulai membuka buku bekas yang didapat bapak dan ibu memulung.
Adikku Deno, umurnya sepuluh tahun. Dia tidak pernah mengecap bangku sekolah, tetapi sedikit-sedikit Deno sudah bisa mengeja. Keterbatasan biaya membuat Deno tidak bisa sekolah. Iya, memang sekolah di kampungku gratis, tetapi biaya seragam, buku dan alat lainnya tetap harus beli.
Hanya akulah anak dalam keluarga ini yang pernah merasakan indahnya bersekolah. Itu pun hanya sampai di kelas lima SD. Berbekal ilmu yang kudapat saat dulu sekolah, aku mengajarkan huruf-huruf dan cara membaca kepada adik.
Sedangkan yang ketiga dan keempat bernama Rina dan Rian, umurnya delapan tahun. Mereka anak yang manis dan cerdas bahkan mereka lebih cepat menghafal huruf-huruf dibandingkan Deno. Rara si bungsu, umurnya lima tahun. Rara sangat lucu sekali, bicaranya masih cadel, tetapi dia semangat saat melihat kakak-kakaknya sedang belajar.
Ah ... adik-adikku memang menggemaskan, mereka tak pernah mengeluh walau hidup tidak selayaknya anak-anak yang lain. Suatu saat nanti kakakmu ini akan membahagiakan dan memberikan apa pun yang kalian mau.
Tak terasa buliran air hangat mengalir di pipi, saat ini aku hanya bisa bermimpi. Namun, aku yakin berawal dari mimpi semua akan bisa menjadi nyata.
🐍🐍🐍
Setelah siap pekerjaan rumah, aku mengajak adik-adik untuk bermain ke rumah Bu Endah.
“Ayo, siapa yang mau ikut!” tawarku pada mereka.
“Kak Dina mau kemana?” tanya Deno. Ia menyusun buku-buku yang mungkin sudah berkali-kali ia baca.
“Kakak mau main ke rumah Bu Endah, tadi waktu ambil singkong kakak lihat jambu di sebelah rumah Bu Endah matang-matang juga lebat,” ucapku beralasan.
“Bu Endah istri Pak Yusuf, ya, Kak?” tanya Deno memastikan.
“iya, yuk!” ajakku kemudian menggandeng Rara.
Sesungguhnya bukan karena jambu yang ingin kupetik, tetapi kelanjutan cerita anak-anak Bu Endah yang membuat penasaran.
Dari kejauhan aku melihat Bu Endah sedang membersihkan rumput di halaman rumahnya. Tubuhnya kurus dan wajahnya pucat. Bu Endah seakan memiliki beban yang teramat berat dalam hidupnya.
Aku mengucapkan salam padanya, ia menyambut kami dengan hangat. Wajahnya seketika semringah. Pasti Bu Endah terhibur akan kedatangan kami.
“Apa Dina dan adik-adik boleh minta jambu, Bu?” tanyaku berbasa-basi.
“Boleh, Nak, ambillah. Deno bisa naik, kan?” Kini Bu Endah menatap pada Deno.
Deno mengangguk. Ia kemudian mulai menaiki pohon jambu yang tidak terlalu tinggi itu. Namun, buah dari pohon tersebut memanglah sangat lebat.
Sungguh Bu Endah orang yang baik. Aku meminta Deno memetik jambu untuk adik-adik yang lain sambil menunggu duduk di samping Bu Endah. Barang kali ia akan melanjutkan ceritanya yang belum selesai tadi.
“Bu, kenapa Ibu tidak memiliki anak lagi?” Aku mencoba membuka obrolan.
“Sudah, Nak. Tapi, ya, begitu. Ibu selalu keguguran,” jawab Bu Endah dengan wajah sedih.
“Mengapa Bu, apa ada masalah? Bukankah Ibu sudah punya anak dua? ” Aku makin penasaran dengan kisah Bu Endah.
“Tidak, Nak, tapi ular-ular itu ....” Kata-kata Bu Endah terhenti. Ia seakan sedang mengingat suatu cerita yang teramat sedih. Bola matanya berkaca-kaca.
“Ceritalah, Bu, Dina bakal dengerin kok. Mungkin aja dengan cerita beban yang Ibu rasa berkurang.” Sesungguhnya aku sangat penasaran dengan ular yang selalu diucapkan Bu Endah.
“Dulu ....” Bu Endah mulai bercerita, aku sangat antusias mendengar ceritanya.
“Kehidupan Ibu tiada kekurangan satu apa pun. Rumah, mobil, uang, Semua kami miliki. Namun, setelah bertahun-tahun pernikahan kami tak kujung memiliki anak. Bukan karena penyakit, tapi Pak Yusuf selalu enggan untuk mempunyai keturunan.”
🐍🐍🐍
POV Bu Endah
20 tahun yang lalu ....
“Mas. Kita berumah tangga, kan harus punya keturunan.”
Keributan seperti ini sudah sangat sering terjadi. Aku sebagai wanita sungguh sangat ingin menimang anak. Namun Yusuf—suamiku dia tidak pernah mengharap anak dariku. Setiap kali membahas soal anak dia selalu memilih menghindar.
Namun, kali ini dia harus memberi jawaban pasti. Aku tak ingin selalu diabaikan. Jika dia tetap pada pendiriannya untuk tidak memiliki keturunan, maka untuk apa rumah tangga ini?
“Mas, aku mau kita cerai saja.” Sambil menangis aku mengatakan kata-kata pahit itu.
“Jangan bicara begitu Dek, baiklah kita akan coba untuk memiliki keturunan.”
Wajah Mas Yusuf seakan ragu, tetapi aku tak peduli. Aku menginginkan anak. Aku ingin keturunan. Tiada guna harta berlimpah jika tiada anak.
Hingga beberapa bulan kemudian aku dinyatakan positif. Kami sungguh sangat bahagia. Namun, raut wajah Mas Yusuf sulit untuk diartikan, dia begitu bersyukur atas kehamilanku. Namun, matanya menunjukkan kekhawatiran.
Kehamilanku tidak berjalan mulus, sejak aku dinyatakan positif kesehatanku menurun. Aku sering bermimpi didatangi wanita setengah ular yang selalu mengejar-ngejar dan ingin melilit perutku.
Setiap terbangun dari mimpi burukku, selalu kudapati Mas Yusuf sedang duduk bersila. Seperti orang yang sedang membaca mantra, mulutnya terus bergerak dengan cepat dan keringat membasahi baju.
Aku tak tahu apa yang sedang ia lakukan. Apakah ada kaitannya dengan mimpi yang selalu kualami? Setiap kutanyakan Mas Yusuf selalu diam dan menghindar.
Hingga tiba waktu persalinan, aku bersyukur bayi kami lahir dengan selamat. Kami begitu berbahagia atas kelahiran putra pertama kami. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Tepat usia anakku dua bulan, tiba-tiba saja di dalam kamar tidurnya banyak sekali ular.
“Mas ... Mas Yusuf!” Aku berteriak memanggilnya.
Namun, kedatangan Mas Yusuf terlambat. Anak kami sudah dipatuk ular-ular tersebut. Kemudian seketika hewan melata itu menghilang. Entah kemana perginya tiada jejak satu pun.
Aku bergegas berlari menghampiri anak kami. Seluruh tubuhnya membiru dan dingin. Napasnya sudah tidak terasa lagi. Aku menangis sejadi-jadinya. Mas Yusuf hanya berdiri terdiam di ambang pintu.
Beberapa bulan kemudian. Aku meminta untuk hamil lagi. Awalnya Mas Yusuf menolak, tetapi aku terus memaksa. Hingga akhirnya aku dinyatakan hamil kembali.
Kejadian yang sama di kehamilanku yang pertama terulang lagi. Mimpi-mimpi buruk itu selalu datang setiap malam. Meski akhirnya anak kami lahir dengan selamat dan sempurna.
Tak ingin kejadian yang lalu terulang kembali. Kemana pun selalu kudekap ia dalam gendongan.
Sesungguhnya sering rumah kami didatangi ular, dari yang tidak berbisa hingga yang berbisa dan mematikan. Terkadang aku heran, datang dari mana ular-ular ini? Di halaman rumah sengaja semak-semak dibersihkan, bahkan bunga-bunga tidak lagi kutanam.
Namun, di usia anakku tiga tahun tiba-tiba saat tidur siang dia sudah tidak ada di sampingku. Aku bergegas bangun dan mencarinya. Berteriak-teriak memanggil namanya, tetapi tak juga kutemukan. Mas Yusuf ikut panik mencari keberadaan anak kami.
Begitu syoknya diri ini melihat anakku sudah terbujur kaku dan membiru di dalam gudang belakang rumah. Tubuhnya dipenuhi patukkan ular, sama persis seperti kematian anak pertama kami.
Aku berteriak histeris. Entah dosa apa yang telah kulakukan hingga anak-anakku bernasib buruk. Aku yakin ini ulah ular-ular jahanam itu. Aku berkeliling mencari di mana keberadaan ular tersebut. Namun, sama seperti kejadian dulu tiada jejak di mana ular-ular itu bersembunyi.
Beberapa tahun aku hidup dengan rasa depresi. Dua kali kehilangan anak dengan cara yang tragis sungguh tak dapat kuterima.
Namun, tak ingin menyerah sampai di sini saja. Aku meminta kepada mas Yusuf untuk bisa hamil lagi, walau selalu ditolak dengan alasan takut terulang lagi. Aku tak peduli. Terus Mas Yusuf kudesak agar mau memilik anak lagi.
Aku dinyatakan positif hamil lagi, ini kehamilan yang ketiga. Sama seperti pertama dan kedua mimpi-mimpi buruk itu selalu datang. Hingga akhirnya kehamilanku tidak bisa bertahan, aku mengalami keguguran di usia kehamilan lima bulan.
Saat awal merasakan gerakan janin di dalam rahimku, malamnya mimpi itu datang. Namun, kali ini ular setengah manusia itu berhasil menangkap dan melilit tubuh bagian perutku dengan erat. Keesokan pagi saat bangun tidur, darah sudah memenuhi kasur. Aku dinyatakan keguguran.
Lagi-lagi hati ini hancur, tetapi karena tekat yang kuat untuk mempunyai keturunan tidak menyurutkan nyali. Kali ini aku meminta seorang Ustad untuk mendampingi kehamilanku.
Ustad tersebut memintaku untuk selalu salat dan membaca ayat kursi beserta surah An-Naas saat hendak tidur. Mimpi itu tetap datang, tetapi kali ini bukan aku yang dikejar melainkan Mas Yusuf.
Aku menceritakan kejadian mimpi tersebut kepada Ustad.
“Suamimu yang sudah bermain-main dengan siluman laknat itu, Ndah,” ungkap Ustad membuatku terkejut.
“Maksudnya, Bah. Suamiku bermain-main bagaimana?” tanyaku tidak mengerti.
“Kau tanyakan saja pada Yusuf. Apa yang sudah iya lakukan?!” Wajah Ustad yang kupanggil Abah ini terlihat tidak suka saat menyebut nama Mas Yusuf.
Ada apa dengan Mas Yusuf? Aku harus minta pengakuan darinya. Mengapa Abah mengatakan Mas Yusuf yang sudah bermain-main?
Mas Yusuf harus mau mengakui apa pun kesalahannya.

Komentar Buku (165)

  • avatar
    Kilauanpena

    Jangan lupa Mampir dan saling dukung

    06/04/2022

      4
  • avatar
    Restu

    mantap

    14d

      0
  • avatar
    Anda Jasaku

    seru

    21/04

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru