Beranda/Karena Hinaan, Aku Pesugihan (Bersekutu dengan Siluman Ular)/
Karena Hinaan, Aku Pesugihan (Bersekutu dengan Siluman Ular)
Dessy Mertha S
Bab 1 Penghinaan Dina
“Dasar si malas! Bisanya cuma hutang-hutang mulu. Emang orang tuamu pikir ini warung gak perlu modal apa!?” Aku hanya terdiam mendengar ocehan Bu Marni, pemilik warung biasa tempat kami berhutang. Tiada satu kata pun yang terucap untuk membela diri. Karena kami memanglah selalu berhutang. Belum sempat hutang yang lalu terbayar, kami harus berhutang lagi. Namun apalah daya, pekerjaan orang tuaku hanyalah seorang pemulung. Bukan! Bukan tak ingin mencari pekerjaan yang lebih layak. Namun, sulitnya lapangan pekerjaan dan ditambah tiada satu orang pun yang mau menerima orang tuaku bekerja. Alasan mereka kami orang miskin, memperkerjakan kami sama saja memelihara maling. Entah, mengapa mereka berpikir demikian? Aku, Dina. Anak dari keluarga yang memang miskin. Umurku saat ini sudah menginjak lima belas tahun. Aku sulung dari lima bersaudara, yang mana keempat adikku masih kecil-kecil. Sekolah? Jangan ditanya. Sekolah dasar pun aku tidak lulus. Syukur-syukur bisa membaca dan menulis. Sehari-hari pekerjaanku membantu mengurus adik. Sesungguhnya ingin sekali bekerja mendapatkan uang untuk orang tuaku. Agar mereka tidak susah payah lagi memulung yang hasilnya tidak pernah mencukupi. Namun, predikat miskin seakan membuat orang enggan mendekati. “Hei, bilang sama orang tuamu kalau belum bayar hutang yang kemarin jangan hutang di sini!” Sambil menunjuk-nunjuk wajahku Bu Marni semakin murka. “Ta—Tapiii, Bu ....” “Gak ada tapi, tapi! Sudah sana pergi atau kuteriaki kau maling, biar habis kau dipukul warga.” Sambil tersenyum licik Bu Marni menyela kata-kataku. “Ini, bawa kertas catatan hutang ibumu. Bilang, kalau tak bisa bayar akan kusita gubuk reot kalian itu. Biarlah sekalian kalian jadi gembel.” Bu Marni melempar kertas ke wajahku, isinya catatan hutang-hutang kami selama ini. “Ta—tapi maaf, Bu. Kenapa hutang kami sebanyak ini?” Sambil terbata aku menanyakan jumlah hutang yang tidak sesuai. “Iya. Itu jumlah bunganya. Kalau aku tak memberi bunga sama hutang-hutang kalian, bisa rugilah aku. Entah kapan kalian akan lunasi hutang-hutang itu, kan? Bunga aku hitung per hari!” Tawa kepuasan Bu Marni menggelegar di warungnya yang sedang ramai. “Sudah, sana pergi!” Bu Marni melempar tomat busuk tepat mengenai wajahku. Bulir-bulir hangat mengalir di pipi ini. Bukan karena lemparan tomat Bu Marni, tetapi sedih membayangkan akan makan apa keempat adikku hari ini. Satu-satunya warung tempat kami berhutang sudah enggan memberi hutangan. Bahkan kini, hutang kami diberi bunga olehnya. Kejam! Di perjalanan pulang aku terus memikirkan, apa yang harus kulakukan? Pastilah adik-adik di rumah sudah kelaparan. Hari sudah mulai siang, sejak pagi mereka belum makan. Ibu memintaku untuk pergi ke warung Bu Marni untuk berhutang beras saja. Masalah lauk, kami sering hanya makan pakai garam atau kecap. Namun, kali ini tak ada yang bisa kudapatkan. Malah catatan hutang yang kudapat. Ibu dan bapak pasti sudah pergi memulung, karena akulah yang akan mengurus adik. Kedua orang tuaku akan pergi memulung hingga sore bahkan malam hari. Terkadang mereka akan membawa makanan sisa yang didapat dari memulung. Akan tetapi, sekarang adikku akan makan apa? Tidak mungkin mereka akan menunggu ibu dan bapak pulang. Air mataku semakin luruh memikirkan nasib mereka yang pasti sudah sangat lapar. Seketika Aku teringat dengan Pak Yusuf, tetangga satu-satunya yang sering membantu kami. Sayangnya kehidupan Pak Yusuf juga tidak bisa dibilang layak. Namun, ia cukup dipandang oleh warga. Hingga terkadang banyak orang yang sering memberi bantuan terhadapnya. Pak Yusuf hanya tinggal berdua dengan istrinya. Mereka mempunyai dua anak, jika saja masih hidup. Sayangnya saat kecil anak mereka meninggal karena dipatuk ular, begitu cerita warga. Entahlah, banyak yang bilang dulu Pak Yusuf adalah orang paling kaya di kampung ini. Namun, kini hartanya entah kemana. Banyak yang bilang harta Pak Yusuf disumbangkan dan ada pula yang dibuang. Hingga kini beliau memilih hidup seadanya. Semua itu tidak penting bagiku. Sekarang yang harus kulakukan pergi ke rumah Pak Yusuf untuk meminta beberapa buah singkong. Di halaman rumahnya banyak ditanami ubi kayu. Mudah-mudahan umbinya sudah membesar. Langkah kuperlebar agar segera tiba di tempat tujuan. Kasihan adik-adik, pasti sudah sangat mengharapkan kepulanganku. Setiba di depan rumah pak Yusuf aku mengetuk daun pintu yang terlihat sudah lapuk itu. “Dina. Ada apa, Nak?” Istri dari Pak Yusuf yang membuka pintu. Wajahnya teduh, tetapi terlihat ada kesedihan di sudut matanya. “Emmm ... maaf, Bu. Dina boleh minta singkongnya? Dina belum masak ... di rumah enggak punya beras.” Sedikit ragu dan malu aku meminta singkong kepada istri Pak Yusuf. Karena ini bukan yang pertama kali aku meminta. “Iya. Ambil saja, Nak. Ambil berapa pun yang kamu mau, tapi cabut sendiri, ya. Pak Yusuf lagi ‘gak di rumah,” jawab istri Pak Yusuf dengan sangat ramah. “Iya, Bu. Dina bisa kok. Boleh pinjam cangkulnya, Bu?” Aku sangat bersemangat. Biarlah walau harus mencabut sendiri yang penting adik-adik bisa makan meski hanya singkong. Lagi pula, mencabut singkong tidak terlalu sulit. Aku pasti bisa. Istri Pak Yusuf memberikan cangkul dan juga plastik. Ia ikut melihat aku yang mulai menggali singkong agar tidak terlalu berat saat nanti ditarik. “Hati-hati, Nak. Awas kena kaki,” ucap istri Pak Yusuf mengingatkan. Istri Pak Yusuf terlihat begitu keibuan. Kasihan sekali dia harus kehilangan anak-anaknya, bisikku dalam hati sambil sekilas menatap wajah teduhnya. Senyumku mengembang saat mencabut batang singkong yang isinya besar-besar. Cukup satu batang saja sudah dapat banyak singkong. Istri Pak Yusuf membantuku memasukkan ke dalam plastik. Terkadang kami sambil berbincang-bincang. Istri Pak Yusuf bercerita tentang anaknya. Jika anaknya masih hidup umurnya sebaya denganku. Aku hanya tersenyum mendengar cerita-cerita beliau. “Andai ular-ular itu tak datang ....” Seakan menerawang Istri Pak Yusuf mengingat suatu kejadian. “Ular?” Aku berhenti sejenak mendengar ucapan istri pak Yusuf. “Iya, Nak. Ular. Anak-anak Ibu dipatuk ular yang entah dari mana datangnya.” Sesungguhnya Aku penasaran dengan cerita istri Pak Yusuf. Namun, adikku pasti sudah menunggu dan kelaparan. Aku harus segera pamit. “Bu, maaf. Dina udah selesai. Dina mau pulang masak. Kasihan adik-adik pasti menunggu.” Rasa tak enak hati melihat wajah Bu Endah. Ia seakan ingin bercerita sesuatu hal kepadaku. Mungkin ingin mengurangi bebannya kehilangan anak. “Oh, iya pulanglah. Masak untuk adikmu dan bawa mereka main ke rumah Ibu nanti, ya.” Bu Endah mempersilahkan untuk pulang. Ya, mungkin nanti aku akan membawa adik untuk bermain ke rumah Bu Endah. Barang kali ia akan terhibur. Setelah mengucapkan terima kasih, aku bergegas untuk pulang. Namun, aku terus memikirkan kata-kata Bu Endah tentang anaknya yang dipatuk ular. Ada rasa penasaran akan cerita tersebut. Bagaimana bisa kedua anaknya sama-sama meninggal karena dipatuk ular? 🐍🐍🐍 Aku menyajikan singkong rebus kepada adik-adik. Walau hanya singkong yang direbus mereka terlihat lahap sekali. Mungkin karena sudah terlalu lapar menunggu makanan sejak pagi. Rasanya ingin sekali memberi makanan yang layak untuk mereka. Andai saja ada orang yang mau menerimaku bekerja. Aku bersedia melakukan apa saja untuk mereka. Pernah aku datang ke sebuah rumah orang kaya. Mereka sedang mencari orang untuk bekerja di rumahnya sebagai pencuci baju. Namun aku ditolak mentah-mentah, bukan pekerjaan yang kudapat malah hinaan dan cacian. Sakit, sungguh begitu sakit rasanya. Apakah orang miskin seperti kami tak layak walau jadi tukang pencuci baju? Padahal kami tidak pernah terbukti mencuri milik orang lain. Orang tuaku mengajarkan untuk selalu jujur. Akan tetapi, mengapa mereka beranggapan kami akan menjadi maling karena hidup digaris kemiskinan. Di kampungku banyak warga yang sudah hidup dengan layak. Namun, mereka tak pernah mau peduli dengan kami. Walau hanya memberi perkerjaan, mereka tak sudi. Hanya keluarga Pak Yusuf yang sering membantu kami. Seketika aku teringat Bu Endah, belum sempat kudengar semua ceritanya tadi. Tentang ular yang telah membuat anak-anaknya tewas. Seperti ada kejanggalan dalam peristiwa kematian kedua anaknya. Rasa penasaranku tak tertahankan lagi. Setelah selesai makan aku mengajak adik-adik bermain di rumah Bu Endah. Mungkin saja ia akan melanjutkan lagi cerita tentang tragedi kematian anaknya. Tentang ular-ular yang tadi dikatakan Bu Endah. Dari mana asalnya binatang melata yang telah merenggut kedua anak mereka.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
Jangan lupa Mampir dan saling dukung
06/04/2022
4mantap
15d
0seru
21/04
0Lihat Semua