*Author Pov* Buru-buru Langit masuk ke ruang kerjanya, senyumnya tak bisa lagi dibendung akibat rasa hangat di hati kala sang istri melemparkan senyum manis untuknya. Langit merasa dia sudah berhasil membuat Birunya sedikit lebih bahagia dari kemarin. Hari ini hanya mereka berdua di rumah. Ranti sang mama ikut dengan bi Hanum ke supermarket guna membeli dan memilih sayuran segar untuk kedua anaknya yang dalam masa proses pemulihan. Karena takut Biru sangat canggung dan tak nyaman ketika hanya dengannya, Langit berinisiatif menanyakan apa saja kesukaan Biru pada Bunda Halimah, dan Bunda dengan senang hati memberi tahukan semua yang Biru sukai dan tidak sukai pada menantunya itu. Setelah mendapatkan ide, Langit menelpon salah satu temannya yang bekerja di Gramedia untuk mengirimkan novel-novel terbaik mereka ke rumahnya. Tak butuh waktu lama, sang kurir yang membawa paketan novel pesanan Langit, datang. Pria itu lalu merapikannya di kamarnya yang sekarang ditempati sang istri, dan mungkin akan ditempati keduanya suatu hari nanti. "Semoga saja Biru suka dengan novel-novelnya, aamiin." Langit menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Pria itu meraih ponselnya, mencari salah satu kontak berharga di sana. Tangannya lincah km mengetik kata demi kata pada kolom sms. [Gimana? Suka ga? Atau mau cari judul lain?] sent to Biru. Ingin rasanya Langit mengganti kontak Biru menjadi istriku. Sayangnya, itu terlalu bahaya nanti, karena Laras sering membongkar ponselnya. "Pokoknya, aku harus secepatnya bereskan urusanku dengan Laras. Aku ga mau terus-terusan kaya gini," gumam pria itu. Sementara di ruang lain dalam rumah itu, seorang gadis hampir menangis, bahkan sudah berkaca-kaca karena setumpuk novel yang mungkin jumlahnya lima belas buku, dan yang paling membuat dia bahagia adalah novel itu ternyata novel yang pernah ia baca setengah-setengah di aplikasi berbayar yang terhalang koin. Biru tau koin itu adalah bonus untuk penulis, dia bukannya tak ingin membeli koin untuk baca novel. Tapi, selalu saja keperluan adik-adik panti lebih ia utamakan sehingga menyampingkan egonya, dan berakhir pada novel-novel geratis. Sekarang, yang ada di tangannya ada sebuah karya dari author favoritnya yang nama penanya sulit di sebut tapi ceritanya cukup memenuhi ruang rindu dan menghabiskan tisu satu bal ketika dibaca. Siapa lagi kalau bukan author cantik Hsntljannah, yang karyanya sudah terkenal di penerbit dan toko buku di mana-mana. "Wah inikan buku Marriage in hate yang sempat ku baca di aplikasi berbayar itu, mas Langit kok bisa kebetulan banget beliin buku ini. Tau aja aku ngefens sama authornya. Semoga aja authornya makin semangat nulis dan bisa nerbitin buku-bukunya, jadi aku ga perlu lagi baca di aplikasi berbayar dan terhalang koin, aamiin." Biru memeluk buku bersampul pink itu, dia kemudian membuka pembungkusnya. Senyum gadis itu tak bisa lagi disembunyikan. Tapi, niatnya membaca buku ia urungkan sejenak, dan langkah yang diambilnya sekarang adalah mencari sang suami untuk mengucapkan terima kasih sekali lagi. Buru-buru Biru melangkah ke arah pintu yang belum tertutup sempurna. Bertepatan juga sepasang mata yang tadi memperhatikannya secara diam-diam langsung pergi dari sana, buru-buru ia menuju karpet bulu di tengah ruangan seraya menghidupkan televisi, siapa lagi kalau bukan Langit yang pindah profesi sebagai penguntit istrinya sendiri. "Mas Langit!" Suara itu membuat pria yang pura-pura fokus pada tv, sedikit menoleh pada sumber suara. "Hmmm?" Biru semakin dekat, gadis itu duduk di ujung karpet bulu, tempat Langit merebahkan tubuhnya, pura-pura asyik dengan chanel yang sebenarnya tak ingin ia tonton. Jangan tanyakan lagi kabar jantung pria itu kala sang istri mendekat. "Makasi ya, Mas." "Buat apa lagi Biru?" tanyanya dengan lembut. "Buat... buku-buku yang Mas belikan untuk Biru." Langit segera berbalik, menatap manik mata teduh dan membuatnya tenang. "Kamu suka?" "Hmm," memasang senyum manis, "Suka banget, Mas. Itu semua novel yang pernah Biru baca di aplikasi berbayar. Tapi, ga pernah kelar-kelar, hehe." "Kok ga dibaca sampe selesai?" Langit antusias. "Itu udah masuk best sellernya di sana. Jadi dibaca harus pake koin. Biru ga pernah sempat beli koin." Lagi-lagi Biru terkekeh, sementara Langit memikirkan hal lainnya. "Ya sudah, kalau begitu kamu baca aja sampe habis, sekarang. Kalau nanti semuanya udah habis kebaca, kamu bilang aja ya. Nanti kita beli lagi, atau... beli koin banyak biar kamu bisa baca di aplikasi berbayar itu." Biru hanya membalas dengan senyuman. Tadi dia membawa buku bersampul pink itu keluar, dan akhirnya gadis itu menuruti permintaan Langit agar dia duduk membaca di sofa, sementara Langit masih asik dengan tv yang sebenarnya hanyalah alasan saja. Sesekali Langit melirik ke arah istrinya yang tak jauh darinya, andai saja perasaan mereka sama-sama saling diutarakan, pasti akan indah rasanya. Tak ada kecanggungan seperti sekarang ini. Sayangnya, kedua pemilik rasa itu sama-sama bungkam dan memilih mencintai dalam hati. Setiap gerak-gerik Biru mampu membuat Langit tersenyum, tentunya tanpa sepengetahuan sang istri. Seindah itukah cinta, sampai-sampai, hanya dengan melihat bulu mata Biru yang lentik turun naik saja mampu membuat Langit tak mampu menahan senyum manisnya. "Assalamualaikum....!!" Suara di depan pintu membuat dua orang itu sama-sama tersadar dari kesibukan masing-masing. "Wa'alakumsalam...!!!" Jawab keduanya bersamaan. Biru berniat bangkit untuk membukakan pintu kepada pemilik suara tadi. Namun, tangannya ditahan Langit. "Biar aku aja, kamu lanjutin aja bacanya." Biru hanya bisa mengangguk, sementara Langit yang sadar di mana tanganya segera melepaskan tangan gadis itu. "Maaf, aku.." "Tak apa, Mas," balas Biru dengan wajah sudah menampilkan rona merah. Langit yang canggung hanya tersenyum dan berlalu, membuka pintu untuk mamanya. Cklek!! "Astaga anak mama kok lama banget buka pintunya. Lihat nih, Bi Hanum kecapean bawa barangnya," omel Ranti setelah anak semata wayangnya itu menyalaminya. "Ndak ko, Nyah," sahut si bibik. "Maaf, Mah. Sini Langit bantu." "Ga usah, itu mama udah suruh mang Ujang buat bantu bawa masuk, kamu ikut mama yok!" Ranti menggandeng tangan putranya masuk, Biru yang ada di ruang tengah langsung bangun dan menyalami sang mertua dengan penuh hormat. "Anak mama lagi apa?" tanya Ranti mengulurkan tangannya pada Biru. "Lagi baca novel, Mah. Mas Langit beli novel banyak banget buat Biru," memasang senyum manis untuk dua orang itu. Langit hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Wah.... emang anak mama keren banget, tau aja yang buat Istrinya seneng. Jadi makin bangga deh mama." Ranti mencubit pipi Langit, membuat pria itu memanyunkan bibirnya akibat perih di pipi kanannya. "Biru gimana, Nak? Ada yang masih sakit atau gimana...gitu, ga?" "Alhamdulillah ga ada, Mah. Sakitnya dikit aja pas yang dijahit doang. Cuma, kata Mas Langit,Biru masih perlu istirahat. Ya kan, Mas?" "Hmm, ga boleh banyak gerak dulu." Ranti melihat jelas binar kebahagiaan di wajah putranya setiap kali gadis di depannya ini memanggil pria itu dengan panggilan mas Langit. Ranti tau bagaimana cintanya Langit pada sang istri, hanya saja dia tak bisa mengatakan apapun pada Biru karena Langit mencegahnya. Langit ingin Biru tau dengan sendirinya, bagaimana pria itu mencintainya dalam diam
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
Biaya 24 berlian
Keseimbangan: 0 Berlian ∣ 0 Poin
Komentar Buku (246)
Yu Ayuu Opi
Bagus banget ceritanya ,,
sedih,lucu, dan so sweet
08/05/2022
0
KusumaAlus Wirahadi
Novel ini adalah perjalanan emosional yang memikat, membangun dunia yang terasa begitu nyata hingga saya tenggelam sepenuhnya di dalamnya. Alur ceritanya mengalir indah, penuh kejutan yang tidak terduga, dan pembangunan karakterisasinya sungguh brilian. Protagonisnya memiliki kedalaman dan kompleksitas yang membuat pembaca benar-benar peduli pada nasib mereka. Setiap bab menyisakan jejak pertanyaan filosofis dan refleksi mendalam tentang kehidupan, cinta, dan pengorbanan. Ini adalah karya sastra
Bagus banget ceritanya ,, sedih,lucu, dan so sweet
08/05/2022
0Novel ini adalah perjalanan emosional yang memikat, membangun dunia yang terasa begitu nyata hingga saya tenggelam sepenuhnya di dalamnya. Alur ceritanya mengalir indah, penuh kejutan yang tidak terduga, dan pembangunan karakterisasinya sungguh brilian. Protagonisnya memiliki kedalaman dan kompleksitas yang membuat pembaca benar-benar peduli pada nasib mereka. Setiap bab menyisakan jejak pertanyaan filosofis dan refleksi mendalam tentang kehidupan, cinta, dan pengorbanan. Ini adalah karya sastra
24/11
0bguss
31/07
0Lihat Semua