Laras dan aku sudah ada di ruang tamu. Tadinya, aku tak ingin dia mampir tapi apalah daya jika dia merengek, dan aku sebagai tuan rumah harus menjamu nya. Bi Hanum datang saat aku memanggilnya untuk membuat minuman. Aku bisa lihat raut keterkejutan nya. "Bik, Biru di mana?" Tanya ku saat menyusul bi Hanum ke dapur. "Non Biru dan nyonya ada di belakang, Den." Aku mengusap wajah ku gusar, bagaimana kalau Biru tiba-tiba masuk, ini sungguh di luar dugaanku. "Ya Allah...bantu hambamu ini." Do'a terbaik kembali kurapalkan, seolah sedang mendapatkan masalah yang begitu berat. Ya ujian ku saat ini adalah menghadapi Laras. Dengan wajah yang berusaha ku atur seramah mungkin akhirnya aku kembali menemui Laras. "Beib, kamu kemana aja?" Beib! cih, aku muak mendengar nya. "Nyari Bi Hanum." "Ngapain?" "Kan dia lagi buatin kamu minuman, kamu kan ga suka kebanyakan gula dan aku kasih tau dia itu," ujar ku mencari alasan sekenanya. Derap langkah seseorang yang datang dari arah pintu belakang membuat jantungku berdegup kencang, aku panik. Bagaimana jika itu Biruku? Dia Biruku dan aku tak mau dia bertemu Laras. Dugaan ku benar,itu memang Biru. Dengan gamis warna Biru muda dan jilbab pink nya dia berjalan ke dapur. Sejenak dia menatapku entah dengan tatapan apa, aku sulit mengartikan nya. Kulihat dia tersenyum pada Laras sebelum masuk ke dapur. "Siapa dia? Kenapa aku baru melihat nya." Tanya Laras. Sudah kuduga dia akan bertanya akan hal ini sejak Biru masuk tadi. "Dia..dia..." "Dia anak saya, Non. Maaf, dia baru datang dari kampung." Huh...bi Hanum datang di waktu yang tepat. Hampir saja aku tak bisa menjawabnya. "Jadi kalian tinggal bersama di sini?" "Iya Non, maaf," ujar bi Hanum memelas seperti Laras adalah bos besar nya. Laras menatap ku tajam. "Kamu...jangan sampe macam-macam ya Langit. Ingat kamu hanya milikku dan jangan sampai anak pembantu kamu itu memikat kamu," tegasnya. Ingin sekali aku berteriak bahwa aku memang sudah terpikat cintanya. Tapi, aku sadar ini bukan saatnya. Laras menyeruput minuman nya dan buru-buru meletakkan nya. "Aduh Beib ini pembantu kamu gimana sih, kok asin gini," oekik nya kesal membuatku melongo. "Masak sih?" Ku seruput minuman Laras dan aku yakin bi Hanum sengaja melakukan nya. Minuman Laras asin, yang di masukkan tentu saja bukan gula, yah..kalian tau lah. "Ya udah lah, maafin ya. Tadi kan kau juga yang ganggu di sana," kataku menenangkan, berharap dia segera pergi dari rumah ku. "Hey kamu, tolong buatin aku minuman dong!!" teriaknya dan aku langsung menoleh pada seseorang yang dia perintah. Dada ku sesak, aku panas. Bagaimana bisa dia meneriaki Biru seperti itu dan meminta nya melakukan hal yang bukan seharusnya dia lakukan. "Saya?" tanya Biru menatap lembut wajah Laras. "Biar aku aja," jawabku cepat dan berdiri tapi Laras menahan ku. "Kamu suruh anak pembantu kamu itu aja, Beib!!" Ya Allah...kenapa dia memanggil dengan sebutan itu di depan istriku. Aku melihat Biru sebentar dan tanpa senyum dia langsung kembali ke dapur membuat minuman untuk Laras. Lidahku terasa kelu, aku bahkan merasa menjadi pria terbodoh di sini karena membiarkan Laras semena-mena terhadap istriku. "Ini, silahkan diminum." Suara lembut itu seolah membangunkan ku dari mimpi buruk ku. "Nah, gini. Oh ya nama kamu siapa?" "Saya Biru." "Biru? mmm cocok sih, kamu kan dari kampung jadi namanya begitu. Oya, Biru aku mau ingetin ke kamu jangan sampai goda pacar aku ya," ujarnya. Suara Laras bagai sembilu yang menyayat hati. Aku menatap Biru dan menggeleng entah untuk apa. tapi kalian harus tau dia benar-benar malaikat. "Insyaallah, Mbak. Mbak jangan khawatir ya," jawabnya dengan dengan lembut. "Bagus." Entah kenapa aku semakin sedih saat Biru mengatakan itu meskipun dengan cara itu Laras bisa menghilangkan curiganya. Aku berharap Biru tak sungguh-sungguh dengan ucapannya itu karena aku berharap dia bisa mencintai ku sepenuhnya. Beberapa saat berlalu, Biru masih ada di depan Tv aku ga ke pedean tapi aku yakin Biru dari tadi curi-curi pandang pada kami. "Ya udah Beib, aku pulang dulu ya. Pokoknya kamu harus ingat, jaga mata dan jaga hati kamu buat aku." Aku hanya bisa mengangguk mengiyakan, dia mengatakan nya depan Biru. Apa yang harus ku katakan pada Biru nanti, bisa-bisa dia menganggap ku pria ga bener dan... Cup. Sial!!! Hatiku bergetar saat Laras tiba-tiba saja mencium ku di depan Biru, apalagi ini, ya Allah...maafkan aku. Hamba malu pada Mu, hamba malu pada istri hamba, hamba malu pada diri sendiri yang tak bisa menjaga diri dari wanita lain. "Byee." Laras sudah tak terlihat lagi karena mobil nya sudah hilang dari pekarangan rumah. "Siapa, Nak?" Mama mengagetkan ku saja,aku menghela napas berat. "Laras." "Apa!! Jadi tamu kamu wanita itu!! Terus gimana? Apa dia tau kamu sudah menikah?" Mama begitu panik dan aku tau maksudnya. "Mama tenang aja, nggk kok. Masih aman. Tapi..." ah sial, dia menciumku tadi. "Tapi apa, Langit." "Langit ga enak sama Biru mah. Laras tadi nyium Langit depan Biru," kataku dengan kepala tertuduk. Mama menutup mulutnya dengan kedua tangan, aku tau mama pasti kaget. Selama ini aku selalu menghindar dari ciuman Laras tapi pada akhirnya dia selalu dapat mencuri ciuman. "Tau ah Nak, mama pusing. Pokonya mama mau kamu secepatnya beresin urusan kamu dengan perempuan itu dan bangun rumah tangga dengan Biru." "Iya Mah, Langit akan usahakan." Mama menepuk bahu ku menguatkan, aku tau mama ingin aku bahagia dengan Biru. "Mah, Langit mau temuin Biru ya." "Silahkan, kamu sedikit-demi sedikit harus bisa buat Biru cinta sama kamu dan kamu Lepas dari Laras." "Iya Mama sayang..." Aku mengecup pipi mama yang selalu mendukung ku setiap langkah, aku bangga memiliki beliau. Apalagi aku hanya ada mama tanpa papa. Biru masih sibuk dengan chanel yang di tonton. Aku memilih duduk di sampingnya. Dia menoleh menatap ku sejenak. Namun, saat aku menatap nya dia langsung menunduk dan beberapa saat kembali menatap tv. "Maaf ya, Mas." Itu akhirnya yang keluar dari bibirnya. "Maaf? Untuk apa?" Harus nya aku, Biru. Aku yang seharusnya minta maaf pada mu, bukan sebaliknya. "Maaf karena sikap ku yang menjaga diri waktu itu, Mas harus berkorban menikahiku. Padahal sudah punya pacar." Aku menatapnya lekat, kata-kata Biru membuat ku ingin berkata bagaimana perasaan ku sebenarnya. Tapi, jika aku katakan bagaimana dengan Biru? Bagiamana jika dia sebenarnya tak mencintai ku atau malah sudah mengharapkan orang lain sebagai imamnya. "Sudahlah, jangan dipikirkan. Maaf ya, karena aku ga bisa kenalkan kamu sebagai Istriku di depan Laras, aku..." "Ga pa-pa, Mas. Biru ngerti, di sini Biru hanya Istri yang menerima bantuan Mas dan Biru ga mau mbak Laras kecewa sama Mas karena menikahi wanita lain." Kata-kata Biru seolah menjadi sembilu yang menyayat hati ku, dia begitu menjaga perasaan orang lain sementara aku? Aku tak bisa menjaga perasaannya. "Terima kasih atas pengertiannya," kataku lirih, sangat lirih karena aku sebenarnya tak sanggup mengucapkan itu. Aku ingin mengatakan semua ini hanya sementara Biru. Tapi, apalah daya ku yang terjebak dalam hubunganku dengannya. Aku tak akan biarkan Laras menyakiti mu maka satu-satunya cara untuk membuat kamu aman adalah dengan cara ini sayang... Maafkan aku. _____ "Cinta kadang harus butuh banyak pengorbanan untuk melihat yang kita cintai bahagia, dan salah satu caranya adalah mengorbankan perasaan." _Langit._
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
Biaya 26 berlian
Keseimbangan: 0 Berlian ∣ 0 Poin
Komentar Buku (246)
Yu Ayuu Opi
Bagus banget ceritanya ,,
sedih,lucu, dan so sweet
08/05/2022
0
KusumaAlus Wirahadi
Novel ini adalah perjalanan emosional yang memikat, membangun dunia yang terasa begitu nyata hingga saya tenggelam sepenuhnya di dalamnya. Alur ceritanya mengalir indah, penuh kejutan yang tidak terduga, dan pembangunan karakterisasinya sungguh brilian. Protagonisnya memiliki kedalaman dan kompleksitas yang membuat pembaca benar-benar peduli pada nasib mereka. Setiap bab menyisakan jejak pertanyaan filosofis dan refleksi mendalam tentang kehidupan, cinta, dan pengorbanan. Ini adalah karya sastra
Bagus banget ceritanya ,, sedih,lucu, dan so sweet
08/05/2022
0Novel ini adalah perjalanan emosional yang memikat, membangun dunia yang terasa begitu nyata hingga saya tenggelam sepenuhnya di dalamnya. Alur ceritanya mengalir indah, penuh kejutan yang tidak terduga, dan pembangunan karakterisasinya sungguh brilian. Protagonisnya memiliki kedalaman dan kompleksitas yang membuat pembaca benar-benar peduli pada nasib mereka. Setiap bab menyisakan jejak pertanyaan filosofis dan refleksi mendalam tentang kehidupan, cinta, dan pengorbanan. Ini adalah karya sastra
24/11
0bguss
31/07
0Lihat Semua