logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bluesky

Bluesky

Hasniatuljannah


Bluesky 1

Hujan sudah mereda setelah sekitar satu jam lamanya membasahi bumi yang kering. Kata pepatah memang benar,
hujan sehari bisa melebur panas setahun.
Ini adalah hujan pertama setelah musim panas yang berkepanjangan melanda tanah air Indonesia. Beberapa kendaraan kembali berlalu lalang di jalan raya tapi tidak semacet biasanya.
     Seorang pria dengan jas putih yang melekat di tubuhnya menyetir mobilnya dengan laju rendah sembari menikmati suasana alam yang damai setelah sang ilahi memberikan kesegaran pada dunia dengan rintikan hujannya.  Saat menoleh ke sebelah kanannya,pria itu harus di kejutkan dengan ambulance yang melaju kencang. Tanpa pikir panjang dia langsung tancap gas mengejar ambulance itu. Satu hal yang ada di pikiran nya adalah menyelamatkan nyawa siapapun yang ada di dalam sana karena di bagian belakang ambulance bertuliskan nama sebuah rumah sakit yang sangat dikenalnya
'Julians Medika Hospital'.
Ambulance berhenti tepat disana disusul dengan mobil Avanza hitam itu. Suster dan perawat menyambut kedatangan mereka dengan membawa kereta dorong khas rumah sakit. Pria tadi kaget melihat seseorang yang keluar dari badan ambulance dengan mata sembab dan memanggil nama seseorang yang sangat di kenalnya.
"Kamu harus kuat nak," rintihnya dan mengikuti petugas yang mendorong anaknya ke ruang gawat darurat.
Langit langsung berlari menyusul agar dia bisa menangani pasien tersebut.
"Dok, kondisi pasien sangat kritis, dia pasien lama yang mengidap gagal ginjal," lapor seorang suster padanya.
"Siapkan alat-alat!" perintah sang dokter dan langsung masuk ke ruangan pasien itu.
Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah wajah pucat seorang gadis yang terbaring disana.
Suster membantu sang dokter yang diketahui bernama Langit, untuk memasang selang infus dan menusukkan jarum pada  tangan gadis itu.
Langit mengambil alat tensinya untuk mengecek tensi darah gadis itu, jika darahnya terlalu rendah maka akan dia campurkan penambah darah pada botol infus. Langit mendekati gadis yang masih merintih kesakitan dan lemah dengan  wajah pucatnya. Tangannya mengarah menyentuh gadis itu namun entah kekuatan dari mana gadis yang menjadi pasien itu menarik tangannya menjauh dari langit. Langit manatapnya penuh tanda tanya.
"Maaf...ti-tidak adakah Dokter perempuan di rumah sakit ini... saya..saya ingin di tangani oleh Dokter perempuan," lirihnya pelan tapi pasti membuat Langit menatap nya tak percaya.
Langit memberi kode pada suster untuk memanggil salah satu dari mereka yang gadis ini inginkan.
"Maaf Dok, semua Dokter perempuan sedang penuh dan yang tak menangani siapapun hanya Dokter saja." ujarnya setelah kembali.
Langit menatap gadis itu dengan perasaan cemas karena dia terus merintih kesakitan.
"Tolong biarkan saya menangani Anda, Dokter perempuan disini  sedang penuh di pasien lainnya," pinta nya dengan lembut bahkan sangat lembut membuat suster disampingnya keheranan karena ini seperti bukan Langit.
  Gadis itu menggeleng perlahan dengan sisa tenaganya.
"Tolong...pang..gilkan ibu saya.." rintihnya dan langsung di kabulkan Langit.
Wanita paruh baya itu menangis memeluk anak gadisnya sementara Langit dan suster diam menyaksikan mereka.
"Dia tidak mau di periksa oleh saya  Bu,kami sudah berusaha mencarikan Dokter perempuan. Namun, semua Dokter sedang sibuk dan beberapa sedang izin." tuturnya panjang lebar.
"Nak..ayolah, untuk kali ini saja nak. Lagipula ini darurat." menatap manik mata yang sendu itu.
"Bu..maafkan Biru..Biru..takut..jika Biru biarkan tubuh Biru disentuh yang bukan mahram Biru, Allah akan murka pada Biru..lebih baik Biru tunggu saja sampai ada Dokter  wanita yang menangani Biru," lirihnya parau, bulir bening mengalir dari sudut matanya.
Beberapa saat Langit membiarkan kedua orang itu berinteraksi panjang lebar sementara dia dan suster  keluar meninggalkan mereka setelah meninggal pesan pada ibu gadis itu.
Hanya beberapa menit saja tiba-tiba ibu gadis tadi kembali menangis histeris karena putrinya kesakitan.
"Tolong... Dokter lakukan sesuatu."
"Tapi Bu, putri ibu sangat menjaga dirinya."
Langit sangat kagum pada gadis itu yang sudah di ujung nyawanya pun masih memikirkan tentang larangan Ilahi.
"Tolong Dok..." ibu itu terus memohon.
Langit mendekat tapi Biru menggeleng dan terus memegangi bagian perutnya yang terasa sakit. Langit mengusap rambut nya kasar, dia kebingungan.
"Baik,saya akan menikahi kamu setelah itu saya akan menangani kamu," ucapnya tegas.
Baik Biru dan ibunya kaget mendengar ucapan Dokter tampan itu.
"Saya serius Bu,saya akan halalkan putri ibu terlebih dahulu. Saya akan hubungi orang tua saya sekarang."
"Ta..tapi Dok.." Biru berusaha bicara tapi Langit mengisyaratkan dengan tangannya untuk diam sementara dia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang disana.
Beberapa saat seorang wanita paruh baya dengan pakaian modis datang bersama penghulu karena Biru sudah tak punya ayah maka wali nikah di wakilkan olehnya.
"Ini mama ku. Mah, ini dia yang Langit maksud." Langit menerangkan.
Ranti tersenyum pada Halimah yang menatap nya dengan tatapan tak percaya bahwa pria itu adalah anak sahabatnya.
"Mama setuju kok," ujar paruh baya itu dan mengecup kening putranya.
Biru semakin merintih kesakitan. Tapi, ada perasaan lain yang sekarang memenuhi hatinya.
Pernikahan berlangsung disana, diruang UGD tempat keberadaan Biru.
Hanya dengan satu tarikan napas, Langit bisa menyebutkan nama Biru dan mendengar kata sah dari semua orang.
Setelah akad selesai mata biru  terpejam karena kesadaran nya sudah hilang, suasana yang tadi tenang kembali panik. Langit yang sekarang sudah resmi menjadi suami dari gadis itu dengan leluasa memeriksa nya dibantu oleh suster.
Namun, tak lama  dia keluar dari ruangan  itu dengan wajah belum tenang dan disambut oleh orang-orang di luar ruangan.
"Bagaimana keadaan Biru Nak?"
"Ginjal Biru semakin memburuk," jawabnya membuat ibu itu menangis pilu.
"Kita harus segera melakukan operasi pencangkokan ginjal untuk menyelamatkan nya."
Ranti menenangkan Halimah yang semakin terisak, Biru memang bukan anak kandung nya, tetapi dia sangat menyayangi gadis itu. Biru besar bersama anak-anak lainya di panti dan di besarkan oleh Halimah selaku ibu panti.
"Dimana kita akan dapatkan donor ginjal secepat ini... hiks..," rintihnya pilu.
Langit mendekati wanita paruh baya itu dan berusaha menenangkan.
"Ibu tenang saja, saya akan bertanggung jawab atas dia."
Ranti sangat paham siapa putra nya, anak laki-lakinya itu  tak akan berani berjanji jika tak memikirkan cara untuk menepati.
"Mah, Langit perlu bicara dengan Mama," ujarnya menatap sang mama yang terlihat sendu dan berlalu lebih dulu.
**
    "Kamu yakin Nak dengan keputusan kamu ini?" Ranti ragu-ragu.
"Yakin Mah, tak ada cara lain. Kita ga punya banyak waktu untuk selamatkan dia, sekarang Mama coba telpon Salsa untuk bantu kita."
Ranti mengehela napas pelan dan menuruti kemauan putranya.
Dia menelpon keponakannya yang juga berprofesi sebagai seorang dokter untuk membantu Langit menangani gadis yang baru saja menjadi menantunya, meskipun dia masih ragu. Tapi, putranya selalu berusaha meyakinkan sang mama.
  
     Salsa yang  bekerja pada salah satu rumah sakit di Bandung harus dengan berbesar hati menuju Jakarta untuk memenuhi permintaan sang tante.
Mereka semua menunggu kedatangan gadis itu. Selama salsa belum datang, Langit memberikan obat penenang pada gadis itu agar bisa beristirahat sebelum operasi dimulai.
"Lo buat ulah lagi pasti ya?" tuduh Salsa memukul bahu Langit.
"So tau..!"  Langit ketus.
"Terus...? Kenapa tante minta gue ke sini dadakan, hah?"
"Nanti gue cerita, ceritanya panjang.. banget, sekarang mendingan lo istirahat aja biar nanti bisa fokus."
"Okay, gue istirahat tapi sambil lo jelasin semua nya dulu, biar gue ga kaya orang bodoh nih. Lo ga kasian gue jauh-jauh dari Bandung ke sini demi lo?!"
Langit menghela napas berat, sepupunya ini memang tukang maksa. Mereka berjalan ke ruangan yang akan gadis itu tempati selama di Jakarta, dan Langit harus  menceritakan apa yang sudah terjadi padanya sebelum kedatangan Salsa.
"Jadi lo udah nikah?!!" Salsa menutup mulutnya kaget saat mendengar itu.
"Iya."
"Pacar lo si mak lampir itu gimana?" Salsa antusias karena dia memang tak suka pada gadis yang selalu manja dan memaksakan kehendaknya pada sepupunya itu, yang buat dia tambah kesal Langit mau saja bertahan dengan perempuan bernama Laras yang menjadi kekasihnya itu.
"Laras belum tau ini, dan gue pasti akan kasi tau dia secepatnya. Gue udah ga tahan juga sama dia."
"Lagian elo si pacaran sama nenek sihir, semoga gadis yang lo nikahin dadakan ini jauh lebih baik dari dia."
Langit mengamini ucapan Salsa karena dia berharap itu benar-benar terjadi. Pernikahan baginya hanya sekali seumur hidup, tak ada kedua, apalagi ketiganya. Pernikahan adalah sesuatu yang sakral, janjinya dengan Tuhan. Meskipun pernikahan ini dadakan, tetapi dia bersungguh-sungguh menjalaninya.
Langit meminta Salsa beristirahat selama dua jam, karena jam empat nanti, mereka akan melaksanakan tugas mereka.
***
Pada jam lima sore, mereka sudah menyelesaikan operasi. Operasi berlangsung lancar setelah beberapa saat mengalami situasi menegangkan.
Halimah mengusap kepala putri nya yang tertutup hijab setelah dipindahkan ke ruang rawat.
Langit tersenyum puas karena berhasil menyelamatkan gadis itu, mamanya berkali-kali mencium kening putranya yang tengah duduk di atas kursi roda.

Komentar Buku (246)

  • avatar
    Yu Ayuu Opi

    Bagus banget ceritanya ,, sedih,lucu, dan so sweet

    08/05/2022

      0
  • avatar
    KusumaAlus Wirahadi

    Novel ini adalah perjalanan emosional yang memikat, membangun dunia yang terasa begitu nyata hingga saya tenggelam sepenuhnya di dalamnya. Alur ceritanya mengalir indah, penuh kejutan yang tidak terduga, dan pembangunan karakterisasinya sungguh brilian. Protagonisnya memiliki kedalaman dan kompleksitas yang membuat pembaca benar-benar peduli pada nasib mereka. Setiap bab menyisakan jejak pertanyaan filosofis dan refleksi mendalam tentang kehidupan, cinta, dan pengorbanan. Ini adalah karya sastra

    24/11

      0
  • avatar
    sandra233nadia

    bguss

    31/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru