logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 3 IKHLAS

Kusuma menghembuskan nafasnya, jauh lebih pelan daripada menariknya tadi. "Ya pasti, Nak. Ibu sayang sama Bayu. Sayang sekali, cah bagus 'gitu kok. Masa iya 'ndak sayang?"
Rinda tersenyum mendengarkan jawaban Kusuma. Matanya yang kosong tampak seolah memandang ke batas cakrawala padahal, tidak satu pun pemandangan yang tampak indah bisa tertangkap matanya. Rinda hanya menatap ruang hampa.
"Ibu dan bapakmu itu ya sayang sekali sama Bayu. Kami juga sedih sama apa yang terjadi, Rin. Menyesalkan, tapi ya begitu abdi negara, Nak. Bayu itu pergi dengan kehormatan, mulia, Rin. Gugur ketika sedang berbakti."
Rinda mengangguk mendengarkan semua ungkapan Kusuma tentang Bayu. Pikirannya membayangkan betapa gagahnya Bayu dulu dalam seragam prajurit, tegap dan memiliki sikap sempurna.
"Bayu sendiri pasti mau Rinda itu senang, bahagia. Pasti mau Rinda melanjutkan hidup. Bukan berarti kita berhenti sayang sama Bayu, tapi suratannya Bayu untuk berdampingan di kehidupan ini sudah selesai. Bayu juga pasti akan tenang kalau tahu Rinda sudah bahagia."
Kusuma mengalihkan pandangannya pada putrinya. Rinda pun balas menatapnya. Sejenak, lalu mengangguk. "Iya, Bu."
Kata-kata singkat itu mengakhiri semua pertanyaan Rinda tentang perasaan Kusuma terhadap Bayu. Rinda meraih gelas kopi di hadapannya, kemudian meminumnya sampai habis.
"Kita pulang, Bu? Tadi ibu diantar Pak Tarno?" tanya Rinda sambil berdiri dan membenarkan bagian bawah kemeja putihnya yang terlipat.
"Iya, tapi ibu suruh pulang duluan saja waktu ibu lihat mobil Rinda di parkiran tadi," jawab Kusuma.
Rinda mengangkat tas biola yang tadi ditaruhnya di meja. Kusuma sudah berjalan lebih dulu ke meja kasir. Melihat ibunya sudah beranjak, Rinda pun mempercepat langkahnya.
"Berapa, Mas? Meja yang disana," ujar Kusuma pada lelaki kekar yang sedang berdiri di belakang meja kasir, tangannya menunjuk ke arah meja dan kursi yang tadi diduduki bersama Rinda.
"Eh, Bu Kusuma. Mbak Rinda, sampai disusul ibu, lho," sapa lelaki itu. Senyum ramahnya memang selalu tidak sinkron dengan perawakannya.
"Iya, Mas Andri, sekali-sekali nongkrong sama ibu," jawab Rinda. Rinda mengeluarkan selembar uang seratus ribu rupiah untuk membayar nota yang diberikan lelaki pemilik cafe itu.
Lelaki itu mengambil kemudian memberikan kembalian pada Rinda. "Sampai ketemu besok, Mbak Rin, hati-hati di jalan." Rinda hanya melempar senyum sembari berbalik mengikuti sang ibu.
Rinda dan sang ibu langsung berjalan ke mobil. Udara semakin dingin seiring malam yang semakin larut. Rinda dan Kusuma segera naik ke mobil.
Jarak Bukit Paralayang ke rumah mereka yang ada di tengah Kota Yogyakarta cukup jauh, harus menempuh empat puluh lima menit perjalanan. Di perjalanan, tak satu pun kata keluar dari mulut Rinda kalau Kusuma tidak bertanya lebih dulu.
Biasanya, masih banyak cerita yang bisa keluar dari bibir gadis itu. Hanya saja, hari ini perasaannya memang lebih berat daripada hari-hari biasanya.
Mobil yang dikemudikan Rinda sudah memasuki halaman rumah mereka. Rumah besar bernuansa etnik khas Yogyakarta. Rinda menghentikan mobil tepat di samping pendopo pada bagian depan rumah.
"Itu Bapakmu udah 'nunggu," ujar Kusuma memandang suaminya yang tadi sedang berdiri di pendopo itu, tampak resah mengamati pintu gerbang pagar rumah mereka. Rinda tersenyum kecil, kemudian turun dari mobil. Begitu pula dengan Kusuma.
"Ibu sama anak ini dari mana, toh? Bapak dari tadi ditinggal sendiri," sambut Arya yang sudah tersenyum sejak melihat mobil Rinda memasuki halaman.
"Maaf terlambat, Pak. Bapak udah makan malam?" tanya Rinda, tangannya menyalami dan menempelkan tangan Arya ke keningnya. Rinda memang enggan menjelaskan dari mana kedatangannya bersama Kusuma. Selain itu, ia tahu bahwa Arya tentu juga sudah mafhum dari mana sebenarnya Rinda datang.
"Iya, 'ndak apa. Bapak belum makan, 'nunggu kalian. Mana bapak bisa 'nelan kalau makan malam 'ndak sama-sama." Arya memang selalu menikmati makan malam bersama istri dan putrinya. Di tengah kesibukan mereka masing-masing, makan malam jadi satu-satu waktu yang paling dinanti untuk berkumpul bersama.
"Iya Pak, kami juga belum makan di luar. Cuma minum kopi saja," ujar Kusuma yang menyambut rangkulan suaminya.
"Udah, kalian kalau mau mandi, ya mandi dulu. Bapak biar 'nunggu lagi." Arya mengikuti putri dan istrinya masuk ke dalam rumah. Pikirannya sudah tenang, istri dan anaknya sudah sampai di rumah dengan selamat.
Rinda langsung masuk ke dalam, menuju kamarnya. Dia segera mandi agar lebih segar, angin laut yang mengandung garam itu selalu membuat tubuh terasa lengket. Mandi setelah pulang dari Bukit Paralayang tentu juga sudah menjadi ritual Rinda setiap malam.
Selesai mandi dan berpakaian, Rinda segera keluar dari kamarnya langsung menuju ruang makan. Arya ternyata sudah duduk di meja makan, membaca lembar koran harian. Mendengar Rinda menggeser kursi makan di hadapannya, Arya segera melipat koran itu.
"Sudah segar?" tanya Arya sambil melepas kacamata dan memasukkannya ke dalam kotak kacamata.
"Sudah, Pak," jawab Rinda. Matanya memperhatikan makanan yang sudah tersaji di meja, perutnya memang terasa lapar. Sayur sop dan sambal goreng hati sudah tersaji.
"Rin, jadi besok malam sudah mau bertemu Arkana dan keluarganya, toh?" tanya Bapak pelan.
"Iya, Pak," jawab Rinda. Arya membaca ada keteguhan yang dipaksakan dalam raut wajah putrinya.
Tidak jauh berbeda dengan Kusuma. Arya sebenarnya juga tahu kalau Rinda tengah memaksakan hati untuk menerima perjodohan ini.
"Sudah, Pak. Tadi ibu sudah bilang ke Rinda, kok. Besok Arkana datang sama orang tuanya." Kusuma datang dari arah dapur membawa sepiring ayam goreng, diikuti oleh Mbak Prih, asisten rumah tangga mereka yang membawa tempe goreng dan sambal bawang.
"Makan sini, Mbak," ujar Kusuma pada Mbak Prih setelah meletakkan dan menata piring-piring saji berisi makanan.
"Aku di belakang saja, Bu. Sama yang lain," jawab Mbak Prih diiringi senyum sambil berlalu. Sudah pasti pelayan setia di rumah keluarga Rinda itu akan menolak. Bagaimanapun majikannya menawari, dia akan tetap menolak sebagai tanda rasa hormat.
"Iya, berarti besok Ibu 'ndak ke galeri ya? Persiapan kedatangan keluarga Wijaya," lanjut Arya.
"Iya, besok ibu siapkan. Udah ibu rencanakan, seperti dulu saja ya, Pak?" ujar Kusuma sambil mengisi piring Arya dengan nasi dan lauk pauk.
Acara perkenalan keluarga ini tentunya memang bukan kali ini saja terjadi. Di masa lalu, keluarga Wijaya juga sudah pernah datang, membawa Bayu untuk melamar Rinda, yang dilanjutkan dengan pertunangan mereka.
Besok malam, keluarga itu akan datang kembali. Kali ini membawa anak lelaki mereka yang lainnya. Sudah ada permintaan dari Hardian sendiri, mereka tidak ingin jarak antara seluruh pesta lamaran sampai pernikahan berlangsung lama. Trauma keluarga Wijaya atas kehilangan Bayu juga sebenarnya tampak jelas.
"Kenapa harus sama Arkana ya, Pak?" Pertanyaan itu sama sekali bukan ditujukan untuk menolak, hanya sekedar mempertanyakan. Pertanyaan pun, sebenarnya bukan ditujukan oleh Rinda kepada ayahnya, tapi kepada Sang Pemberi Hidup, pemberi garis nasib. Hanya saja, pertanyaan itu dilafalkan di hadapan kedua orang tuanya.
Bagi Arya, sebenarnya menerima permintaan keluarga Wijaya juga bukan melulu soal hutang budi. Arya memang sudah kenal lama dengan Hardian Wijaya. Mempercayakan anak gadisnya memasuki keluarga Wijaya yang sudah dianggap saudara sendiri, baginya lebih melegakan. Selain itu, Arya tentunya juga menginginkan Rinda menikah dan melanjutkan hidup berumah tangga seperti anak perempuan lainnya.
"Rin, kadang itu, ada sesuatu yang kita pilih, tapi ternyata tidak untuk kita. Ada yang tidak kita pilih, tapi diberikan untuk kita. 'Nerimo ya Rin, ikhlas. Rinda sudah ikhlas melepas Bayu, kan? Sekarang waktunya Rinda ikhlas menerima Arkana. Bapak memang belum pernah ketemu Arkana langsung, tapi melihat Bayu yang seperti itu dari didikan keluarga Wijaya, ya kurang lebih Arkana pasti juga begitu."
"Ikhlas ... mudah diucapkan, tak mudah dilakukan, apalagi ketika itu hanya satu-satunya pilihan, Pak." Jawaban itu tak pernah disuarakan Rinda, hanya menggema di ruang batinnya. Sementara yang terlihat dari luar, Rinda hanya tersenyum dan mengangguk kecil, menyantap makan malamnya.

Komentar Buku (23)

  • avatar
    gabatjshua

    good

    24/08

      0
  • avatar
    AchmadRezky

    ceritanya bagus tapi lanjutannya mana ?

    28/05/2025

      0
  • avatar
    Aprilisa Anggun Dwi Ardiyanti

    keren

    16/03/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru