Kami berangkat sangat pagi. Takut alamat sulit ditemukan atau jalanan macet, kendala di jalan kita tidak mengetahui jadi aku dan ayah sepakat berangkat mengawali. Bermodal map di ponsel, aku menjadi petunjuk arah bagi ayah. Sampai di suatu rumah, kami mulai bimbang dan ragu. "Benar alamatnya di sini, Nis?" "Benar, Yah. Tapi kok rumah ya, sebentar Nisah tanya dulu ke penjaga." Aku bertanya pada satpam yang berjaga di depan rumah. Dia mengatakan kalau alamat yang tertera memang benar adanya. Waktu aku bertanya lagi perihal lowongan pekerjaan, satpam tidak tahu menahu. Terlihat dia menelepon seseorang kemudian mempersilahkan aku masuk ke dalam. Busyet! Jalan dari tempat penjaga sampai ke rumah lumayan kalau jalan kaki. Untungnya ayah membawa motor. Aku dan ayah hanya bisa saling memandang dan terkesima dengan luas pekarangan, apalagi ketika sampai di depan rumah yang sangat besar. Kami seperti orang tersesat. Ayah mengedarkan pandangan, kemudian memarkir motornya tidak jauh dari kami berdiri. "Nis? Benar kan ini?" Tanya ayah ragu. "Benar, Yah. Satpamnya bilang begitu," aku masih sibuk membuka chat wa dengan pewawancara kemarin. "Ini hotel apa restauran? Atau rumah?" tanya ayah lagi. "Nisah nggak tahu juga, Yah." "Mari, silahkan masuk!" Seorang pria berpakaian jas hitam mempersilahkan kami masuk ke dalam. "Sebentar, anda ibu Anisah bukan?" Dia berhenti tepat sebelum kami masuk melewati pintu besar. "Iya, Pak!" Jawabku cepat. "Lalu, anda?" Tanyanya menunjuk pada ayah. "Ah, maaf. Beliau ayah saya yang mengantar dan membantu saya menemukan alamat ini." "Oh, ayah anda bisa tunggu di kursi itu." Tunjuknya pada kursi yang berjejer pada teras. "Sudah, masuk saja. Ayah tunggu di sini." "Iya, yah. Jangan kemana-mana, kalau ada apa-apa, Nisah akan teriak. Ayah cepat masuk ya?" Ucapku setengah berbisik. "Tenang saja, anda hanya akan melakukan training kerja di sini. Saya pastikan aman," jawab pria berjas dengan tersenyum. "Ah, iya," ujarku canggung. Kami melewati ruangan yang aku perkirakan adalah ruang tamu. Cukup luas, mungkin seukuran rumahku. Lampu hias besar menggantung di tengah. Sangat indah. Rumah ini bak istana. Melewati tangga kami menuju ruang makan. Tatanan khas eropa, kursi makan tertata rapi dan estetik. Setelahnya terdapat ruangan yang juga tidak kalah luas. Dapur. Alamak, dapurnya seluas ini bisa dipakai main bola. "Silahkan duduk, Bu. Saya akan menjelaskan beberapa peraturan." "Pertama, anda akan bekerja di sini sebagai kepala koki. Tiga orang itu yang akan membantu anda menyiapkan segala keperluan yang dibutuhkan dalam urusan dapur. Pemilik rumah ini adalah tuan Danish Arta, pimpinan Tiga Arta Utama. Apa anda tahu?" "Maaf, saya tidak tahu, Pak," jawabku ragu. "Ok, baiklah. Coba nanti digoogling saja. Yang kedua, anda akan bekerja di sini selama 6 hari kerja, bisa mengambil libur pada hari Minggu karena tuan biasanya akan keluar negeri pada hari itu. Atau anda bisa libur agak lama karena tuan dinas keluar kota atau keluar negeri. Sampai sini masih bisa dipahami?" "Sebentar, Pak. Jadi kerja saya di sini tergantung tuan Danish?" "Ya. Ada lagi?" "Sudah, Pak." "Yang ketiga, anda akan digaji dua kali UMR kota ini, akan mendapat tambahan kalau tuan puas dengan masakan anda. Paham?" "Paham." "Yang ketiga, anda harus tidur di sini, karena akan melayani sarapan dan makan malam, untuk menu tolong manjakan lidah tuan kami, karena kontrak anda tergantung penilaian langsung dari beliau. Sampai sini bisa dimengerti?" "Saya harus tidur di sini?" "Ya, kamar sudah kami siapkan." "Mmmm, saya belum membawa baju-baju saya. Lalu, ayah masih menunggu di depan." "Untuk hari ini, karena tuan biasanya makan siang di luar, jadi masih ada waktu untuk memasak makan malam." "What? Aduh, baik pak! Saya permisi dulu pulang nanti sore saya datang." "Ini kartu identitas yang perlu anda bawa setiap kali ada di rumah ini. Nanti tinggal ditunjukkan pada satpam di depan." Iya, Pak! Permisi?" Secepatnya aku berlari menemui ayah dan menjelaskan kalau aku harus secepatnya kembali ke sini. Ayah menawarkan kalau beliau saja yang mengambil pakaian dan segala kebutuhan, tapi aku menolak. Lebih baik nanti aku kembali ke sini dengan gr*b mobil saja. Pukul setengah lima aku sudah sampai di depan pagar rumah tuan besar ini. Aku menunjukkan kartu identitas yang diberikan tadi. Satpam memang memberikanku akses masuk, tapi tidak dengan mobil. "Lalu saya harus pakai apa, Pak? Jalan kaki?" "Maaf, Mbak. Memang untuk mobil asing dilarang masuk kecuali mobil yang sudah kami ketahui atau yang sudah diijinkan masuk." "Ya Allah. Jauh loh itu, pak!" "Maaf, Mbak. Sudah peraturannya." "Ya sudah. Saya turun sini, Mas," pintaku pada sopir. Sopir mengeluarkan koper yang kubawa. Dengan terpaksa aku menyeret pelan masuk melalui gerbang. Sebelumnya aku menoleh sebentar pada satpam. "Pinjam motor nggak boleh ya, Pak?" "Ini mau saya pakai beli rokok, Mbak!" 'Ah, dasar! Mau kerja gini amat! Semangat Nisah!' ucapku dalam hati. Berjalan pelan, karena menggunakan sepatu agak tinggi. Untungnya nggak pakai yang lima senti. Tapi di pertengahan jalan, sepatu juga nggak bisa dipakai kompromi. Satu hak sepatu patah. Alhasil aku harus berjalan pincang setengah jalan, alamak. Mana sudah jam lima kurang. Mati aku.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
ceritanya bagus...di tunggu episode berikutnya
16/05/2022
Β Β 0hayalan tingkat dewa ππππππ
23/03
Β Β 0baik
14/02
Β Β 0Lihat Semua