logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 3 Mencari Lowongan Pekerjaan

"Jadi, benar kalau Anisah dipulangkan suaminya?" Tanya Bu Sanah penuh selidik.
"Mohon maaf sebelumnya, Bu Sanah bisa masuk dulu, mari?" Tawar ibu dengan wajah geregetan.
"Oh, ok!" jawabnya acuh.
"Sekarang, saya tanya. Ibu mau tahu informasi anak saya untuk apa?" ibu mensedekapkan tangannya.
"Ya, kami kan hanya penasaran. Kenapa Nisah bisa dipulangkan. Secara, dia itu cantik. Lulusan kuliahan."
"Kalau saya menolak?"
"Ya, jangan begitu Bu Nur. Kami ini tetangga yang baik. Nggak akan menyebarluaskan info yang nggak penting. Atau mungkin Nisah bermain serong ya?" dengan memainkan mata seolah mengintrogasi.
"Astaghfirullah, begini. Urusan anak saya biar menjadi tanggung jawab kami sebagai orang tua. Yang paling penting, dia tidak bersalah, tidak! Jadi, silahkan Bu Sanah keluar!"
Tangan ibu menunjuk pintu, dengan ucapan penuh penekanan dan wajah tak sabar.
"Huuu ... Pasti ada apa-apanya ini, nggak mungkin kan tiba-tiba dipulangkan?"
Ganti Bu Sanah yang bersedekap.
"Ibu, silahkan keluar!" Hardik ibu.
Aku mendengar di balik pintu kamar tentang obrolan mereka. Setengah terisak aku melihat ibu masuk dan tiba-tiba memeluk.
"Kamu yang sabar, ya?" tangannya mengusap-usap punggungku.
"Maaf. Sudah membuat ibu dan ayah malu," ucapku tergugu.
"Dengarkan ibu, kamu anak ibu dan ayah satu-satunya. Tidak pernah sekalipun kami merasa malu. Kita pasti bisa melewati ini, kamu pasti bisa!" Ucap ibu dengan menangis.
***
Pagi ini aku mulai dengan membangun semangat untuk diri sendiri, tidak akan aku biarkan hal negatif mengungkung lama apalagi masalah rumah tangga kemarin. Harus sudah aku tutup. Sekarang saatnya membuka lembaran baru.
Sebagai seorang sarjana tata boga, aku memang belum menggunakan keahlianku sama sekali. Aku bertemu mas Shony menjelang semester terakhir. Tidak sengaja waktu itu karena sedang menunggu ayah menjemput, aku masuk ke dalam cafe dekat kampus. Aku tidak tahu kalau mas Shony memperhatikan sedari tadi, dia menghampiri dan meminta berkenalan. Dari situlah awal mula hubunganku berlangsung dengannya.
Tidak ada gunanya juga mengingat ingat kenangan pahit yang ada. Aku harus bangkit. Semangat untuk diriku sendiri.
Satu persatu aku mulai meneliti lowongan pekerjaan yang sesuai dengan bidangku melalui internet. Ada sekitar lima belas. Aku menyiapkan segala hal yang diperlukan kemudian mengunggahnya dengan cepat. Untungnya sekarang serba online, jadi semua bisa aku kerjakan dari rumah. Sesuatu yang agaknya menguntungkan. Untuk menghindari yang namanya tetangga julid.
Beberapa lowongan menjawab dengan cepat melalui email. Tapi kebanyakan menolak karena status yang sudah menikah. Ini dikarenakan kartu identitas masih menyatakan kalau aku sudah menikah, masih berstatus sebagai istri orang, padahal proses perceraian masih bergulir.
Ada satu lowongan yang memberikan jadwal wawancara online besok pagi jam 9. Jadi, aku harus bersiap diri untuk itu. Aku tak tahu, ini restoran atau hotel, tapi semoga aku bisa keluar dulu dari situasi yang membuatku tak nyaman. Baru aku akan mencari batu lompatan.
Dengan memakai kemeja putih, make up tipis dan rambut tergerai dengan satu jepit kecil di sisi kanan aku menunggu saluran seberang untuk melakukan panggilan video.
[Selamat pagi, dengan ibu Anisah benar ya?]
[Benar, Pak.]
[Ok, sebelumnya perkenalkan saya Daniel yang akan mewawancarai ibu.]
[Iya, Pak.]
[Ibu, ada pengalaman di bidang ini? Mungkin pernah bekerja?]
[Belum, Pak. Tapi saya akan sangat senang kalau misalnya diterima saya akan mengembangkan kemampuan saya lebih dalam.]
[Ok, jadi belum pernah bekerja. Lalu misalkan kalau ibu diterima, lalu bagaimana dengan suami? Apa beliau menyetujui anda bekerja?]
[Sebenarnya, saya sedang dalam proses cerai, Pak. Ini adalah salah satu bentuk bagi saya untuk mencari nafkah, selain untuk mencapai cita-cita yang tertunda.]
[Oh, saya mohon maaf.]
[Tidak apa-apa.]
[Kemukakan alasan, kenapa saya harus menerima anda]
[Saya mungkin belum mempunyai pengalaman apa-apa dalam bekerja, tapi saya yakin kalau diberi kesempatan, saya akan mengembangkan bakat sesuai dengan yang anda harapkan.]
[Kalau misalkan, anda diterima tapi tidak bekerja pada suatu restoran atau hotel apa itu tidak apa-apa?]
[Maksudnya? Tapi jadi koki kan Pak?]
[Tentu saja, bahkan anda yang bertanggung jawab penuh atas menu setiap harinya.]
[Saya rasa, saya siap.]
[Baik, Bu Anisah. Ditunggu konfirmasi dari saya, paling lambat besok ya?]
[Siap, Bapak.]
Huft, aku merasa lega ketika panggilan sudah diakhiri. Ibu yang sedari tadi ikut menemani, tersenyum bangga.
"Semoga kamu diterima, Nis?"
"Ammmiiin, doakan saja, Bu."
Satu email sudah masuk, dengan harap cemas perlahan aku membukanya.
Bismillah.
Surat menyatakan kalau aku diterima dengan masa percobaan dua Minggu sebelum benar-benar tanda tangan kontrak. Mereka meminta aku datang ke suatu alamat yang tertera, besok paling lambat jam sepuluh sudah harus berada di lokasi.
Aku meminta izin pada ibu dan ayah malam ini. Karena memang lokasi berada di kota lain. Ayah menawarkan bantuan untuk mengantar.
"Bagaimana dengan pekerjaan ayah?"
"Ayah bisa cuti satu hari, tidak tega rasanya ayah membiarkan kamu sendirian mencari alamat yang belum diketahui pasti."
"Kalau begitu, deal. Terima kasih, ayah?"
"Sama-sama, putri ayah?"
Kami bertiga saling berpelukan. Beruntungnya aku tumbuh di tengah-tengah keluarga ini. Walau aku sekarang dicampakkan oleh mantan suami dan ibunya, tapi aku masih diterima kembali dengan hangat di keluarga ini. Ayah, ibu, tunggulah. Anakmu ini akan menjadi kebanggan suatu saat nanti.

Komentar Buku (167)

  • avatar
    JayantiTri

    ceritanya bagus...di tunggu episode berikutnya

    16/05/2022

    Β Β 0
  • avatar
    FebrizalSalman

    hayalan tingkat dewa πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€πŸ‘πŸ‘πŸ‘

    23/03

    Β Β 0
  • avatar
    AmanSahri

    baik

    14/02

    Β Β 0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru