"Ok! Kamu mau pulang? Pulang sana! Jangan kembali ke sini! Aku haramkan kamu menginjak rumah ini kembali!" Deg! "Mas! Kamu sadar apa yang kamu ucapkan!" "Aku sadar! Sepenuhnya sadar! Tidak ada yang bisa menyakiti ibuku sekalipun kamu! Jadi, silahkan pergi!" Hardiknya dengan mata memerah. "Ok! Kalau itu kemauan Mas! Tapi aku minta satu hal! Kembalikan aku baik-baik! Karena mas memintaku juga baik-baik!" "Kemasi barang-barangmu! Akan aku antar malam ini juga ke rumahmu," ucapnya pelan dengan meninggalkan kamar. Aku tergugu sembari menata pakaian ke dalam koper. Ternyata pernikahanku gagal di usia yang cukup muda. Satu bulan. Yang paling menyedihkan, kami bahkan belum sempat merasakan malam pertama. Sepanjang perjalanan kami hanya terdiam, tidak saling berbicara. Kami terhanyut dalam pikiran masing-masing. Apa yang harus aku lakukan setelah ini, orang tuaku pasti akan malu. Gunjingan tetangga akan ramai mengatakan kalau aku perempuan tidak baik-baik. Baru seumur jagung pernikahan sudah dikembalikan kembali ke keluarga. "Sudah sampai!" Ucap mas Shony pelan. Dia masih terpaku di belakang setir tanpa melihatku. Segera aku keluar, membuka pintu mobil belakang dan mengeluarkan koperku. "Sini aku bantu bawa," tawarnya sembari menutup pintu mobil. "Tidak usah terima kasih," ucapku sendu. Gegas aku meninggalkannya yang masih terpaku menatapku. Untungnya kami sampai di rumah sekitar pukul sembilan malam. Jadi, tetangga yang biasanya duduk-duduk depan rumah sebelah tidak ada. Biasanya ramai sekali, ibu-ibu suka berkumpul di sana. Membicarakan sesuatu yang tak penting sama sekali. Sementara aman bagiku dan keluarga. Tapi entah besok atau lusa. Aku mengetuk pintu sembari mengucap salam. Terlihat lampu dinyalakan dan terdengar kunci pintu diputar. Ibu terperangah kaget bahagia melihatku. Sudah satu bulan aku tidak pulang, hanya berkabar lewat ponsel kali ini adalah kepulangan pertamaku dari menikah bulan lalu. "Nisah? Kenapa tidak kasih kabar kalau mau ke sini?" ucapnya terharu. "Maaf, Bu," jawabku. "Kalian mau menginap? Alhamdulillah." Ibu mengira kami akan menginap, karena aku membawa dua koper dan mas Shony berdiri tepat di belakangku. "Ibu, ayah sudah tidur?" Aku tak menggubris pertanyaan beliau. "Sudah, nanti biar ibu bangunkan. Ada apa memangnya? Apa terjadi sesuatu?" "Terima kasih, Bu. Tidak, tidak ada apa-apa. Hanya ingin ngobrol biasa," jawabku menutupi. Aku berjalan masuk ke rumah, meletakkan koper di kamar dan kembali ke ruang tamu dengan hati yang luar biasa hancur. Mas Shony sudah duduk dengan gusar, walaupun tanpa disuruh. Aku memilih duduk agak menjauh untuk menunggu ayah dan ibu keluar kamar. Kami diam tak saling berbicara. "Kalian pulang?" Tanya ayah mengagetkanku. Aku mengangguk. "Geser ke sana duduknya Nis, ayah mau duduk di sini." Ibu memintaku bergeser agak dekat dengan mas Shony, tapi aku menolak halus dengan alasan malas bergerak. "Bu, sebenarnya ada yang ingin dibicarakan mas Shony," ucapku ragu dan agak menunduk. "Ada apa? Ngomong saja," jawab ibu. "Bu, orang baru datang juga. Bikinin teh. Biar hangat dulu," sela ayah. Aku melirik mas Shony, sepertinya dia juga sedang menunduk, entah mungkin canggung atau takut. Bapak menanyakan perihal perjalanan ke rumah, dia menjawab singkat seolah-olah tidak ingin panjang lebar dengan pembicaraan. Ayahpun terdiam sampai ibu datang membawa dua gelas teh untuk kami. "Diminum tehnya, nak Shony?" Tawar ibu. "Iya, terima kasih." Mas Shony hanya mencecap sedikit teh yang disuguhkan kemudian meletakkan cangkirnya kembali. "Jadi, ada apa? Kalian mendadak datang ke sini?" Tanya ayah. Untuk sesaat keadaan hening tanpa suara. Aku menoleh pada mas Shony yang sepertinya ragu untuk menjawab pertanyaan ayah. "Aku akan tinggal di sini lagi, Yah," jawabku mencoba mengawali percakapan. Walaupun takut, tapi tetap harus aku ungkapkan karena mas Shony telah mentalakku. "Oh, iya? Lalu apa nak Shony juga akan tinggal di sini? Atau bagaimana?" Tanya beliau kembali. "Ah, tidak. Saya tidak tinggal di sini," jawab mas Shony tergagap. Ayah dan ibu menatap kami bergantian dengan heran. "Lalu, maksudnya?" Tanya ayah. Aku mulai menangis sesenggukan. Tangis sedari tadi yang aku tahan tidak dapat aku hindarkan. "Saya ingin mengembalikan Anisah ke rumah ini, Pak, Bu." "Mengembalikan? Ini maksudnya apa?" Tanya ayah setengah berteriak. "Mohon maaf, langkah ini saya ambil karena Anisah sudah menyakiti hati ibu saya, yang juga secara tidak sengaja menyakiti hati saya. Jadi, mulai hari ini Anisah bukan lagi istri saya." Terlihat wajah ayah yang memendam kecewa dan marah, tapi beliau masih bisa menahannya. Rahang beliau terlihat mengeras dan bergemeretak. Ibu spontan memelukku erat dan ikut menangis. "Saya pamit, Pak, Bu, assalamualaikum," pamit mas Shony tanpa bersalaman dan segera meninggalkan rumah ini. Hanya isak tangisku yang terdengar. Ayah dan ibu belum juga akan mengucapkan sesuatu. Hanya helaan napas ayah yang sesekali terdengar. Matanya menerawang jauh, seolah beban berat yang akan dipikulnya belum terangkat. "Kamu melakukan kesalahan apa?" tanya ayah dengan suara bergetar. Aku tidak kuat berbicara, hanya sesenggukan yang keluar. "Kalau memang kamu yang bersalah, ayah akan ikhlas menerima takdir ini. Tapi kalau kamu tidak bersalah, akan aku hukum laki-laki itu! Tidak akan aku maafkan karena sudah menyakiti putriku satu-satunya dan keluar kecilku!" umpatnya dengan suara bergetar dan amarah yang meletup-letup. Tidak berapa lama, ibu yang sedari tadi mengusap-usap kepalaku untuk menenangkan, tiba-tiba terjatuh tak sadarkan diri.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
ceritanya bagus...di tunggu episode berikutnya
16/05/2022
Β Β 0hayalan tingkat dewa ππππππ
23/03
Β Β 0baik
14/02
Β Β 0Lihat Semua