logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

(7) Kembali ke Masa Kini

Hilang tanpa kata. Datang membawa berita.
**
"Jadian sama gue ya, Aiza."
Perkataan Egi terus terngiang di telinganya. Pernyataannya seolah membuat Aiza merasa bersalah.
Aiza tidak pernah menyangka, laki-laki yang selama ini menjadi sahabat ternyata jatuh cinta padanya.
Aiza bingung.
Dia tidak mungkin menerima Egi dengan mudahnya. Aiza tak mungkin menarik dia masuk ke dalam hidupnya begitu saja.
Egi adalah laki-laki baik dan Aiza tidak ingin Egi malah menjadi sebuah pelarian di saat dia patah karena cinta yang sama sekali tak pernah di miliki.
Setelah di taman tadi. Aiza kembali ke rumah, bersama Egi pastinya. Tapi dia sama sekali tak berbicara padanya, mereka diam tanpa kata bahkan saat sama-sama masuk ke dalam rumah.
Tok tok tok.
"Za, makan!!" teriak Daffa.
Aiza baru saja merebahkan tubuh di atas tempat tidur.
"Aiza!!" teriaknya lagi, tapi Aiza masih berdiam diri. Rasanya dia tak memiliki tenaga untuk beranjak dari kamar.
"Lo tidur? Kalau laper makan aja deh, gue pergi dulu. Inget ya, makan!"
Selalu begitu.
Entah semenjak kapan kakak pertamanya itu seolah menjadi alarm pengingat makan. Padahal Aiza sudah bilang kalau dia bukan anak kecil lagi.
Sepertinya Daffa sudah pergi dari depan kamar. Aiza menutup mata, memikirkan kembali pertemuannya dengan Dimas tadi.
Ini di luar dugaannya. Aiza kira Dimas akan tersenyum saat pertama kali datang lagi ke dalam hidupnya.
Aiza kira Dimas akan memberikan sebuah kepastian yang selama ini di tunggu.
Nyatanya, semua hanya sebuah angan. Hanya sebuah khayalan yang tak akan pernah bisa terwujud.
Bukan hanya Dimas yang kembali dan membuat Aiza terkejut. Tapi juga Egi, yang tiba-tiba saja menyatakan perasaan kepadanya.
Kenapa seperti ini?
Kenapa justru sahabatnya yang memberikan sebuah kepastian dengan perasaannya?
Kenapa bukan Dimas?
**
"Lo serius?" tanya Giska.
Hari ini Aiza bertemu dengan Giska di Kafe miliknya, tanpa Fani karena dia masih di sibukkan dengan butik miliknya.
"Kemarin gue ketemu dia."
"Gila! Gue kira setelah lama gak ada kabar, dia dateng dan hubungan kalian bakalan ada kepastian," cerocos Giska.
Aiza sedang menceritakan pertemuannya dengan Dimas kemarin. Giska cukup terkejut dengan apa yang terjadi.
"Mungkin gue yang terlalu berharap."
Giska menghela napas kasar. "Gue sebenarnya bingung harus komentar apa selain gue kesal karena dia gitu sama lo. Penantian lo selama ini sia-sia, lo nunggu orang yang gak tepat."
"Udahlah, sekarang lupain dia. Lo fokus aja sama kerjaan lo atau lo cari gebetan baru. Kalau gak nemu, tu si Egi ada kan," lanjutnya.
Egi.
Hampir saja Aiza melupakan satu hal, tentang perkataan Egi kemarin.
Apa dia juga harus menceritakan soal ini pada Giska?
"Kok jadi bawa-bawa Egi sih," ucap Aiza.
Tidak. Belum saatnya dia menceritakan soal Egi.
"Ya, abisnya gue lihat dia jomblo dan lo jomblo jadi apa salahnya kalian pacaran."
"Dia sahabat gue, Gis."
"Sahabat? Hello ... Gak ada namanya sahabat antara cewek sama cowok. Yang ada sahabat jadi cinta."
"Terserah lo, gue gak mau bahas pacaran dulu. Hidup gue aja udah rumit sama kerjaan."
"Oke.. Tapi kalau ada apa-apa lo harus cerita sama gue, sama Fani juga. Apalagi kalau lo butuh cowok, kita pasti siap cariin buat lo."
"Lo buka biro jodoh?" tanya Aiza terkekeh.
"Sialan!" umpat Giska. "Gue itu mau bantuin lo. Biar lo bisa cepet moveon sama cinta sepihak lo."
"Iya-iya. Gue cabut lah. Udah selesai jam istirahat gue," pamit Aiza akhirnya. Kemudian dia berlalu dari Kafe.
**
"Egi," gumam Aiza.
Dia baru saja keluar dari tempat kursus musik, ya Aiza adalah salah satu pengajar di sana. Lebih tepatnya mengajarkan alat musik biola.
Saat ini jam mengajar sudah selesai, tepat pukul 4 sore. Aiza melihat Egi yang tengah berdiri di samping mobilnya, masih menggunakan kemeja berwarna navy dan celana kain.
Sungguh berbeda dengan Egi beberapa tahun yang lalu.
"Udah selesai?" tanya Egi saat Aiza sudah berada di hadapannya.
Gadis itu mengangguk, "Kenapa disini?" tanya Aiza.
"Jemput lo."
"Gue kan bawa motor."
"Gapapa, nanti gue suruh orang buat bawa ke rumah lo. Temenin gue makan ya, please." ucap Egi dengan tatapan memohon.
Kalau seperti ini mana bisa Aiza menolak.
Egi tersenyum lebar saat Aiza mengangguk sebagai tanda setuju. Kemudian masuk ke dalam mobilnya. Dengan laki-laki itu yang sudah duduk di balik kemudi.
**
"Jadwal praktek lo udah selesai?" tanya Aiza. Kali ini mobil milik Egi sudah berjalan membelah jalanan yang cukup ramai.
"Udah. Mangkanya gue jemput lo," balas Egi tanpa mengalihkan perhatiannya dari jalanan.
Egi adalah seorang Dokter spesialis mata, di salah satu rumah sakit umum di kota ini.
Dulu saat dia memutuskan untuk masuk jurusan kedokteran, Aiza cukup terkejut.
Bagaimana bisa, laki-laki pecicilan seperti Egi menjadi seorang dokter, tapi ternyata Egi membuat Aiza cukup tercengang. Karena berhasil lulus dengan predikat cumlaude.
Saat kuliah dulu. Kami berada di Universitas yang berbeda. Saat dia mengambil jurusan kedokteran, Aiza sendiri memilih untuk mengambil jurusan musik, sesuai minat Aiza yang ingin mendalami alat musik biola.
Semenjak kuliah, waktu bertemu kami sangat terbatas. Di samping Universitas mereka yang berbeda, kegiatan mahasiswa kedokteran juga membuat Aiza dan Egi jarang bertemu kecuali di hari minggu dan di rumah mereka. Itu pun saat mereka memang memiliki waktu luang.
**
"Gapapa kan, gue ajak lo ke sini?" tanya Egi saat mereka baru saja sampai di tempat penjual nasi goreng.
Aiza menatap dia heran. Sejak kapan Egi merasa tak enak padanya, bahkan sewaktu sekolah dulu bukannya mereka sering pergi ke tempat makan di pinggir jalan seperti ini.
Kenapa sekarang dia seolah merasa tak enak?
"Lo kaya sama siapa aja gi, kita kan dulu juga makan di pinggir jalan kaya gini," balas Aiza, kemudian duduk di salah satu kursi kosong yang tersisa di sini.
Tempatnya cukup nyaman dan bersih, juga begitu ramai. Mungkin nasi goreng ini menjadi salah satu tempat makan favorite di sini.
"Kali aja lo berubah," ucapnya duduk di samping Aiza.
"Gak ada yang berubah."
"Termasuk perasaan lo sama gue kan," gumam Egi tapi Aiza masih bisa mendengarnya. Hanya saja dia seolah pura-pura tak mendengar.
Ini bukan waktu yang tepat untuk membahas soal perasaan mereka berdua. Aiza masih belum bisa memastikan apakah perasaannya akan berubah saat seseorang yang dulu Aiza sukai nyatanya kembali dengan kabar yang begitu mengejutkan.
Semakin Aiza berusaha untuk baik-baik saja, semakin dia merasakan sakit yang begitu dalam namun anehnya perasaan dia seperti tak pernah bisa berubah.
Aiza nyatanya masih mencintai Dimas, yang memberi warna dalam hidup di masa itu.
Dimas kembali dengan sejuta tanya, apakah Aiza pernah ada di dalam hatinya?

Komentar Buku (230)

  • avatar
    Usami Muhamad

    sangat bagus

    12/02

      0
  • avatar
    Rahadian Dian

    seru

    26/10

      0
  • avatar
    RevaPapa

    lebih diperbaiki lagi

    27/07

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru