"Mbak, biar Bik Imah yang ngelanjutin cuci piringnya. Mbak ke depan aja!" ucap bik Imah ketika aku tengah sibuk menyabuni piring. "Gak papa, Bi. Tanggung sebentar lagi selesai," jawabku sambil membilas piring-piring yang telah kusabuni. Bi Imah langsung merebut piring yang tengah kupegang. "Sudah, Mbak! Mbak Mira ke depan saja! Bik Imah gak mau Mbak Mira asmanya kambuh lagi karna kecapean!" usir wanita berusia 45 tahun itu. Akhirnya aku menyerah. "Terima kasih, Bi," ucapku. Aku sejak kecil memang sudah punya penyakit asma. Selain udara dingin, debu, dan asap rokok, asmaku bisa kambuh bila aku kecapekan. Apalagi bila ditambah stress memikirkan keadaanku dan anak-anak. Dalam satu minggu, aku bisa mengkonsumsi dua hingga tiga kali obat pereda asma. Bi Imah sudah enam tahun menjadi ART di keluarga ini. Selama ini sikapnya selalu baik padaku. Sering ia menghiburku jika aku tengah sedih menghadapi sikap keluarga mas Yudha. Di rumah ini hanya bik Imah temanku tempat berkeluh kesah. Tidak ada lagi yang lain. Curhat kepada Mas Yudha? Sama saja dengan menjelekkan keluarganya di depannya. Itulah yang sering suamiku ucapkan bila aku mulai mengeluhkan sikap keluarganya. Ia akan marah bila aku mulai menyinggung soal ibu dan adiknya Pada akhirnya ia hanya menyuruhku untuk diam dan mengalah. Tapi sampai kapan? Keluar dari dapur kulihat Mas Yudha dan Lisa tengah duduk di meja makan. Mereka tengah lahap menikmati lauk ayam goreng dan sup sisa acara. Aku menghampirinya. "Kapan pulang, Mas?' tanyaku sambil mencium tangannya. "Mm ... barusan." ucapnya sambil sibuk mengunyah makanan. Aku memperhatikannya. Tidakkah ia mau bertanya apakah aku dan anak-anaknya sudah makan? Kulirik Lisa, adik iparku. Ia diam saja, sibuk dengan piringnya. Tidak ada basa-basi menawariku makan. Kuhirup napas dalam-dalam untuk melonggarkan rasa sesak di dada. Kutinggalkan suamiku yang masih asyik menikmati makanan di rumah ibunya. Aku memutuskan langsung pulang ke rumah yang berada tepat di samping rumah ibu mertua. Ketiga anakku tengah duduk anteng depan tv menonton serial kartun favorit mereka. TV tabung yang untuk ukuran jaman sekarang sudah ketinggalan jaman. Itu pun pemberian dari kak Rafi, kakak pertama mas Yudha. Sedang di rumahnya sendiri sudah ada tv layar datar berukuran 50 inci. Kak Rafi memang orang berada. Pekerjaannya seorang kontraktor, yang mana sudah beberapa kali mendapat proyek bernilai besar. Kak Nita—istrinya seorang PNS, mengajar di SMA. Kubuka tudung saji di meja makan. Perutku sudah lapar sekali. Masih ada sisa sedikit kuah sup. Aku pun mengambil nasi dan langsung menuangnya ke mangkup sup, lalu memakannya dengan lahap. "Assalammualaikum." Terdengar suara salam dari mas Yudha. Dilanjutkan dengan seruan Alia dan putra bungsuku yang menyambutnya. Rupanya suamiku telah selesai dari sebelah. "Loh, kamu baru makan?" tanyanya heran ketika melihatku tengah menyendok sisa-sisa nasi campur kuah yang tinggal berupa butiran. "Iya, Mas." "Kenapa tadi kamu gak ikut makan bareng Mas?" "Mas gak nawarin." Aku menjawab sekenanya. "Loh, kenapa mesti nunggu ditawarin? Kamu ini ada-ada saja. Jangan dibilang keluargaku gak kasih kamu makan, ya?" ujar Mas Yudha mulai merasa tersinggung. Aku menghela napas. Sudah izin saja, ibu mertuaku sudah cemberut. Lagipula kulihat tadi ayamnya tinggal 2 potong. Aku khawatir ibu mertuaku masih mau makan. "Kulihat lauknya tinggal sedikit, Mas. Takut nanti mama masih mau makan," jawabku padanya. Mas Yudha hanya diam mendengar penuturanku, kemudian berlalu ke belakang. Begitu lah, jika aku bicara apa adanya, suamiku akan diam saja dan tidak memberi solusi. "Mah, ini ada WA dari bu Mimi." Ara menghampiri dan memberikan ponselku. Ponsel yang kudapat dari pemberian ayah. Di rumah ini cuma ada dua ponsel, milikku dan milik mas Yudha. ponselku hampir setiap hari harus dipakai bergantian antara aku, Ara dan Alia. Kedua anak perempuanku harus bergantian mengerjakan tugas online dari gurunya. Akibatnya, mereka suka terlambat mengerjakan tugas. Karna aku pun harus memakai ponsel untuk berdagang. Mas Yudha belum mampu untuk membeli ponsel baru, bahkan yang bekas sekali pun. Aku pernah memintanya untuk pinjam uang pada kakaknya, biar nantinya kami mencicil tiap bulan. Tapi suamiku tidak mau. Alasannya tidak enak dengan keluarganya. Aku merasa geram. Kepada keluarganya ia merasa sungkan, tapi untuk kebutuhanku dan anak-anak, ia bersikap abai. Aku hanya disuruhnya bersabar. Uang gaji yang ia berikan, cukup tidak cukup aku harus bisa mengaturnya. Mas Yudha tidak mau memikirkannya lagi. Menurut suamiku dia sudah lelah bekerja, urusan rumah tangga ia bebankan ke diriku sepenuhnya. Maka dari itu aku mencoba berdagang untuk mencukupi kebutuhan kami. Minimal bisa untuk uang jajan ketiga anakku. Khususnya kebutuhan sekolah Ara dan Alia. Untungnya putraku Aril belum bersekolah. Aku baru akan menyekolahkannya tahun depan. Aku berdagang apa saja, yang penting bisa menghasilkan. Aku menjual dan menjajakan barang yang dititipkan orang kepadaku. Orang bilang namanya reseller. Aku mempromosikannya lewat Wa. Kadang datang langsung mengetuk pintu rumah tetangga menawarkan dagangan. (Assalammualaikum Mir, besok pagi aku ke rumahmu bawa peyek 20 bungkus, ya) Pesan WA dari Mimi, tetangga dekatku. Ia membuat peyek sendiri di rumah dan meminta bantuanku untuk menawarkan ke orang-orang. Peyek buatannya enak dan renyah. (Oke Mi) aku membalas pesannya. Alhamdulillah, ucapku dalam hati. Aku mengambil untung dua ribu lima ratus rupiah untuk satu bungkus peyek. Kalau bisa terjual sepuluh bungkus saja, aku bisa mendapat keuntungan dua puluh lima ribu. Lumayan, bisa buat menambah uang belanja harian yang aku cukup-cukupi dari gaji mas Yudha. Tanpa sepengetahuan suamiku, aku sedikit-sedikit menyisihkan uang untuk kutabung. Bila dirasa sudah cukup, aku berniat membeli ponsel satu lagi untuk kedua anakku. Yang bekas pun tak apa. Yang penting kegiatan belajar online mereka tidak terganggu. Semoga saja tidak ada kebutuhan lain yang datang tak terduga. ******* "Assalammualaikum." "Waalaikumsalam.' Aku yang sudah menunggu Mimi sedari kemarin menjawab salamnya. Kulihat ia membawa satu kantong plastik berukuran besar yang berisi peyek-peyek yang masing-masing telah dibungkus plastik. Aku menyuruhnya duduk. Lalu mengambilkan minum untuknya. "Itu si Lisa kenapa ya? Kok kayaknya sinis ngeliat aku?" ucap Mimi setelah aku kembali dengan membawa minum untuknya. "Sinis kenapa?" Aku mengerutkan kening. "Gak tau. Ga jelas," ucapnya mengangkat bahu. Ia meneguk minumannya. "Kapan kamu ketemu dia?" "Barusan, pas aku mau masuk ke sini. Tadi dia duduk di situ." Mimi menunjuk arah luar dengan dagunya. Ia menunjuk arah teras rumah mertua yang tak jauh dari pintu rumah ini. "Adik iparmu kenapa sih, kulihat jarang senyum?" tanyanya lagi. Aku tercenung. Lisa memang jarang tersenyum. Apalagi kalau sedang berhadapan denganku. Raut mukanya selalu cemberut. Aku hanya melihat keceriaan di wajahnya, jika kedua abangnya dan Aldi—pacarnya datang. "Dia memang begitu pembawaannya. Sebenarnya baik kok," ucapku menutupi sikap adik iparku sebenarnya. "Kalo baik ya jangan jutek gitu, dong sama orang!" ucap Mimi bersungut-sungut. Aku diam saja. Mimi tak lama berada di rumahku. Setelah mengobrol sebentar, wanita bertubuh gemuk itu pun, pulang. Tak lama Mimi pulang tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara bentakan. "Mbak!"
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
ini seperti kisah hidupku thor😭
15/08/2022
0bagus jalan ceritanya ..
04/02
0nice
18/01
0Lihat Semua