"Mir, kalau nanti tamu-tamu sudah pada pulang, tolong bantu angkut-angkutin piring kotor ke belakang ya. Sekalian nanti kamu yang cuci piringnya. Biar Imah yang beres-beres di bagian depan!" perintah halus ibu Mas Yudha padaku. Ibu mertua kalau berbicara memang jarang bersuara keras. Kalau sedang kesal paling hanya terdengar gerutuannya saja. "Baik, Mah," jawabku mengiyakan. Aku hanya bisa menuruti perintah beliau. Kalau aku coba menolak karna alasan capek atau apapun, siap-siap aku akan menjadi bahan omongan keluarga suamiku. Ibu mertua jarang mengungkapkan ketidak sukaannya di depanku langsung, tapi ia akan membicarakanku di depan anak dan mantunya yang lain. Ia juga akan mengadu pada suamiku. Mas Yudha pun seperti yang sudah-sudah akan mendiamiku dan menekuk wajahnya sepanjang hari. Namaku Mira, usiaku 35 tahun. Saat ini aku dan mas Yudha tinggal di rumah milik orang tuanya. Rumah mertuaku cukup besar. Terdapat dua rumah berdempetan dalam satu halaman. Aku dan mas Yudha menempati bagian rumah yang lebih kecil. Sedang mertuaku dan Lisa—adik iparku—tinggal di rumah induk yang lebih besar. Ayah mas Yudha sudah meninggal. Beliau wafat tiga tahun lalu karna penyakit jantung. Suamiku memiliki tiga saudara kandung. Mas Rafi yang tertua, mas Indra, lalu Lisa, si bungsu. Suamiku anak ke-3. Mas Rafi dan mas Indra juga sudah berkeluarga dan masing-masing sudah punya rumah pribadi. Hanya suamiku yang belum mampu memiliki rumah sendiri. Dulu, setelah menikah hingga memiliki tiga orang anak, kami tinggal di rumah orang tuaku. Namun, karna rayuan dari istri keduanya, ayahku menjual rumah yang kami tempati dan uang hasil penjualan rumah dibelikan lagi rumah yang lebih kecil atas nama ibu tiriku. Aku hanya bisa pasrah. Ayah memang terlihat selalu tunduk kepada wanita pengganti istri pertamanya itu. Ibu kandungku sudah meninggal saat aku berusia 10 tahun. Aku anak tunggal. Ibu tiriku adalah janda tanpa anak sewaktu menikah dengan ayah. Ayahku tidak pula memiliki anak dari istri keduanya itu. Dari hasil penjualan rumah, ayah memberiku uang yang mana hanya cukup untuk kubayar sewa kontrakan kecil selama 6 bulan. Ketika masa sewa kontrakan habis, mas Yudha mengajakku untuk tinggal di rumah orang tuanya. Aku yang tidak punya pilihan lain, terpaksa menuruti suamiku. Saat itu kami belum mampu untuk memperpanjang sewa kontrak rumah, karna gaji mas Yudha sebagai tenaga admimistrasi di sekolah sangat kecil. Ditambah kami masih harus memenuhi kebutuhan makan dan sehari-hari ketiga anak kami. "Bun, lapar," ucap Ara—anak pertamaku. Ia mendekatiku yang tengah mengangkat piring-piring kotor bekas acara arisan sebelumnya. Ara saat ini berusia sepuluh tahun. Alia—adiknya— berusia delapan tahun. Aril—putra bungsuku—berusia 6 tahun. Mas Yudha dulu melarangku untuk ber-KB. Jadilah ketiga anak kami lahir dengan usia cukup rapat. Namun, setelah Aril lahir suamiku masih melarangku untuk ber-KB. Akhirnya aku memutuskan diam-diam memasang KB tanpa sepengetahuannya. Aku tidak mau harus menambah anak lagi mengingat situasi perekonomian kami saat ini. Aku heran, kenapa mas Yudha tidak berpikir ke arah situ. "Di dapur masih ada telur dadar, kan?" tanyaku pada Ara. "Sudah habis dimakan Alia dan Aril Bun," jawabnya lesu. Aku menghela napas. "Aku mau makan ayam goreng, boleh gak, Bun?" tanyanya lagi dengan sorot mata berharap. Aku tercekat. Sedih mendengarnya. Memang tadi sempat kulihat masih ada sisa lauk acara arisan. Kuhitung ada sekitar tujuh potong ayam goreng dan semangkuk besar sayur sop. Aku berharap ibu mertua mau menawariku sedikit sisa lauk, tapi ia langsung saja berlalu setelah memberiku perintah tadi. Aku mengusap kepala putriku. Wajahnya sangat mirip dengan ayahnya yang tampan. Tak heran, Ara memiliki wajah yang cantik. Banyak orang-orang yang kukenal mengatakan nya. "Minta sendiri sama nenek ya, Kak. Bunda gak enak," jawabku membujuknya. "Tapi Ara takut, nenek kan galak." jawabnya memelas. Aku kembali menghela napas. "Ya udah, tunggu di rumah ya. Nanti Bunda coba minta sama nenek.' "Baik, Bun," jawabnya riang. Ia pun berlari kembali ke rumah. Setelah selesai mengangkut semua piring kotor ke belakang, aku melangkah menuju kamar ibu mertua. Usai acara tadi ia langsung masuk ke kamarnya untuk beristirahat. Aku mengetuk pintu kamar. Terdengar suara beliau dari dalam menyuruh masuk. "Ada apa, Mir? Sudah kamu bereskan semua yang Mamah suruh tadi?" tanyanya begitu melihat aku yang masuk. "Su-sudah, Mah. Tinggal Mira cuci nanti. Mm ... maaf Mah, Mira boleh minta sedikit ayam goreng sama sisa sayur sopnya? Ara belum makan, Mah. Dia mau minta ayam goreng sedikit," ucapku agak gugup. Kulihat ibu mertua cemberut mendengar permintaanku. "Boleh! Ambil ayamnya dua potong saja, ya! Sama sayur sopnya sedikit! Lisa juga belum sempat makan tadi," jawabnya agak ketus. Aku mengangguk. "Makasih, Mah." Aku pun segera undur diri keluar dari kamar ibu mertua. Alhamdulillah, aku mengucap syukur dalam hati. Sebenarnya aku kecewa atas sikap mertuaku. Ia lebih mengutamakan perut Lisa, adik iparku yang sudah dewasa daripada cucunya sendiri yang masih kecil-kecil. Memang, selama ini kurasakan ibu mertua terlihat kurang perhatian pada anak-anakku. Berbeda halnya dengan anak-anak dari kedua kakak suamiku. Ibu mertua terlihat sangat menyayangi mereka. Jika keponakan-keponakan mas Yudha datang, ibu mertua selalu menunjukkan perhatiannya. Seperti memangku, membelikan cemilan, memberi uang, dan lain-lain. Sedangkan pada ketiga anakku yang jelas-jelas tinggal di sebelahnya, malah bersikap acuh. Ara dan Alia pernah mempertanyakan sikap neneknya. Mereka merasa neneknya tidak menyayangi mereka. Sungguh sedih aku mendengarnya. Aku hanya bisa menyangkal ucapan mereka. Ku katakan bahwa neneknya tetap sayang. Hanya mungkin nenek mereka sedang sibuk dan capek. Segera kubergegas kembali ke rumah membawa semangkuk kecil sup dan dua potong ayam goreng tadi. Ara dan kedua adiknya terlihat gembira. "Horee ... ayam goreng!" Seru putra bungsuku sambil bertepuk tangan. "Aku boleh makan lagi gak, Bun? Tadi aku cuma makan telor dadar dibagi dua sama Aril," tanya Alia. "Iya, Bun. Aril juga masih laper," sambung adiknya. Aku antara sedih dan gembira mendengar celotehan mereka. Aku berusaha menahan air mataku yang tengah memaksa untuk keluar. "Iya ... iya, boleh. Bagi yang adil, ya! Kak Ara juga belum makan soalnya," ucapku sambil meletakkan makanan yang kubawa di atas meja makan. "Bunda udah makan?" tanya Ara menatapku lekat. "Udah. Bunda udah makan tadi di dalem," ucapku berbohong. "Makan ya, Bunda mau bantu nenek cuci piring dulu," sambungku, lalu buru-buru berlalu dari hadapan mereka. Aku tak ingin mereka melihat titik air yang telah jatuh dari sudut mataku.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
ini seperti kisah hidupku thor😭
15/08/2022
0bagus jalan ceritanya ..
04/02
0nice
18/01
0Lihat Semua