logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

03. Masih berusaha

Sepanjang jalan Zayan ditertawakan hingga menjadi bahan gosip siswa lainnya. Malu. Jelas! Tibanya di belakang sekolah, tempat biasa kelima remaja sok jagoan itu berkumpul, Zayan langsung protes.
"Bang ... maksudnya apa divideoin gini?"
Richo maju, "Kenapa? Lo gak terima?"
"Harusnya lo berterima kasih bego! Gara-gara kita lo jadi terlenal," sambung Satria, mereka tertawa, kecuali Fasha yang sedang tiduran di atas meja tak terpakai.
"Gue gak apa-apa kalau dipukulin setiap hari, tapi jangan direkam apalagi sampai disebarin gitu. Cukup di antara kita aja yang tau."
Rupanya di sana sudah ada satu korban mereka. Anak kelas XI yang biasa menjadi sasaran anak-anak nakal itu. Cowok yang meringkuk di bawah pohon itu hanya menggunakan celana dalam. Badannya kotor dan luka di beberapa bagian, seperti baru dipukuli. Mereka benar-benar keterlaluan.
Richo mencengkeram kerah baju Zayan dengan satu tangan, matanya melotot tajam. "Lo ngatur kita?! Udah berani lo, hah?!"
Cowok itu melayangkan pukulan pada Zayan, tapi secepat kilat Zayan menangkisnya. Richo dan ketiga temannya mendelik.
"Wah, si cupu mulai berani ngelawan rupanya." Julian maju, bersiap ingin memukuli Zayan.
"Sialan lo!! Habisi dia!! Jangan berhenti sebelum mampus!" perintah Richo.
Satria, Jualian dan Hans dengan senang hati melakukannya. Mereka memukuli Zayan tanpa ampun.
Si gadis hantu yang melihat Zayan dihajar habis-habisan, mencari cara untuk menyelamatkan cowok itu. Ia meminta bantuan para hantu di sana untuk membuat teror.
Mereka para hantu melempari Richo dan ketiga temannya batu kerikil. Selain itu pohon di atas mereka sengaja digoyangkan hingga daun-daunnya berjatuhan.
"Woy, apa-apaan nih!!" pekik Satria, melindungi kepalanya yang terkena hujaman batu bertubi-tubi.
"WOY ANJING!!!" teriak Richo marah. Kemudian senyap. Ia mengajak Satria, Julian dan Hans mencari siapa yang membuat ulah.
"Lo yang ngelemparin kita batu! Keluar lo! Pengecut!!" amuk Julian.
Plak!
"Aduh!!" Julian mengusap belakang kepalanya yang dipukul, ia menoleh pada Hans di sampingnya. "Kok lo mukul kepala gue sih njir?!"
"Yang mukul lo siapa bangsat!" Hans yang memang dasarnya ringan tangan menoyor kepala Julian.
"Nah itu lo mukul gue."
"Ya baru ini!"
"Halah, bacot lo!" Julian memukul kepala Hans, Hans yang merasa tidak bersalah lantas membalas. Alhasil mereka saling pukul.
Richo dan Satria menghela napas panjang.
Kembali ke Zayan, cowok itu terbatuk-batuk. Sembari memegangi perutnya ia berusaha bangkit. Zayan menoleh ke arah kakak kelasnya yang masih meringkuk, lalu melempar seragam sekolah yang sudah sobek-sobek padanya.
"Pulang aja, Bang," saran Zayan.
Cowok itu menangis, badannya gemetaran, buru-buru ia memakai pakaiannya. Miris, hampir separuh dari pakaiannya habis. Kemudian cowok tersebut buru-buru memanjat pagar sekolah dan lari.
Mengadu pada guru percuma juga, tidak ada yang peduli. Malahan ia akan ditertawakan karena penampilannya mirip seperti nenek rombeng.
"Kak, kakak gak apa-apa?" tanya si gadis hantu, ingin membantu Zayan berdiri, tapi tidak bisa.
"Lo yang usilin mereka?"
Gadis itu mengangguk, "Aku minta bantuan sama mereka juga."
Zayan melihat sekelilingnya, berbagai macam hantu menatap ke arahnya. Dari yang bentuknya masih normal, sampai yang hanya tinggal badan dan kaki kirinya saja.
"Sakit ya, Kak?"
"Pake nanya lagi lu." Zayan duduk di kursi, napasnya tersengal.
"Telepon ambulance kalau gitu."
"Gak perlu. Udah biasa gue."
"Lo ngomong sama siapa?"
Zayan sontak menoleh pada Fasha yang menatapnya dengan alis terangkat sebelah. Ia lupa kalau masih ada Fasha di sana. Sebagai respons, Zayan hanya menggeleng pelan.
Fasha turun dari meja seraya menyeletuk, "Mending lo ke UKS, luka lo lumayan tuh." Setelahnya cowok itu pergi. Mencegah teman-temannya yang akan kembali membully Zayan.
"Kakak ganteng yang itu baik ya. Gak kayak temen-temennya yang lain," ujar si gadis, tersenyum sambil menatap kepergian Fasha.
Zayan meliriknya sinis, "Genit banget lo jadi hantu."
"Gak kok."
Hening. Zayan duduk di bangku, sejenak mengatur napas. Cowok itu meringis merasakan badannya seperti remuk.
"Jadi kakak mau kan bantuin aku. Aku udah bantuin kakak loh."
Zayan mendelik, "Lo gak ikhlas? Pamrih lo sama gue?"
"Bukan gitu-"
"Aturannya kalau gak ikhlas gak usah bantuin. Nolongin tapi berharap balasan, buat apa!"
"Aku gak akan maksa kakak kalau gak butuh banget." Gadis itu hampir menangis, "Cuma kakak satu-satunya harapan aku saat ini ...."
"Halah, kalau udah mati itu yaudah, terima aja, gak usah ngurusin hal yang lain lagi. Pergi ke tempat yang lebih tenang sana," sahut Zayan pedas. Sama sekali tidak berpikir dulu sebelum bicara.
Gadis itu menunduk dalam, perlahan terisak pilu. "Setidaknya aku tau penyebab aku mati."
Zayan terhenyak, tapi hatinya masih tetap keras dan kekeuh tidak ingin membantu.
"Jahat!" Mendongak, Zayan melihat kuntilanak hitam tepat di atasnya. Yang ini lebih mengerikan daripada Sarifah. Kulitnya gosong dan penuh dengan luka koreng yang mengeluarkan nanah. Bau busuknya melebihi pocong keliling di rumahnya. "Tolong anak itu! Dia membutuhkanmu!" teriaknya marah, namun tersirat kesedihan di sana.
Zayan merinding, tidak ingin masalahnya semakin runyam, dirinya cepat-cepat kabur.
Si gadis hantu mengejarnya. "Kakak ... kakak tunggu ... aku mohon, Kak ...."
"PERGI SIALAN!! JANGAN GANGGU GUE!!"
Hantu itu tersentak, mematung, manatap Zayan yang pergi tanpa peduli. Ia menangis keras. Hingga tangisannya terdengar oleh petugas kebersihan yang sedang membuang sampah. Melihat tidak ada siapa pun di sekitarnya, sontak petugas kebersihan itu begidik ngeri lalu buru-buru pergi.

Komentar Buku (224)

  • avatar
    sky_star

    bagus bgt ceritanya bisa bikin ketawa ngakak dan terharu ditunggu lanjutannya

    9d

      0
  • avatar
    Syahfira Indah Ramadani Lubis

    bagus banget alur cerita suka!! ditunggu sambungan ceritanya kak hhe

    15/05

      0
  • avatar
    PutriAkira Himuro

    Cerita pertama yang saya baca diaplikasi ini tapi lupa mungkin sekitar tahun 2022,2023,2024 kali,ya?

    05/04

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru