logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

02. Richo and the genk

Setelah makan malam, Zayan mengerjakan tugas sekolah. Bukan hanya miliknya, tapi juga milik kakak kelas yang suka merundungnya. Jika ada satu soal saja yang salah, maka hukumannya satu bulan penuh pukulan, belum lagi kejahilan mereka yang kadang tidak terduga. Kehidupan sekolahnya benar-benar seperti neraka.
Melapor ke pihak sekolah pun percuma. Melawan orang-orang dari kalangan atas seperti mereka hanya membuang-buang tenaga. Selama uang dan kekuasaan berpihak pada orang-orang itu, hukum tidak bisa menyentuhnya.
Tapi sisi baiknya Zayan yang masih kelas X sudah belajar materi kelas XII. Sebagai siswa pintar yang mendapat beasiswa, mengerjakan soal seperti ini cukup mudah baginya. Toh, sebentar lagi mereka juga akan pergi. Zayan hanya perlu bersabar sebentar saja.
Tok! Tok! Tok!
Atensi Zayan beralih ke jendela kamarnya.
Tok! Tok! Tok!
Semilir angin masuk melalui celah-celah jendela bersamaan dengan bau busuk menyengat. Zayan bisa menebak siapa yang sekarang sedang bertamu di kamarnya. Dengan geram cowok itu mendekati jendela.
"Diem gak lu cong! Gue lagi ngerjain tugas keganggu! Pergi atau gue bacain ayat kursi!" omel Zayan.
Pocong keliling berwajah hitam yang suka menakut-nakuti warga itu menoleh ka jalan. Di mana hantu perempuan yang Zayan temui di halte bus, berdiri di sana. Zayan menghela napas saat gadis hantu itu menghampirinya.
"Makasih ya om udah ditunjukin." Begitu si gadis hantu mengucapkan terima kasih, pocong itu pun menghilang. "Halo, Kak ...."
"Mau ngapain lagi sih?!"
"Aku boleh masuk gak, Kak?"
"Gak boleh!! Anak perempuan gak boleh masuk ke kamar anak laki-laki yang bukan muhrim!!"
"Tapi kan aku hantu, Kak."
"Nah itu lo tau. Gak cuma jenis kelamin kita aja yang beda, tapi dunia kita juga! Sana sana pergi!!" Zayan menutup rapat jendela kamarnya.
"Kak ... aku mohon tolongin aku. Cuma kakak satu-satunya harapanku," lirih gadis itu, hampir putus asa. "Aku janji setelah urusanku selesai, aku bakal pergi selamanya dari kakak, aku gak bakal ganggu kakak lagi."
Lama ia berdiri di depan jendela kamar Zayan, berharap Zayan mau menolongnya. Tapi bahkan sampai matahari terbit pun Zayan tidak juga menggubrisnya.
***
Sebelum masuk ke kelas. Zayan mampir dulu ke belakang sekolah untuk menemui kakak-kakak kelas sok jagoan yang kerap membullynya. Di sana ia sudah ditunggu oleh mereka berlima.
"Lama banget sih lo!" protes Satria.
Zayan tak menanggapi, ia mengambil buku-buku dari dalam tasnya, lalu memberikannya pada mereka.
"Bener semua kan ini?" tanya Richo, si ketua. Zayan mengangguk mantap.
"Awas aja kalau ada yang salah, lo gak akan bisa lepas dari kita," ancam Julian.
"Udah kan, Bang. Gue pergi." Zayan yang hendak pergi ditarik kerah baju belakangnya oleh Satria.
"Eits, enak aja mau langsung pergi. Joget dulu dong."
"Nah cakep," setuju Richo, ia duduk di meja yang sudah tak terpakai, bersebelahan dengan Fasha.
Zayan menatap satu per satu wajah-wajah di depannya. Richo, Satria, Julian, Hans dan Fasha. Dari kelimanya hanya Fasha yang hampir tidak pernah membullynya. Cowok itu akan ikut andil kalau moodnya lagi buruk, kalau tidak, ia hanya akan jadi penonton.
Di antara kelimanya, Fasha yang paling tampan dan kaya raya. Ia berasal dari keluarga terpandang yang dihormati banyak orang. Tapi sikapnya tidak sebossy Richo, tidak semena-mena Satria dan Julian, juga tidak sekasar Hans. Ia bergabung dengan Richo karena mereka teman dari kecil.
Selain itu Fasha juga salah satu siswa emas sekolah, sama seperti Zayan. Ia pintar dan berbakat. Semua gadis mengaguminya, cuma ya itu, namanya juga orang tampan, pastinya sombong dan suka seenaknya. Beberapa kali Zayan mendapati Fasha menolak para gadis dengan kata-kata kasar dan menyakitkan hati. Ajaibnya gadis-gadis itu tetap mengagungkan namanya.
Benar kata orang-orang. Kalau kamu good looking, kamu segalanya.
"Woy, malah ngelamun!" Hans memukul kepala Zayan dengan buku.
Sudahlah, bukan saatnya mementingkan harga diri. Cepat selesaikan apa yang mereka mau kemudian pergi. Lantas Zayan pun mulai menggoyangkan pinggulnya, berputar sesuai instruksi Satria dan Jualian. Richo berteriak menyemangati, sementara Hans diam-diam merekam.
Tanpa mereka sadari jika sedari tadi ada sepasang mata yang mengawasi.
***
Di jam istirahat Zayan tidak pernah ke kantin. Pernah sih, tapi jika ia punya uang lebih. Kalau tidak ia akan menghabiskan waktunya di kelas. Menikmati WiFi sekolah dan bermain game atau membaca buku seperti sekarang.
Namun di sela-sela itu Zayan juga mencuri-curi pandang pada teman sekelasnya, Claudya Amanda Bella, sang primadona baru sekolah. Cantik, pintar, baik dan yang pasti berasal dari keluarga kaya. Nilai plusnya, Claudya sangat ramah, ia mau berteman dengan siapa saja. Itu sebabnya hampir satu sekolah menyukainya, kecuali orang-orang yang iri padanya.
Dan di salah satu orang-orang itu, ada Zayan yang tidak bisa apa-apa selain mengaguminya dari kejauhan. Ia sadar apalah dirinya. Tidak sebanding dengan Claudya dari segi apa pun, kecuali kepintaran pastinya, untuk yang satu itu mereka imbang.
"Liatin siapa hayooo ...."
Zayan tersentak kaget, refleks menoleh ke jendela di sampingnya. Gadis hantu itu duduk di sana sambil menyengir lebar. "Ngapain sih lo!"
"Ngikutin kakak lah, kan kakak belum ngasih kepastian."
"Kepastian matamu! Kan gue udah bilang, gue gak mau! Pergi sana!!" Sadar dirinya ditatap aneh oleh teman-temannya, Zayan lantas tersenyum canggung dan kembali membaca buku.
Si gadis hantu cemberut. "Tadi aku liat kakak dirundung di belakang sekolah. Lawan dong kak jangan diam aja."
Zayan tak menghiraukan. Sampai tiba-tiba seisi kelas tertawa. Zayan bingung. Masalahnya mereka tertawa sambil melihat ke arahnya.
"Ternyata selain cupu, ternyata lo melambai juga ya," celetuk salah seorang teman laki-lakinya.
Zayan mendelik, cepat-cepat mengecek ponselnya. Video saat ia joget tersebar di grub kelas dan grub sekolah. Zayan jelas tidak terima. Terserah mau memperlakukannya bagaimana, tapi jangan divideokan. Takutnya video tersebut sampai ke bunda. Zayan tidak mau melihat bundanya sedih saat tahu anaknya selalu dibully di sekolah.
Tanpa pikir panjang Zayan segera mendatangi kelima kakak kelasnya.

Komentar Buku (224)

  • avatar
    sky_star

    bagus bgt ceritanya bisa bikin ketawa ngakak dan terharu ditunggu lanjutannya

    10d

      0
  • avatar
    Syahfira Indah Ramadani Lubis

    bagus banget alur cerita suka!! ditunggu sambungan ceritanya kak hhe

    15/05

      0
  • avatar
    PutriAkira Himuro

    Cerita pertama yang saya baca diaplikasi ini tapi lupa mungkin sekitar tahun 2022,2023,2024 kali,ya?

    05/04

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru