logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Dewi Mayapada

Dewi Mayapada

Bana


Bab 1 Tanah Surga

Bukan lautan hanya kolam susu.
Kail dan jala cukup menghidupimu.
Tiada badai, tiada topan kau temui.
Ikan dan udang menghampiri dirimu.
Orang bilang, tanah kita, tanah surga.
Tongkat, kayu dan batu jadi tanaman
Koes plus, Kolam susu
Kini ku dengarkan berulang kali lagu itu lewat sebuah earphone. Aku mengenal lagu itu lewat sebuah radio. Sore itu, aku sedang menonton televisi di ruang tengah, ayah pulang dan langsung menyalakan radio. Aku berteriak padanya. Kesal. Lalu, ayah menghampiri dan menyuruh mendengarkan lagu yang di siarkan radio. Sejenak saja katanya. Dengan wajah kesal aku terpaksa mengikuti apa yang ayah pinta. Aku ikuti langkah kakinya. Sesampainya di depan rumah, radio itu memutarkan lagu kolam susu. Terasa asing sekali di telinga. Ayah menjelaskan arti filosofis dari lagu itu. Bibir muramku melengkung menjadi senyuman. Kata ayah lagu itu sering sekali di putar, tapi aku hanya mengingat film kartun. Wajar saja, waktu itu aku berusia sepuluh tahun. Usia dimana film – film kartun adalah film teristimewa. Semenjak ayah mengenalkanku pada kolam susu, lagu itu menjadi salah satu daftar lagu favorite.
Lagu itu mampu membuatku semakin bangga menjadi bagian dari nusantara, Indonesia. Bagiku itu adalah lagu nasionalisme asyik yang tidak lekang oleh waktu. Faktanya Indonesia memang masih seperti yang di katakan koes plus, makanan masih berlimpah. Meski rakyat belum sepenuhnya sejahtera. Itu hanya versiku, seorang anak remaja belasan tahun yang belum mengenal dunia secara nyata.
Lagu kolam susu yang di nyanyikan dengan suara lembut oleh Koesplus, grup musik yang sukses di tahun 60 dan 70 an, memang asyik. Terdengar sedikit berlebihan memang jika lagu itu di hubungkan dengan kenyataan. Bukankah secara logika kita hanya akan memetik apa yang kita tanam?. Jika kita menanam padi kita akan memanen padi. Jika kita menanam biji mangga kita akan memetik buah mangga. Lalu jika tongkat, kayu dan batu yang kita tanam apa yang kita petik suatu hari nanti? Berapa lama tongkat, kayu dan batu memberikan hasil panen, kita akan memanen tongkat, kayu dan batu kemudian memasak dan menggantikan nasi sebagai makanan pokok?. Ah, mana bisa perut lemak mencerna tongkat, kayu dan batu dengan baik. Apa pencipta lagu itu pernah tinggal di negeri dongeng yang ada di Indonesia. Dimana tempatnya? Jika memang ada?. Atau mungkin sang pencipta lagu sedang terlelap dalam tidur malamnya. Kurasa tidak. Lagu tersebut menggambarkan tentang kekaguman band koes plus terhadap tanah air Indonesia yang kaya akan sumber daya alam. Sang pencipta lagu adalah orang hebat yang mampu memahami keadaan geografis Indonesia. Dan aku merasa lirik itu adalah gambaran nyata dari keadaan tanah di wilayah Indonesia.
Sangat luar biasa sekali memang tanah Indonesia. Begitu banyak tambang emas, tambang minyak, tembaga, air, sungai, perkebunan, pertanian, kesuburan tanahnya. Hanya sedikit saja kita berkeringat, kita tidak perlu takut kelaparan. Karena dari Sabang sampai Merauke begitu banyak jenis tanaman yang bisa tumbuh dan berkembang dengan baik di negeriku tercinta, Indonesia. Itu sih bagi orang yang mau berusaha dan bekerja, bukan bagi orang yang hanya berpangku tangan dan melamun tanpa beban.
Keadaan alam seperti ini sudah diakui di dunia internasional, makanya pada masa lalu Indonesia menjadi daerah jajahan negara – negara lain. Lihat saja dari sisi sejarah, Indonesia pernah dijajah berbagai negara seperti Jepang, Inggris, Belanda, Perancis dan sebagainya. Kedatangan para penjajah ke Indonesia bukan sekedar basa – basi atau mau berlibur. Tetapi mereka menyadari potensi kekayaan alam di Indonesia dan bertujuan untuk mengambil kekayaan alam itu. Tak hanya itu, mereka juga menerapkan pemaksaan kerja yang tidak manusiawi. Bekerja mati – matian tanpa pembayaran. Tak terbayangkan kondisi seperti itu terjadi selama 3,5 abad di masa lalu saat masa penjajahan Belanda. Dan negara – negara lain yang lamanya pun mencapai beberapa tahun. Jika aku hidup di zaman itu, aku sudah menjadi butiran debu. Atau menjadi patung di dalam lemari karena takut mati terkena belati. Dan terpaksa harus berpura – pura mati saat kompeni lewati beberapa senti di depan gang menuju pintu rumah. Iya, langsung terjatuh. Tak sadarkan diri. Tak bergerak sama sekali. Dan menahan karbondioksida yang berteriak membawa kawanan.
Sedih memang jika teringat perjuangan para pahlawan. Perjuangan mereka sampai berdarah – darah mempertahankan tanah air seakan tak ada harganya. Saat pengakuan kekayaan alam Indonesia sudah dimiliki secara mutlak melalui proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945, lagi – lagi negara ini kehilangan orang yang menyadari betapa mengagumkannya negeri ini. Banyak orang Indonesia lebih bangga dengan keadaan alam yang ada di luar negeri. Miris sekali melihat orang negeriku, aku teringat akan sebuah petuah yang mengatakan “Rumput tetangga terlihat lebih hijau dan segar”. Kurasa itu benar. Dan aku? Tak dapat mengambil peran untuk sebuah perubahan. Hanya menyaksikan. Diam. Tanpa perlawanan.
Indonesia itu hebat. Buktinya saja tongkat kayu dan batu bisa jadi tanaman. Banyak sekali penafsiran yang dapat kita peroleh dari lirik tersebut. Salah satunya bahwa tongkat kayu di maksud dengan sejumlah tanaman yang bisa di daya gunakan dengan cara stek batang, seperti singkong, ubi jalar, dan lain sebagainya. Sedangkan batu adalah konotasi dari biji – bijian yang nampak seperti batu. Dalam hal ini seperti ubi, kentang, talas, wortel, dan umbi – umbian lainnya. Penafsiran lain menyatakan bahwa Indonesia adalah negeri yang sangat subur, segala macam tanaman yang di tanam di Indonesia dapat tumbuh dengan baik dan subur. Bahkan pohon kurma yang biasa tumbuh di negeri tandus nan gersang bisa tumbuh subur di Indonesia yang beriklim tropis. Rasanya terlalu jauh jika aku mengatakan tanaman – tanaman yang tumbuh di seluruh negeriku. Akan ada puluhan ribu spesies tumbuhan jika aku ceritakan. Belum lagi klasifikasi dari masing – masing spesiesnya. Akan ada ribuan lembar yang aku butuhkan untuk mengungkapkan. Karena menurut Kominfo, kekayaan alam tumbuhan di Indonesia meliputi 30.000 jenis tumbuhan dari total 40.000 jenis tumbuhan di dunia. Dengan 40% tumbuhan endemik Indonesia itu pun hanya 20% yang teridentifikasi. Cukup dibayangkan saja bagaimana penatnya jika ku jelaskan semuanya. Kau tak akan bisa makan dan tidur selama beberapa windu.
Makanya, Tak perlu jauh berkeliling nusantara untuk membuktikannya. Mungkin bisa aku tunjukkan sebagian kecil makna dari lirik lagu itu. Aku buktikan kesuburan tanah negeriku di desa tempat aku tinggal, Banyumudal kecamatan Moga kabupaten Pemalang, Jawa tengah, Indonesia.
Namaku Fina Dwika Saputri, gadis berusia tujuh belas tahun yang akrab di panggil Fina. Aku tinggal di desa Banyumudal. Banyumudal adalah salah satu dari sepuluh desa di kecamatan Moga. Moga merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Pemalang, tepatnya berada di 41 km arah selatan dari Ibukota Kabupaten Pemalang. Berada di ketinggian 500 m di atas permukaan laut. Ke arah barat dari ibukota provinsi Jawa tengah, Semarang. Desa ini masih bisa terlihat adanya bukit – bukit dan persawahan yang membentang luas, sehingga cenderung berhawa sejuk dan asri. Di dukung oleh keadaan geografis yang termasuk wilayah subur sehingga akan mudah di jumpai hutan, kebun, sawah dan ladang yang menjadi sektor utama mata pencaharian penduduknya. Pemandangan hijau yang luas membentang membuat mata ini tak henti – hentinya merasa kagum dan tertegun. Betapa agung ciptaanmu ya Allah.
Aku terlahir dari keluarga sederhana. Kelahiranku didahului seorang laki-laki yang menjadi kakakku. Kedua orang tuaku menjadi petani yang memiliki sawah satu hektar. Sawah itu merupakan warisan dari kakek yang meninggal empat tahun lalu karena terserang penyakit jantung. Kedua orang tuaku menggarap sendiri sawah warisan tersebut, dengan menanami pohon nanas yang tumbuh subur di desaku. Selain kedua orang tuaku, banyak warga lain yang berprofesi sebagai petani. Mereka menanami sawah masing – masing dengan beranekaragam jenis tanaman. Ada yang menanaminya dengan pepaya, pisang, teh, kopi, nanas dan lain sebagainya. Benar kata Pramoedya Ananta Toer, bagi orang kota, keberadaan kami itu memalukan. Tak berarti. Menjijikan barangkali. Tapi bagiku, kamilah orang keren. Jika tak ada kami, mereka tak akan makan enak karena merasa enggan terjun ke sawah, berkotor – kotoran dengan lumpur. Berteman baik dengan ulat dan serangga tanaman.
Tanaman yang mereka tanam bukan semuanya asli produk lokal, ada yang berasal dari luar negeri, seperti pepaya California. Hal ini terjadi karena buah – buahan lokal jarang sekali di minati masyarakat. Buah – buahan lokal memiliki masa tumbuh yang lama. Inilah maksudku orang – orang Indonesia lebih bangga dengan negara lain. Ini hanya sebagian kecil dari desaku. Tapi memang tak ada yang bisa dilakukan lagi selain menerima dengan lapang dada.
Selain itu ada pula yang melakukan penjualan produk tersebut ke luar negeri, karena di luar negeri lebih mendapatkan respon positif dari para konsumen. Seperti yang sudah pernah kukatakan. Lagi – lagi Indonesia kehilangan warganya untuk mempercayakan segala sesuatu kepada negara. Begitu kata kakakku ketika aku sedang duduk menemani Ayah dan Ibu yang sedang memanen disawah saat masa panen nanas.
“Bu, buah – buahan yang disini banyak yang suka ya”. Pujiku.
“Iya. Fina tau itu buah – buahan dari mana?” Ucap Ibu.
“Buah – buahan khas daerah Pemalang”. Jawabku dengan bangganya.
“Kata siapa?” Tanya Ibu memastikan jawabanku.
“Orang – orang kalau mau membeli nanas ibu, mereka mengatakan nanas Belik. Berarti itu khas daerah Pemalang. Meskipun bukan khas daerah Moga. Tetap saja itu berasal dari Belik, desa tetangga” Ujarku dengan penuh percaya diri.
“Hahaha... kamu tau teori itu dari mana dek” Ejek kakakku yang baru saja datang ke sawah sambil membawa karung – karung besar untuk mengangkut hasil panen nanas.
“Kata orang – orang”. Jawabku dengan lantang.
“Jangan terlalu percaya dengan berita hanya karena banyak omongan dari orang – orang dek. Kata orang itu bukan teori yang pasti ”. Ungkap kakakku.
“Lalu yang benar apa kak”. Tanyaku.
“Bukannya sudah ka Arda ceritakan tentang asal usul nanas madu?” gerutu ka Arda.
“Ah iya, Fina baru ingat” jawabku setelah mengingat bahwa nanas madu memang bukan asli dari Pemalang tetapi dari daerah lain yang kemudian cikalnya dibawa ke Pemalang untuk ditanam dan tumbuh subur di daerah Belik Pemalang. Lalu karena unsur tanahnya yang berbeda dengan cikal nanas yang dibawa, maka rasa nanasnya berbeda dan nanas yang ditanam di Belik menjadi manis kemudian di sebut nanas madu.
“Kamu itu mirip nenek – nenek. Pelupa. Sebentar kakak bantu Ayah dan Ibu untuk mengumpulkan nanas – nanasnya. Nanti kakak ajak berkeliling dan jelaskan semuanya”. Ujar kakak sambil berjalan ke arah sawah untuk memungut nanas yang sudah di panen Ayah.
“Baiklah”. Ucapku. Aku menunggu kakak selesai membantu ayah dan Ibu. Ayah terlalu sibuk memanen nanas sehingga tidak mendengar apa yang di bicarakan.
“Ayo, dek” Ajak kakak sambil meletakkan dua karung yang berisi nanas penuh di pinggir sawah. Ayah dan Ibu mengikuti kakak dari belakang untuk beristirahat.
“Ibu, Fina dan kakak pergi dulu ya” Pamitku.
“Iya hati – hati”. Jawab Ibu sambil meminum teh yang sudah aku siapkan di dalam gelas.
Kakak mengajak berjalan menelurusi perkebunan – perkebunan warga sambil menjelaskan segala tentang tanaman yang di lalui. Sedikit aku ceritakan tentang kakak. Kakak laki – lakiku bernama Arda Edelweis. Aku memanggilnya kak Arda. Penampilannya selalu sederhana. Sangat sederhana. Seringkali hanya menggunakan kaos hitam polos dengan celana pendek atau celana jeans panjang. Mungkin banyak orang yang mengira kak Arda tidak pernah mandi karena selalu memakai baju sama selama beberapa hari. padahal kak Arda selalu mengganti pakaiannya. Selalu mandi dua kali sehari. Mandinya juga pakai sabun. Bahkan kadang juga pakai miyak wangi. Sayangnya di dalam lemari pakaiannya memang banyak baju yang sama. Kaos hitam yang polos ada lima, kaos lainnyapun mempunyai setidaknya dua motif yang sama. Sehingga bisa saja banyak orang yang mengira kak Arda tidak pernah mengganti pakaiannya, sekedar menyemprotkan minyak dibajunya. Tapi, kak Arda bukan tipe orang yang mudah terpengaruh dengan omongan orang sekitar.
Kak Arda menjadi siswa lulusan SMK 1 Negeri Pemalang, jurusan Industri. Bukan lulusan terbaik. Tapi lulusan terhebat, bagiku. Kak Arda sudah lulus SMK sejak dua tahun lalu. Namun baru mendaftar kerja di perusahaan Ibu kota bulan lalu. Aku tidak tau apa nama perusahaan itu. Kak Arda sering bercerita, tetapi aku tidak ingin mengingat nama perusahaan itu. Sungguh. Bagiku, perusahaan itu menjadi pemisah antara aku dan kakakku. Karena aku tau, jika kakak sudah di terima disana dan bekerja selama masa kontraknya, maka kakak akan jarang di rumah. Bahkan tidak pernah lagi. Dan kemungkinan terburuknya, aku hanya akan berjumpa saat hari raya. Itupun hanya beberapa hari. Jadi, untuk apa aku mengingat sesuatu yang membuatku jauh dengan orang yang sangat aku sayang. Jika tidak di terima disana aku merasa kasihan kepada kakak karena selalu merasa tidak enak dengan Ayah dan Ibu.
Kakak adalah sosok laki – laki terhebat yang pernah aku kenal setelah ayah. Kakak selalu mengajarkanku untuk menjadi manusia ikhlas yang bermanfaat. Mengajarkanku untuk selalu menerima segala apa yang aku dapatkan meski tidak sesuai harapan. Kakak tidak pernah membiarkanku dalam kebodohan dan tidak tau apa – apa. Sekecil apapun pengetahuan yang kakak miliki selalu di bagi kepadaku. Seperti saat ini, awalnya kakak memang menertawakan ketidaktahuanku. Kemudian, kakak memberikanku sebuah pengetahuan lebih dari yang ingin aku tau.
Berjarak kira – kira tiga meter dari perkebunan nanas milik orang tuaku, aku sudah berada di perkebunan pepaya milik tetangga. Perkebunan itu sama luasnya dengan perkebunan milik Ayah dan Ibu. Luasnya kira – kira satu hektar. Pohonnya sudah tinggi – tinggi. Daunnya berwarna hijau dan kuning. Batangnya berukuran kecil. Buah pepayanya pun berukuran kecil – kecil. Tetapi buahnya cepat sekali masak. Rasanya sangat manis. Sangat menguntungkan jika di budidaya. Sayangnya banyak warga yang lebih tertarik untuk membudidayakan bukan tanaman lokal karena berbagai alasan. Seperti tanaman pepaya yang sedang aku lihat sekarang. Tanaman itu bukan tanaman lokal, melainkan tanaman California. Entah di bawa menggunakan apa, aku tidak mengerti. Atau penamaan itu hanya sekedar untuk menarik konsumen. Entahlah. Kakak mengatakan padaku bahwa tanaman yang sedang ada di depanku adalah pepaya California.
Tak lama kemudian, kak Arda mengajakku untuk pergi ke kebun teh. Sebuah perkebunan yang dikelola oleh PT. Perkebunan. Perkebunan yang di kelola oleh sebuah instansi memang lebih mendapatkan perhatian dari pada perkebunan kecil – kecilan milik warga. Berjalan sekitar dua puluh menit dari perkebunan pepaya, aku dan Kak Arda telah menginjakkan kaki di perkebunan teh. Perkebunan indah dengan hamparan dedaunan hijau di sepanjang jalan.
“Dek, menurut kamu luas kebun teh ini ada berapa hektar?” Tanya kak Arda setelah memasuki kawasan perkebunan teh.
“Mungkin sepuluh kali lipat dari luas perkebunan kita”. Jawabku setelah berpikir cukup lama untuk memperkirakan luas perkebunan teh tersebut.
“Terlalu sempit. Sepuluh kali lipat itu baru seperempat dari luas perkebunan teh ini” Jelas kak Arda padaku.
“Woooow,,, berarti luas perkebunan ini...” Ujarku berhenti sejenak berpikir luas sesungguhnya perkebunan tersebut. “400 hektar?”. Lanjutku dengan merasa tertegun mendengar luas perkebunan teh yang sedang aku pandang.
Mengetahui perkebunan teh yang sangat luas, aku merasa malu dengan diriku sendiri karena tidak mengetahui apapun tentang lingkungan sekitar. Padahal perkebunan itu hanya berjarak beberapa meter saja dan bisa di tempuh dengan berjalan kaki. Aku memang anak yang tidak begitu suka keluar rumah. Keseharianku hanya berada di rumah, sekolah atau kebun nanas milik Ayah dan Ibu. Di ajak untuk berwisatapun aku sering kali menolak. Makanya aku tidak mempunyai pengetahuan seluas kak Arda. Otakku hanya sanggup menerka sebatas ruang lingkup yang sering aku singgahi. Jika dilakukan perbandingan, otak kak Arda sebesar buku tulis dan aku hanya titik hitam kecil diujung satu lembar kertas.
Mendengar sebegitu luasnya perkebunan teh tersebut, aku semakin penasaran dengan potensi yang ada di desaku. Aku ingin lebih mengenal sejarah lingkungan sekitar. Kami terus berjalan menyusuri perkebunan teh. Aku terdiam mendengarkan penjelasan yang diberikan kakak, seperti seorang siswa yang sedang mendengarkan cerita dari sang guru.
Perkebunan teh yang sedang aku lewati berada di Perkebunan Teh Semugih. Perkebunan teh ini di kelola oleh PTP Nusantara IX (Persero) memiliki luas 400 hektar namun hanya sekitar 280 hektar saja yang mampu berproduksi. Sisanya masih dalam tahap regenerasi. Selain kebun teh, di perkebunan ini juga di lengkapi pabrik teh yang di fungsikan untuk mendukung produksi teh yang melimpah di perkebunan semugih. Hasil olahan teh yang di hasilkan dari pabrik ini di kirim ke beberapa daerah di wilayah Jawa Tengah. Bahkan peruntukannya 90% untuk ekspor dan 10% untuk dalam negeri. Negera tujuan eksport teh semugih antara lain Amerika, Inggris, Rusia dan Pakistan. Selain itu di perkebunan teh semugih juga dilengkapi tempat penginapan yang berjumlah 17 kamar, ada pula aula, lapangan tenis, lapangan voli, lapangan sepak bola, tempat camping. Begitulah kiranya penjelasan detail dan terperinci dari Kak Arda sambil memperlihatkan tempat – tempat yang dijelaskan.
“Makanya nanti kalau di ajak keluar untuk jalan – jalan jangan terus menolak. Kamu pikir jalan – jalan itu tidak pernah mengandung unsur edukatif?” Ujar kak Arda selesai menjelaskan semua yang di ketahuinya tentang kebuh teh Semugih.
“Iya kak. Tapi sebentar lagi Fina mau Ujian Nasional. Kalau mau mengajak jalan – jalan jangan jauh – jauh nanti Fina tidak bisa belajar untuk persiapan ujian bagaimana?” Keluhku.
“Jangan jadikan belajar sebagai alasan untuk tidak mengenal lingkungan. Belajar memang perlu tapi untuk apa menjadi pintar jika pada akhirnya tidak bisa bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat sekitar hanya karena tidak mengetahui keadaan?”. Tegas kak Arda.
“Nanti kalau Fina sudah selesai Ujian Nasional, Fina pasti mau kalau di ajak jalan – jalan bareng kak Arda dan teman – teman kak Arda”. Ucapku.
“Ya sudahlah. Ayo kita pulang sudah hampir sore”. Ajak kak Arda
Pulang dari perkebunan teh Semugih aku langsung membersihkan diri. Kemudian muncul berbagai pertanyaan di dalam otakku tentang PTP Nusantara yang sudah di jelaskan kakak padaku. Bangunan yang kak Arda tunjukkan sebagai PT kurasa adalah bangunan kuno. Kurasa bangunan itu semacam bangunan peninggalan Belanda atau negara lain yang pada zaman dahulu menjajah Indonesia. Mungkin kak Arda belum mengerti sejauh itu. Aku terus menerka – nerka tentang asal usul perkebunan teh semugih tersebut. Aku duduk sambil menyisir pelan rambutku di sofa depan televisi. Pandanganku kosong. Tanganku bergerak lembut. Dan otakku berkelana mencari penjelasan yang membuatku penasaran. Aku menyadari kedatangan Ayah yang duduk di sampingku. Tapi aku tetap diam dan tak berpindah. Sampai Ayah menepuk pundakku dan membuatku terkejut.
“Hey” tegur Ayah.
“Astagfirullah...” Ucapku sambil melempar sisir yang sedari tadi aku gunakan untuk menyisir rambut.
“Memangnya Ayah itu apa Fin? Hantu? Dedemit? Terdengar sangat mengejutkan sekali, hahaha. Jangan melamun Fina”. Saran Ayah.
“Fina tidak sedang melamun yah. Hanya saja Fina masih penasaran dengan sejarah pabrik tua yang ada di perkebunan teh semugih itu”. Jelasku.
“Itu pabrik peninggalan penjajah”. Ujar Ayahku mengawali penjelasan tentang sejarah pabrik tersebut.
“Lalu bagaimana yah?” Tanyaku selanjutnya.
“Bagaimana apanya Fin?” Tegas Ayah.
“Ceritakan tentang sejarah perkebunan teh itu yah” Pintaku dengan memperlihatkan wajah memelas berharap Ayah merasa iba dan mau menceritakan tentang perkebunan teh itu padaku.
“Perkebunan Semugih pada awalnya adalah penggabungan dari dua unit kebun milik perorangan Belanda. Kebun pertama namanya kebun Semugih pemiliknya Louis Matrijs Qriot sedangkan kebun kedua namanya pesantren pemiliknya NV. Handeis Marshapy” Jelas Ayah.
“Lalu selanjutnya bagaimana?” Lanjutku.
“Kamu tanya kak Arda saja, ayah tidak mengerti secara detail. Yang pasti bangunan itu adalah peninggalan Belanda yang di ambil alih oleh pemerintah Indonesia lalu kemudian menjadi milik Indonesia dan di kelola sampai sekarang”. Kata Ayah menjelaskan sejarah singkat tentang perkebunan teh semugih tersebut.
Merasa mendapatkan informasi yang tidak begitu lengkap. Lalu, aku masuk kamar dan membuka internet untuk mencari tau. Ternyata aku menemukan satu website yang menjelaskan sejarah PTP secara lengkap dari zaman penjajahan sampai sekarang.
Setelah pengambilan alih oleh pemerintah indonesia, pada tahun 1957 kedua kebun tersebut di ambil alih oleh pemerintah Indonesia yang terkenal dengan istilah nasionalisasi. Kemudian pada tahun 1961 – 1962 berubah status menjadi perusahaan perkebunan negara (PPN Baru Unit Jawa Tengah IV). Tahun 1963 – 1968 di kelompokkan dalam PPN aneka tanaman IX. Tahun 1968 berubah menjadi PNP XVIII Kebun Semugih. Tahun 1973 status PPN berubah menjadi PTPN XVIII (persero). Tahun 1994 diadakannya restrukturisasi kebun Semugih atau Pesantren masuk dalam PTP Group Jawa Tengah yang merupakan gabungan dari PTP XV/XV/XVIII PTP XIX dengan XXI/XII yang berpusat di Surabaya. Kemudian tahun 1995 kebun Semugih atau Pesantren di gabung atau disatukan dengan kebun Kaligua menjadi kebun Semugih Kaligua. Tahun 1996 terjadi restrukturisasi kembali di mana kebun Semugi atau Kaligua masuk kelompok PTP Nusantara IX (Persero) bernama PTP XV?XVI kantor direksi Semarang. Dan tahun 1999 kebun Semugih atau Kaligua di pisah lagi dari kebun Kaligua menjadi Kebun Semugih. (Sumber:internet).
Selesai membaca sejarah tersebut, aku bisa paham mengapa bangunan itu nampak begitu tua. Ternyata bangunan peninggalan masa penjajahan Belanda yang diambil alih dan kemudian berganti – ganti kepemimpinan. Sebenarnya kebun teh semugih bukan menjadi obyek wisata tetapi karena memiliki kawasan yang luas maka banyak masyarakat yang memanfaatkan lahan tersebut.
Di hari – hari menjelang perayaan hari pramuka banyak sekolah yang menyewakan tempat ini untuk menjadikan perkebunan teh semugih sebagai bumi perkemahan. Dengan alasan tempat sejuk yang strategis dan mempunyai banyak medan untuk melakukan jejak petualang yang menjadi acara paling seru para anggota pramuka. Sekolah yang menyewa tempat di perkebunan teh semugih tidak hanya berasal dari dalam kota, terkadang juga ada kota tetangga yang datang untuk melakukan acara kemah di kebun teh semugih.
Aku baru keluar sejengkal kaki saja sudah banyak yang aku dapatkan. Andai saja sejak dulu, saat kakak mengajakku kesana – kemari untuk berwisata edukatif bersama teman – temannya aku mengikuti, pasti pengetahuanku sudah banyak. Sudahlah. Waktu tidak akan mau untuk berdiskusi dengan hal yang berlalu.

Komentar Buku (10)

  • avatar
    KuotaDokter

    kyanya cerita ya enak

    01/02/2025

      0
  • avatar
    FitrianingsihNova wahyu

    kerenn sihh

    10/03/2023

      1
  • avatar
    IlhamiGhilman

    aku kasih bintang 5 karena novelah adalah apklikasi yang sangat recommended dan buat bahan gabut di dalam aplikasi ini bisa mendapatkan uang nyata dan bisa di widraw kapan pun terimakasih novelah

    27/06/2022

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru