logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 5

Tiga belas tahun yang lalu.
***
Aku hanyalah sales perusahan makanan ringan dari kacang tanah. Tugasku mengantar dan mencatat barang yang keluar dari perusahaan, sekaligus menagih para pedagang yang dititipi produk perusahaan.
Usia pernikahanku baru 7 tahun di karunia anak tiga orang saat itu. Kami bahagia walaupun penghasilanku tidak seberapa. Aku merasa laki-laki paling beruntung bisa memiliki cinta pertamaku.
Kisah hancurnya rumah tanggaku berawal saat aku melewati bangunan rumah dua lantai yang diapit oleh rumah kosong. Tidak banyak bangunan di sekitar rumah tersebut. Jalan utama sering lengang sepanjang hari, begitupun hari itu.
Mobil box yang aku tumpangi hampir melewati rumah itu, ketika sebuah kertas dari sela-sela jeruji daun jendela yang terletak di lantai 2 tertangkap oleh mataku.
"San, stop dulu lihat di sana!" Tanganku menepuk nepuk paha Santoso agar menginjak rem. Dia temanku yang tugasnya sebagai sopir perusahaan.
"Itu, kertas bertulis S. O. S." Telunjukku mengarah ke jendela lantai 2, diikuti oleh gerakan mata Santoso.
"Ayo, kita ke sana dari arah samping. Sepertinya ada yang disekap di sana," ajakku pada Santoso. Ia setuju mengikutiku. Kami mengendap-endap pelan, karena pintu lantai 1 terlihat terbuka, padahal gerbang ditutup.
Sepertinya penghuni lantai 2 mengetahui kalau kami merespon tulisan yang mereka beberkan tadi. Oleh karena itu begitu kami hampir mendekati samping bangunan, ada kertas yang dilipat seperti mainan pesawat, terbang ke arah kami. Dan mendarat satu meter di depan kami.

Aku segera memungut kertas tersebut. Di situ tertulis.
"Tolong kami, kami disekap. Ini tempat penampungan calon TKW illegal. Kami ditipu"
Aku memandang Santoso penuh arti. Ia membaca maksudku. Segera kami beranjak dari situ sambil membawa kertas tersebut sebagai barang bukti.
Santoso mengemudikan mobil box yang dia kendarai ke arah kantor polisi terdekat, jaraknya sekitar 3 km dari rumah tersebut.
Berbekal kertas secarik, kami melaporkan kantor illegal tersebut ke Polisi. Kami juga mengikuti proses penggrebekannya.
Ada 5 gadis yang terperangkap di sana, salah satunya Karin. Keempat gadis dipulangkan ke tempat tinggal mereka semula, hanya Karin yang belum dipulangkan. Dia mengikutiku terus.
"Mengapa kau tidak ikut pulang bersama teman-temanmu?" tanyaku padanya saat aku hendak kembali pulang bersama Santoso.
"Aku tidak bisa pulang, Kak. Orang tua kandungku semua sudah meninggal. Ada ayah tiri, tapi aku takut. Dia menerima uang dari Agen illegal tadi, artinya ia menjualku." ucapnya lirih, matanya berkaca-kaca berkali-kali kedua matanya berkedip menahan air mata agar tak meleleh.
Jujur, aku dan Santoso iba. Sebuah rasa iba yang berbuah mala petaka bagi rumah tanggaku.

Sepanjang perjalanan kami berdiskusi dimana wanita itu akan tinggal, sampai pada sebuah keputusan bahwa ia harus tinggal di sebuah kost-kostan murah. Untuk semenatara aku dan santoso yang membayar kostnya untuk bulan ini. Namun untuk berikutnya kami harap ia sendiri yang berusaha membayar tempat tinggalnya.
Hari-hari selanjutnya kami sering bertemu. Kadang selepas pulang mengantar barang dan mengambil tagihan, aku sempatkan mengunjungi kostnya. Seharusnya aku tidak perlu lagi mengkhawatirkannya, karena ia sudah punya mata pencarian walau hanya sebagai pramusaji di rumah makan ayam bakar.
Minggu demi minggu berlalu, awalnya aku hanya bertemu dengannya seminggu satu kali. Namun minggu berikutnya dua hingga tiga kali. Begitu nyaman berbincang-bincang dengannya.
Suatu sore sekembaliku dari perjalanan kerja, aku duduk di teras bersamanya. Ada kebahagian tersendiri melihat senyumannya dan mendengar suaranya kala bercerita.
Rupanya rasa yang tidak seharusnya singgah mulai menjalari relung hatiku. Bak gayung bersambut ternyata ia menyimpan rasa padaku. Saat kutanya sejak kapan?
"Sejak Kakak datang menolong kami. Saat itu aku bersumpah akan mengorbankan seluruh sisa hidupku untuk membalas budi Kakak,"
jawab Karin sambil menatapku dengan penuh rasa yang entah apa.
Karin juga mengatakan, baginya aku adalah dewa penolong. Lelaki mana yang tak melambung dipuja sedemikian rupa.
"Bisa saja Kakak memilih tidak peduli pada kertas yang kutulis. Entah apa yang akan menimpa pada kami jika itu terjadi, karena sudah seminggu kami di sana dianiaya tiap kali ada yang menanyakan kapan kami diberangkatkan. Lebih buruknya lagi dua temanku dipaksa melayani mereka. Disamping itu mereka hanya memberi makan satu kali sehari, " ceritanya sedih.
Dia yang dulu kurus tak terurus, binar matanya yang sayu, kini berubah bersinar, tubuhnya makin sintal dan berisi. Aku tak menyangka ia jadi begitu memikat, hanya dalam waktu 3 bulan.
Di sini, rasa dan logikaku diuji. Pikiranku jauh menerawang ke sosok cinta pertamaku Seruni. Aku takut menyakitinya, selama ini kami bahagia, dan dia menerimaku apa adanya tanpa mengeluh. Kemudian aku memandang wajah cantik penuh binar di depanku, yang sangat menggoda keteguhan hatiku.
Masing-masing kami masih tahu diri. Dia tahu aku sudah berkeluarga. Jadi kami hanya menjalani, tanpa melewati batas yang tidak semestinya.
Serapat apapun kusimpan rasa yang menyimpang ini, istriku mampu mendeteksinya. Ya, iya merasakan perubahan dalam diriku.
Mekanisme pertahanan egoku segera terbentuk untuk menutupi kesalahanku, aku mulai berkata kasar padanya. Responnya hanya menangis. Aku jadi lebih sensitif untuk hal-hal sepele. Ada rasa takut dia pergi meninggalkanku.
Dulu dia sering bertanya ketika aku terlambat pulang, dan selalu kujawab apa adanya, karena memang tidak ada yang perlu ditutupi. Sekarang aku marah saat dia menanyakan pertanyaan yang sama, aku merasa ia mencurigaiku.
Begitupun waktu sarapan pagi, jika tidak tersedia kopi atau ia lupa mengambilkan makanku di piring, emosiku seketika meledak. Ancaman-ancaman cerai mudah sekali meluncur dari lidahku yang licin. Tidak pernah sekalipun terpikir olehku suatu hari nanti akan ditanggapinya serius.
Di sisi lain pesona Karina semakin terpancar, sedang Seruni makin memudar. Wajah Runi tidak lagi seceria dulu, tekanan dan kesedihan yang bergelayut di wajahnya membuatnya semakin temaram.
Sampai suatu hari aku membanting piring di meja, karena Runi abai dengan kewajibannya.
Kuceraikan dia sore itu tanpa pikir panjang, lalu kuusir dari rumah.
Dengan berurai air mata ia pulang ke rumah ibunya membawa semua anak kami.
Setelah kejadian itu, kupacu motorku membelah padatnya kendaraan di jalan raya menuju kost Karin. Kuungkapkan semua masalah rumah tanggaku padanya. Aku pikir dia akan ikut mendukungku mengusir istriku yang tidak lagi memedulikanku. Namun aku salah.
"Kak, jemputlah dia. Jangan hancurkan rumah tanggamu untuk masalah kecil." Dengan suara lemah lembut dia meminta padaku.
"Aku takut dikemudian hari hari Kakak menyesal. Jadi kembalilah padanya. Hiburlah dia, Kak. Akan sangat menyakitkan diriku jika rumah tangga Kakak hancur," ungkapnya penuh perasaan.
Tidak kusangka Karin akan menyuruhku bertahan bersama Seruni. Rasa ini semakin dalam padanya, ia tulus mencintaiku tanpa harus memilikiku.

Komentar Buku (216)

  • avatar
    Gondo KusumaYuliawati

    bagus , kesabaran Runi ada batasnya dari suami yang mau menang sendiri dan salah asuhan ortu...

    08/04

      0
  • avatar
    GustianiSheila

    hasil kakak ini slalu bagus lho 😍

    05/03/2025

      0
  • avatar
    TlkIdes

    Terima kasih telah mengikuti kak

    16/04/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru