logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 7 Kesan Untuk Pak Rendra

Pak Rendra, itulah nama panggilannya. Dia dikenal galak dan tanpa ampun. Sekali saja berurusan dengan Pak Rendra, itu berarti kehidupan perkuliahan yang damai tidak akan dirasakan lagi.
Kini, Laila takut apakah mungkin dirinya menjadi salah satu daftar mahasiswa yang bermasalah dengan Pak Rendra? Dia benar-benar menghindari itu. Sebisa mungkin Laila harus menjauh dan mencoba tidak berurusan lagi bahkan tidak terlihat saat di kelas nanti.
Laila masuk melangkahkan kaki nya yang sedikit kaku. Ia tidak mendengar adanya balasan salam dari dosen yang bernama Pak Rendra itu. Kedua tangannya saling bertautan di depan menahan takut.
Pak Rendra sudah menunggunya sembari melihat makalah yang Laila buat. Laila yakin pasti dia akan di semprot oleh dosennya.
“Nur Laila.” Pak Rendra membuka suara. Suasana jadi dingin mencekam.
“I-iya, Pak,” jawab Laila terbata-bata. Dosen itu bahkan tidak menatap Laila. Dia sibuk membaca makalah yang Laila buat.
Pak Rendra membuka lembaran makalah Laila dan membacanya dengan teliti. Laila merasa kalut dalam hatinya. Lembaran demi lembaran ia baca satu persatu. Ya, memang cukup lama, dia juga memberikan catatan apa saja yang salah dan perlu diperbaiki. Selama itu Laila hanya berdiri canggung sambil menunggu dosennya selesai.
"Kalau tahu lama begini, kenapa gak manggil pas udah selesai dikoreksi sih? atau seenggaknya suruh aku duduk," batin Laila. Dia menggerutu sendirian.
“Rasanya aku tidak melakukan kesalahan tadi, tapi kenapa aku dipanggil ke sini? Katanya bakal dikoreksi setiap minggu tetapi ini keringat pas presentasi aja masih belum kering di baju udah dipanggil," batin Laila.
Laila memberanikan diri bertanya setelah beberapa lama berdiri tanpa adanya perbincangan, kakinya juga sudah mulai pegal hingga mati rasa. Laila sebenarnya hanya tidak tahan berlama-lama di ruangan Pak Rendra, ia merasa kurang nyaman. Apalagi hanya mereka berdua yang ada di ruangan itu.
“Ma-maaf P-Pak. Ada apa ya saya dipanggil ke sini?” Laila menunduk, melihat sepatu atau apapun yang kebetulan ada di lantai setelah bertanya demikian.
“Apa wajah saya ada di bawah sana, Laila?” tanya Pak Rendra.
"Ti-tidak, Pak," ucap Laila, dia segera memandangi Pak Rendra dan kembali menundukkan pandangannya.
"Padahal dia sendiri juga gak ngeliat aku? Apa perlu aku juga bilang ke Bapak 'apa wajah saya ada di makalah itu, Pak?'" batin Laila. Dia mengulangi apa yang dikatakan oleh Pak Rendra.
"Sepertinya lantai itu lebih tampan dari wajah saya," ucap Pak Rendra.
"Maaf, Pak. Saya tidak terbiasa menatap seseorang apalagi Bapak adalah dosen saya," jelas Laila. Dia malas berurusan dengan Pak Rendra yang sendirinya juga tidak melihat ke arah Laila.
"Coba sekali lagi lihat saya. Saya tidak semenakutkan itu sehingga membuat kamu gemetaran," ucap Pak Rendra. Dia tahu sejak tadi Laila merasa takut.
Laila salah tingkah, tidak tahu harus berbuat apa. Ia mengepalkan tangan dan mengumpulkan keberanian untuk melihat dosen killernya itu sekali lagi.
"Toh, dia juga sibuk dengan makalah itu," fikir Laila.
Saat Laila melihat ke arah Pak Rendra yang dia kira tidak akan melihatnya itu, tetapi saat itu Pak Rendra sudah fokus ke Laila. Mata mereka saling beradu, terlihat jelas mata indah milik Pak Rendra membuat Laila sedikit goyah. Segera Laila memalingkan pandangannya untuk kesekian kali.
“Apa kamu bersyahwat ketika melihat saya sehingga kamu tidak berani untuk menatap mata saya?” pertanyaan dari Pak Rendra sukses membuat Laila merinding, badannya tiba-tiba terasa panas setelah degup jantung yang lebih keras dari biasanya. Ya, Laila terkejut. Laila merasa ada yang tidak beres dengan dosen itu. Perkataan seperti itu terdengar tidak sopan di telinga Laila.
"Apa otaknya tidak bisa digunakan untuk bagian sopan santun?" batin Laila bertanya-tanya. Laila kesal setelah menerima perkataan dari Pak Rendra.
“Maaf, Pak. Tapi sepertinya pertanyaan dari Bapak sedikit tidak sopan untuk saya sebagai perempuan.” Laila sudah tidak perduli lagi dengan nasibnya setelah ini. Di luar dugaan, respon yang Pak Rendra berikan tambah membuat Laila geram.
"Kenapa tidak kamu laporkan saja saya? Katakan bahwa saya sudah melecehkan kamu." Pak Rendra berkata seperti itu bukan apa-apa baginya.
"Pak! Saya menghormati Bapak sebagai dosen. Tolong jangan hilangkan respect saya terhadap Bapak!" seru Laila dengan suara yang sedikit meninggi. Bagaimanapun hal seperti ini tidak dapat di toleransi oleh Laila.
“Saya permisi, Pak.” ucap Laila kemudian. Ia sangat marah. Laila segera melangkah dan meraih gagang untuk membuka pintu tetapi deep voice itu kembali bersuara.
“Saya belum selesai, Laila," ucapnya menahan Laila.
Laila menarik nafas panjang, berbalik dan memperlihatkan senyum yang terpaksa ia lakukan. Entah sejak kapan Pak Rendra sudah berada di belakangnya, ia berdiri satu langkah dari meja. Jaraknya dan Laila hanya tiga langkah sekarang.
Pak Rendra sibuk dengan makalah Laila, sedangkan Laila sudah sangat malas dan hanya ingin pergi dari situ. Dia tidak menyangka Pak Rendra yang diidam-idamkan banyak teman dan juga senior di kampus mereka adalah seseorang yang akan bersikap tidak sopan seperti ini terhadap mahasiswi baru.
Apa dia memang orang yang seperti ini? Begitulah fikiran Laila. Kesannya terhadap Pak Rendra semakin bertambah.
Pak Rendra membuka suara. “Untuk pemula saya rasa presentasi kamu sudah cukup bagus.”
Tentu saja Laila sangat senang dipuji terkait hasil kerja kerasnya yang dilakukannya hingga kurang tidur beberapa hari hanya untuk mengerjakan tugas dari Pak Rendra. Senyum tulus merekah di pipinya. Moodnya kembali, tetapi bukan berarti dia melupakan hal tadi.
“Hanya saja apa ini yang kamu sebut makalah?” tanya Pak Rendra, suaranya terdengar lebih tegas dari pada tadi dan mood Laila mengepakkan sayap lalu pergi entah kemana. Senyum Laila memudar,.
Melihat Laila yang hanya terdiam, Pak Rendra pun kembali mengambil alih. “Tidak rapi seperti hasil copy paste. Makalah ini juga tidak sesuai dengan ketentuan penulisan yang saya berikan. Perbaiki dan berikan kepada saya minggu depan. Sekarang kamu boleh keluar.” Pak Rendra memberikan makalah kepada Laila kemudian berbalik. Setelah senyumnya juga hilang kini hanya ekspresi datar yang tersisa.
“Baik, Pak,” ucap Laila dengan nada malas. Dia lesu setelah mengambil makalahnya.
Pak Rendra kembali berbalik menghadap Laila. “Kamu bisa lihat catatan di setiap halaman yang saya tulis. Perbaiki saja dan ikuti sesuai perintah saya!" ucap Pak Rendra.
“Baik, Pak. Saya permisi.” Laila membuka pintu. Ia melihat seseorang yang berada tepat di depannya menghalangi pandangan.
Dahi Laila menyerngit. “Kevin?” tanyanya heran.

Komentar Buku (181)

  • avatar
    Manda Putri

    Bagus

    01/07/2025

      0
  • avatar
    YantoSipur

    bagus

    29/06/2025

      0
  • avatar
    michelle

    bagus

    14/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru