“Selamat pagi,” sapa Dosen itu. Aura dingin melekat pada dirinya. Namun, ada aura yang berbunga-bunga dari fansnya yang matanya terlihat hampir copot memandangi dosen tersebut. “Pagi, Pak,” jawab serentak semua mahasiswa dan mahasiswi yang berada di kelas dan yang paling semangat adalah kumpulan senior-senior itu. “Silakan yang presentasi hari ini maju ke depan!” perintah sang dosen tanpa basa-basi atau sambutan hangat kepada mahasiswa/mahasiswinya. Dia tidak seperti dosen lain yang kadang mengajak mahasiswa bercanda sebelum memulai kuliah. Perkuliahan pertama di hari senin seperti bencana.q Seorang wanita berhijab bangkit dari tempat duduknya. Ia meminta teman sebelahnya untuk keluar dari barisan kursi yang menyatu itu agar ia dapat keluar. Dengan hati yang deg-degan takut jika hasil presentasinya jelek, ia mengayunkan kaki jenjangnya menuju ke depan. Telapak tangan dan kakinya dingin seketika. Keringat mengucur dari tubuhnya. Dia juga beberapa kali berdehem meskipun tenggorokannya tidak gatal. Ia berhati-hati menyentuh proyektor dan menyambungkan ke laptop miliknya. Beberapa kali ia gagal, tangannya gemetar tidak tahu apa yang sedang ia kerjakan. Pikirannya tiba-tiba kosong ditambah sang dosen yang menatap dirinya tajam dari sudut jendela dengan tangan melipat di dada. “Kenapa lama sekali?” tanya dosen itu dingin. Mahasiswi itu tersentak mendengarnya. "Apaan sih lama banget, niat presentasi gak sih?" tanya seorang senior wanita yang termasuk fans si dosen. Dia seringkali mengomentari mahasiswi lain. Entah kenapa si dosen juga tidak pernah menegur mahasiswi itu. Provokasi yang dilakukan senior tadi berhasil. Senior lain juga turut memarahi karena waktu semakin terbuang. Mungkin tujuannya memang untuk mematahkan mental mahasiswi baru yang pertama kali presentasi. Tangannya semakin gemetar, tiba-tiba seorang lelaki bersuara dari kursi mahasiswa. “Boleh saya bantu Laila, Pak?” tanyanya sopan dengan tangan kanan yang mengacung ke atas. Pertanyaannya cukup untuk membuat seluruh kelas terdiam. Beberapa mulai menyadari kehadiran dan ketampanannya. Dosen itu diam sejenak sebelum berbicara. Ia memainkan bolpoin ke rahangnya yang terlihat bagus dan menambah kekaguman mahasiswi yang lain, banyak yang gagal fokus di kelas ini. Pasalnya, ada dua lelaki yang kini memanjakan mata. Dosen itu mengangguk pelan, mempersilakan Kevin untuk maju membantu Laila. Dengan sigap, Kevin segera menuju ke tempat Laila. “Tenang, Laila. Santai, tarik nafas dan buang. Jangan dengerin ocehan senior-senior itu. Mereka cuma cari perhatian padahal otaknya nol,” bisik Kevin. Dari perkataannya dia terlihat kesal. Laila pun mengikuti perkataan Kevin. Ada tatapan tidak suka dari ujung sana yang mereka rasakan. Hanya butuh waktu sebentar saja bagi Kevin untuk menyambungkannya. "Dasar caper," ucap seseorang tidak suka. “Oke, sekarang sudah tersambung. Semangat presentasinya! Ingat jangan dengerin.” Kevin kembali ke tempat duduknya. Laila pun memulai presentasi yang debaran seperti akan sidang. Dia mengerahkan segalanya untuk tampil baik hari ini seakan inilah penentu untuk hidupnya ke depan. Belum sempat Laila membuka presentasinya, dosen tadi tiba-tiba menghentikan Laila. "Kamu." Dosen menunjuk seorang perempuan dari kursi mahasiswi. "Saya, Pak?" tanya mahasiswi yang ditunjuk itu. Dia tidak bisa menutupi ekspresi senang di wajahnya. "Iya," jawab dosen dingin. Mahasiswi tadi berjalan ke depan dengan gembira. "Keluar!" perintah dosen. "Loh, kenapa? Saya di sini mau belajar, Pak," ucap mahasiswi tadi. "Belajar? Tas kamu tidak bawa, buku juga, pulpen juga. Dari tadi saya perhatiin kamu selalu melihat cermin bahkan kamu juga membawa make up dan memakainya terang-terangan di kelas saya. Selama ini saya diam karena saya fikir kamu akan berubah. Tetapi, sepertinya tidak. Kamu hanya cari perhatian di kelas ini." Laila tidak mengira, senior yang mengatainya caper tadi kini kena batunya. Setelah senior perempuan tadi keluar dari kelas, sang dosen mempersilakan Laila untuk mulai. Laila masih terbayang betapa kesalnya senior tadi yang terlihat jelas di wajahnya. Laila membuka presentasi dengan mengucapkan selamat pagi terlebih dahulu. Ia mulai menjelaskan secara runtut, beberapa kali ia melirik dosennya yang dingin itu hingga mereka bertukar tatap dan Laila pun segera memalingkan wajahnya. "Menyeramkan," batin Laila. Dia takut bernasib sama seperti salah seorang senior yang disuruh keluar olehnya. Semua berjalan lancar, pertanyaan demi pertanyaan yang diberikan oleh audiens pun bisa dijawab oleh Laila hingga ia menutup presentasinya di akhir. Dosen itu mengambil alih dan menjelaskan kembali apa yang sudah Laila sampaikan. Terlihat lekungan di kedua sudut bibir Laila, ia tenang karena tidak ada komentar apapun dari sang dosen, penjelasannya pun hampir sama dengan Laila. Senior lain berbisik-bisik dibelakang. Mereka tidak menyangka bahwa salah satu temannya disuruh keluar begitu saja. Mereka juga tidak berani mengangkat muka karena malu didepan juniornya. Laila santai saja, tetapi senior itu merasa yang terjadi pada dirinya itu karena Laila. Laila yang lama membuka presentasi dan membuat dosen marah lalu melampiaskan ke dirinya yang tidak bersalah. Jam mata kuliah itu berakhir. Laila bersiap untuk ke kantin bersama Linda dan tentu saja Kevin juga ikut. Mereka menunggu dosen es itu menutup pertemuan hari ini. “Laila, habis ini temui saya di kantor," ucapnya sesaat sebelum dirinya keluar kelas. “Ba-baik, Pak.” Laila terkejut dengan perintah sang dosen. Dia pun terbata-bata ketika menjawab dosen itu. “Mati aku,” ucap Laila lirih. Ia mengira pasti ada yang salah dengan presentasi yang dilakukannya hari ini. Kalau bukan itu apalagi yang akan dilakukan oleh dosen yang tidak tampak memiliki rasa kemanusiaan itu. Jantung Laila berdetak cepat, entah kesalahan apa yang dilakukannya tetapi ia sama sekali tidak menemukan jawaban. Wajahnya berubah menjadi pucat pasi sedetik setelah dosen itu keluar. "Habis lo," ucap senior yang lain kemudian mereka meninggalkan kelas. "Mereka kenapa sih?" tanya Linda heran. "Mereka gak suka kalau ada yang lebih cantik dari mereka," jawab Kevin. "Mungkin juga ya. Tapi kan mereka udah keterlaluan banget, sok jadi penguasa lagi di kampus." Linda terlihat kesal. Sementara Linda dan Kevin membicarakan senior menyebalkan, Laila bergulat dengan fikirannya, "Baiklah, aku pasti bisa melalui ini. Bismillah," batin Laila. Ia mengepalkan kedua tangan. Linda menepuk pelan bahu Laila, ia menggeleng pelan seakan mengasihani hidup Laila, hembusan nafas pelan menambah drama. Laila semakin putus asa, merasa hidupnya akan benar-benar berakhir. Semangat tadi mendadak hilang. Laila terus meyakinkan diri, ia merasa tidak melakukan apapun yang membuat dosen itu marah. Ia terus berusaha untuk berani sepanjang perjalanan menuju ruangan dosen. Semangat memburu datang tiba-tiba dan juga hilang seketika. Baru saja Laila merasa berani, kini ia menjadi ciut setelah berada di depan pintu ruangan dosen tersebut. Ia mengetok pintu. “Assalamu’alaikum. Permisi saya Laila, Pak.” “Masuk.” Suara dingin dengan deep voice yang hampir sama dengan Kevin menyambut kedatangan Laila. Laila merinding seketika. Bersambung...
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
Bagus
01/07/2025
0bagus
29/06/2025
0bagus
14/06/2025
0Lihat Semua