“Ka-kami salah jalan, Pak," ucap Linda gelagapan. Lelaki itu menatap sinis, melihat tangan Linda yang memegang balok kayu. “Lalu, itu apa?” dia menunjuk Linda. Mata Linda membelalak. “Oh, ini tadi untuk angkat beban saja, Pak. He he.” Hanya itu yang terbesit dalam fikiran Linda saat ini. Memang tidak masuk akal, Laila juga tidak percaya dengan ucapan Linda. “Ya sudah kalau begitu kalian mau ke mana?” tanya lelaki yang menggunakan seragam satpam itu. Laila tidak menyangka bahwa alasan tidak masuk akal dari Linda ternyata tidak menimbulkan kecurigaan. “Kami mau ke kantin, Pak," jawab Laila. Laila tidak berani melihat Pak satpam, wajahnya tampak sangar. Dia sepertinya adalah tipe orang yang tegas dan berwibawa. “Ayo, saya antar!” Ia menawarkan bantuan. “Tidak perlu repot-repot mengantar kami, Pak. Tolong tunjukkan saja di mana arahnya,” tolak Linda sopan. Dia malu jika ketahuan dengan mahasiswa lain. Kejadian seperti inj cukup mereka saja yang tahu. Pak Satpam pun menunjukkan jalan kepada mereka. Mereka berterima kasih kepada Pak Satpam yang menunjukkan jalan tadi dan kemudian mereka pergi menuju kantin. Lelaki yang membuat mereka salah sangka tadi juga turut pergi bersama mereka. Sedikit tidak masuk akal, tetapi memang itulah yang terjadi. "Gudang tadi sudah tidak digunakan sejak lima tahun yang lalu dan sudah menjadi peraturan tidak tertulis bahwa mahasiswa dilarang masuk ke sana," tutur Pak Satpam tadi. Pantas saja mereka merasan aneh karena sangat sepi bahkan tidak ada yang berani memasukinya. Pak Satpam tadi memang ditugaskan untuk menjaga lorong itu. Sampai di kantin mereka duduk di satu meja yang sama karena semuanya sudah penuh. Mereka terdiam, bak meratapi diri sendiri, menikmati makanan dengan kepala tertunduk dan hanya menatap ke satu arah. Linda menyerngit. "Ngapain Lo duduk bareng sama kita?" tanyanya ketus. Dia baru sadar bahwa lelaki tadi juga makan di meja yang sama dengan dia dan Laila. "Karena gak ada meja yang kosong lagi," jawab lelaki itu santai. Dia pun kembali menikmati makanannya. Linda melihat sekitar dan memang hanya meja yang mereka tempati yang tersisa. Semuanya penuh di isi oleh mahasiswa lain dan ada beberapa dosen yang mereka kenal makan di sana. “Nama lo siapa?” tanya Linda lagi. “Kevin.” Jawab lelaki itu dingin. Ia masih menyantap makanan dengan mimik wajah datar. Sementara Laila makan dengan diam dan memperhatikan mereka berdua. Begitulah pertemuan pertama mereka, diawali dengan kesalahpahaman dan terus bertemu setiap hari karena satu kelas dan jurusan. *** (Satu minggu setelah kejadian) Laila masih saja merasa canggung dengan Kevin. Terlebih Kevin pun bersikap sedikit tertutup dan kadang ia terlihat seperti orang lain di mata Laila. Kevin dijuluki manusia es yang anehnya memiliki banyak penggemar karena visualnya benar-benar memanjakan mata. Entah mengapa sejak kejadian di gudang itu, Kevin selalu mengikuti Laila dan Linda. Dia terus muncul disekitaran mereka. Laila sudah mulai terbiasa dengan Linda. Linda baik, ceria, dan cantik, tetapi dia cenderung tidak suka membicarakan hal yang bersifat pribadi. Dia hanya membicarakan hal-hal umum, Laila hanya mengikuti saja. Sedangkan Laila di mata Linda menjadi seorang pemalu dan agak menjaga jarak dengan siapa pun. Laila dinilai pandai menarik batasan dengan setiap lawan jenis yang mendekatinya. Awalnya Linda mengira bahwa Laila menjaga jarak kepada lelaki yang mendekatinya karna menjaga fitrahnya sebagai perempuan. Namun, hal itu juga terjadi saat sedang bersama Linda, beberapa kali Linda merasa seperti itu. Mungkin ada rasa tidak nyaman yang membuat Laila tidak ingin terlalu dekat dengan teman-temannya atau bisa saja Laila memang sengaja bersikap tertutup atau Laila memang terbiasa untuk bersikap lebih hati-hati dan waspada. Kevin pun beranggapan sama, ia melihat Laila tidak nyaman berada di kerumunan bahkan ketika hanya bersama dengan Linda. Mereka saling menyimpan fikiran, tidak bersuara atau bertanya mengapa. Privasi penting bagi mereka. Hari ini jam masuk pukul 10.00 Wib. Seperti biasa Laila berangkat lebih awal menggunakan motor. Langkahnya berat karena hari ini ada mata kuliah yang kurang ia sukai. Laila menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Kedua tangannya memegang helm berwarna hitam. “Baiklah, mari kita pergi menemui dosen perfeksionis itu.” Ia segera memasang helm dan menaiki motor matic kesayangannya. Tidak butuh waktu lama, ia sampai tepat waktu. Seluruh ruangan dan isinya terlihat lesu saat Laila memasuki kelas 405 itu. Anehnya, kelas tersebut selalu penuh, kebanyakan yang masuk adalah senior perempuan. Mungkin, lebih bisa dibilang caper dengan dosen ganteng daripada belajar. Linda melambaikan tangan ke Laila. Laila segera pergi menghampiri Linda dan duduk di sampingnya. “Sudah siap disemprot Bapak?” tanya Linda. Laila memegang kepalanya yang tertunduk dengan kedua tangan. “Ah, bisa gila aku.” Ia menggerutu. “Aku pasti bisa melalui hari ini. Pasti!” batin Laila. Ia mengepalkan kedua tangan. Linda menatap Laila heran. “Jangan bilang lo udah gila sebelum waktunya.” Ia masih menatap Laila tajam. Mereka saling bertatapan. Laila memberikan tatapan kosong dan juga sedih bersamaan seakan nyawanya benar-benar melayang. "Gue denger-denger ada mahasiswa yang pindah kampus gara-gara dosen itu!" seru Linda. Ia asik menggosip bersama Laila. Laila yang mendengar itu pun semakin takut, bagaimana jika dia membuat kesalahan dan akhirnya bermasalah dengan dosen tersebut. Hidupnya di dunia kuliah masih panjang dan bisa jadi akan terus bertemu dengan dosen tersebut. "Hati-hati ya, bund," ucap Linda dengan ekspresi sedih. Laila melayangkan tatapan sinis dengan satu ujung bibir yang terangkat. Linda hanya tertawa kecil melihatnya. Dia senang menggoda Laila. “Geser!” perintah dari seorang lelaki dengan deep voicenya dan berhasil membuat kedua orang tersebut tersentak kaget. “Ngapain lo di sini?” tanya Linda. Matanya sinis melihat ke arah suara. “Menurut lo? Gak mungkin dong gue ke sini mau makan, ya jelas gue mau duduk terus menghayati mata kuliah yang diberikan dosen hari ini," jawabnya menyeloteh. "Menghayati apa tidur," sindir Laila dengan suara lirih. “Ya, itu gue juga tahu. Tapi kenapa dari sekian banyak kursi yang masih kosong lo malah milih duduk di sini?” tanya Linda heran. Ia mengangkat kedua tangan sembari bahunya juga terangkat. “Gak ada alasan khusus.” Linda mencibir, menggerutu tidak jelas mengikuti gaya Kevin. “Geser, Laila.” Deep voice Kevin yang ia ucapkan dengan lembut sukses membuat kata-katanya terdengar seksi, terlebih saat mengucapkan nama Laila. Laila yang mendengarnya pun bergidik seluruh tubuh, tidak hanya itu Laila juga mematung seketika saat menoleh dan mendapati wajah Kevin sangat dekat dengan wajahnya. "Kebiasaan lo, ya!" Linda mendorong wajah Kevin agar menjauh dari Laila. Menyadari ketidaknyamanan Laila, Linda memberi saran untuk bertukar tempat duduk, tetapi dosen killer yang mereka takuti sudah masuk ke dalam kelas. Laila pun berada di tengah antara Kevin dan Linda.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
Bagus
01/07/2025
0bagus
29/06/2025
0bagus
14/06/2025
0Lihat Semua