logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 4 Tiga Serangkai

Mereka panik karena tidak menemui satu orang pun di kampus yang besar ini. qKarena seharusnya jalan yang mereka lalui adalah jalan menuju kantin yang pastinya akan banyak mahasiswa dan mahasiswi lain lalu lalang.
Mereka sudah sampai di ujung lorong, hanya tersisa satu pintu di sana yang tertulis jelas itu adalah gudang. Linda meraih gagang pintu dan membukanya, tumpukan kotak kardus dan banyak lembaran kertas hvs yang jauh dari kata rapi alias berserakan bergelimpangan di sana.
Linda melihat ke Laila, mengangguk pelan yang mengartikan bahwa mereka harus masuk ke dalam sana untuk menghindari lelaki tadi. Entah apa maksud dari lelaki itu, tetapi untuk saat ini lebih baik menghindar.
Saat Linda dan Laila setuju untuk masuk, lelaki itu sudah memegang tangan Laila. “Huuaaaaa! Tolong!!” sontak Laila berteriak minta tolong. Suaranya memenuhi Lorong.
Linda berusaha untuk menyelamatkan Laila. Dia memukul pergelangan tangan lelaki itu namun hasilnya nihil. Lelaki itu tetap tidak melepaskannya. Akhirnya Linda dengan akal yang sudah di ujung tanduk mengambil apa saja yang ada di sekitar untuk memukul lelaki tersebut. Dia menemukan bekas balok kayu yang sudah tidak terpakai. Ia pun mengambil balok itu dan mengayunkannya untuk memukul lelaki tadi.
“Stop! Stop!” ucap lelaki itu. Sebelum dirinya dipukul oleh Linda.
“Aku bukan orang jahat!” timpalnya dengan suara yang sedikit meninggi.
“Lalu kenapa kamu mengikuti kami seperti ini? Dan lepaskan dulu tanganmu dari tangan temanku.” Linda menghalangi lelaki itu dengan sebalok kayu persegi.
“Oke, Oke. Aku lepasin.” Ia pun melepas tangan Laila. Kini, dia mengangkat kedua tangannya seolah seorang pencuri yang tertangkap.
“Aku ngikutin kalian karena aku juga mau pergi ke kantin," jelasnya. Ia masih terengah-engah karena berlari.
“Tapi kalian malah salah jalan, aku dari tadi berusaha untuk ngasi tahu tapi kalian malah lari ketakutan dan pastinya udah ngira yang enggak-enggak," timpalnya.
Laila dan Linda saling bertatapan. Laila mengangkat satu alisnya menunjukkan arti kebingungan. Ternyata selera humor mereka sama.
Linda menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal. “Sorry, sepertinya kita memang salah belok," ucap Linda pada Laila.
Laila menghela nafas, ia cukup geram-geram gemas dengan Linda. Mereka sudah berprasangka buruk terhadap lelaki itu. Seharusnya mereka tanyakan saja terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan untuk berlari.
"Tapi bagaimana jika saat itu lelaki tadi sudah mengeluarkan senjata tajam atau pistol yang sudah dia sembunyikan di dalam jaketnya," fikir Laila, efek sering menonton drama yang bercerita tentang psikopat.
***
(Beberapa menit sebelum kejadian)
Linda meregangkan tubuhnya sembari menguap.
“Huaa, akhirnya selesai juga.” Ia melirik jam tangannya.
“Lebih cepet dari jadwal yang seharusnya," timpal Linda.
Laila sedang merapikan buku dan tasnya kemudian bersiap keluar. “Karena tadi kita masih pertemuan pertama, jadi masih ngebahas kontrak kuliah. Mungkin minggu depan baru sesuai dengan jadwal," ucap Laila.
“Habis ini kita masih ada mata kuliah, kan?” tanya Linda. Dia juga mengambil buku kemudian memasukkannya ke dalam tas.
“Masih. Kryuukkk.” Perut Laila berbunyi. Laila malu karena itu, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan sementara Linda tertawa menganggap Laila sangat lucu dan menggemaskan. Untung saja semua orang sedang sibuk untuk keluar kelas sehingga tidak mendengar suara perut Laila.
Linda menutup mulutnya, ia berusaha keras menahan tawa. "Lo laper, La?" tanya Linda. Dia memanggil Laila hanya dengan dua huruf di belakang nama Laila.
"Sepertinya.."
"Itu bukan sepertinya lagi. Lo emang laper."
Laila sudah sedikit merasa terbiasa dengan Linda. Tentunya Laila mengesampingkan bagaimana penampilan Linda dan membuang seluruh fikiran jeleknya mengenai Linda.
“Laila, ayo ke kantin!” Linda bangkit dari tempat duduknya.
Laila mendongak ke atas melihat Linda yang sudah berdiri. “Lo tahu di mana letak kantinnya?”
Linda melipat tangan di depan dada. “Jangan pernah meragukan gue, Laila. Percayakan saja semuanya sama gue. Gue sudah hafal setiap sudut ruangan di gedung kita ini,” ucap Linda menyombongkan diri.
"Tapi gue malu. Apa kita pesen makanan dari luar aja?" tanya Laila.
"Malu kenapa sih? Lo masih pake baju, kan. Terus ngapain harus malu. Ngerasa asing di lingkungan baru itu hal wajar. Nikmatin aja. Lagian, lo kan gak sendiri. Ada gue yang nemenin lo."
"Tapi, Linda gue ngerasa gak enak karena diperhatiin. Kek badan gue ditusuk-tusuk sama pandangan mereka."
Linda duduk di atas meja, dia melipat kedua tangannya di dada. "Tusuk? persamaan kata lo sedikit menakutkan, ya. Kalah dilihatin ya itu biasalah. Namanya juga Mahasiswa Baru kan, apalagi yang modelan kek lo gini. Pasti jadi pusat incaran kating cowo dan jadi pusat gibahan kating cewenya."
"Setidaknya ada hal positif yang bisa lo ambil."
"Apa?" tanya Laila.
"Pahala dari orang-orang yang gibahin lo. Ha ha ha."
“Hm, oke deh," ucap Laila pasrah dengan perkataan Linda. Sedangkan Linda masih terbawa suasana ketawanya tadi, matanya sampai berair.
"Ayo, ke kantin!" ajal Linda.
Laila pun beranjak dari tempat duduknya. Mereka mengayunkan langkah menuju kantin. Dia berusaha percaya dengan Linda.
Sementara itu, lelaki yang duduk di samping Laila juga ingin ke kantin tetapi tidak tahu di mana letaknya. Sedari tadi kehadirannya tidak disadari oleh Laila dan Linda karena sejak awal dia hanya diam memperhatikan orang-orang.
Lelaki itu adalah orang dengan tipe penyendiri dan pendiam sehingga malas untuk bertanya ke orang lain. Dia juga tidak mengikuti kegiatan orientasi yang diadakan kampus dan tidak punya satupun teman untuk diajak bicara.
Di perjalanan ia mendengar Linda mengatakan bahwa setelah lurus mereka akan belok kiri menuju kantin. Tetapi, ada yang aneh. Linda dan Laila beberapa kali melirik dirinya yang juga berjalan mengikuti mereka. Melihat langkah Linda dan Laila yang semakin cepat, ia juga mempercepat langkahnya karena takut tertinggal. Akan malu jika dia sendirian sampai di sana, apalagi saat ini perutnya benar-benar sedang keroncongan.
Saat di persimpangan, ia malah melihat Laila dan Linda belok kanan kemudian berlari. Ia pun mengejar mereka untuk memberitahukan bahwa mereka salah arah. Tidak ada niat lain. Namun, memang bagus jika berhati-hati dalam kondisi apapun apalagi seorang perempuan yang memang diharuskan untuk waspada baik dengan orang yang dikenal ataupun tidak. Itulah yang membuat lelaki itu tidak marah meskipun dituduh yang bukan-bukan. Begitulah cerita yang sebenarnya terjadi.
“Kenapa kalian ada di sini?” Suara seorang lelaki mengagetkan mereka bertiga. Jantung kian berdebar ketika melihat pakaian yang dikenakan oleh sumber suara tersebut. Apalagi mereka adalah anak baru yang belum kenal siapa-siapa dan masih takut.

Komentar Buku (181)

  • avatar
    Manda Putri

    Bagus

    01/07/2025

      0
  • avatar
    YantoSipur

    bagus

    29/06/2025

      0
  • avatar
    michelle

    bagus

    14/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru