logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 3 Awal Mula

"Sini gue anterin. Siapa tahu gue bisa ketemu lagi sama cogan yang tadi. Ya, sekalian ibarat pribahasa 'sekali dayung dua pulau terlampaui'," ucap Aini.
"Cogan?" tanya Laila.
"Jangan bilang lo gak tahu apa itu cogan? OMG, Laila!" ucapnya setelah melihat Laila menggeleng.
"Cogan itu, cowo ganteng yang enak dipandang mata juga bisa dijadiin haluan bagi wanita-wanita jomblo," papar Aini.
"Terserah lo deh, cepet anter gue. Udah telat banget nih," pinta Laila.
"Dasar manusia seribu benteng." Aini melangkah terlebih dahulu kemudian diikuti oleh Laila.
Manusia seribu benteng adalah julukan baru Laila saat ospek. Pasalnya, Laila sangat sulit di dekati. Tidak hanya dengan pria, wanitapun ia perlakukan sama. Bagi orang yang mencoba dekat dengan Laila, mereka pasti merasa ada benteng yang membatasi.
Beda lagi dengan Aini. Aini sejak awal memang sudah tertarik dengan Laila, dia terus mendekati dan menempel ke Laila. Sejak saat itu mereka menjadi teman baik, beberapa kali mereka juga keluar bersama untuk sekedar makan siang atau jalan-jalan sore.
Aini mengantar Laila hingga ke depan gedung jurusan ekonomi. “Silakan masuk, Tuan Putri.” Aini mengarahkan tangan kanannya dengan jari yang merapat ke arah gedung seraya membungkuk.
"Lo tinggal cari kelasnya aja," jelas Aini.
Bak memakai gaun, Laila menyilangkan kakinya dan menundukkan kepala sedikit. “Terima kasih, dayangku.” Ia pun lari menuju gedung karena takut dikejar Aini. Sedangkan Aini yang terdiam hanya bisa menahan kesal sembari melihat Laila lari terbirit-birit dan dengan cepat menghilang dari pandangannya.
"Ah, aku tidak bisa marah. Dia lucu sekali," ucap Aini.
Laila yang terengap-engap karena berlari memegang dinding dan menyandarkan tubuhnya sedikit. Mengatur nafas kemudian segera mencari ruangannya. Ada tiga lantai yang harus ia lalui untuk mencapai lantai empat. Laila segera menuju lift, tetapi ia melihat lift itu sudah penuh.
“Masa aku harus naik tangga, sih," gerutu Laila. Dia sudah kesal bahkan sebelum resmi kuliah hari pertama, Laila menghempaskan nafasnya. Ia pun berlari menaiki tangga, waktu sebelum mata kuliah tersisa lima menit lagi. Tadi keawalan dan sekarang hampir telat. Benar-benar kesan pertama yang tidak bisa dibayangkan.
Laila mempercepat langkahnya. Bagi Laila kesan pertama itu sangat penting. Saat sampai di lantai empat, Laila segera mengambil cermin dari dalam tasnya, memperhatikan setiap sudut wajah dan jilbab kemudian menambah parfum untuk menghilangkan bau keringat akibat naik tangga. Otot kakinya terasa terbentuk.
Laila mencari ruangan dengan nomor 405. Seluruh ruangan sudah terisi, Laila menunduk malu saat melewati kelas mahasiswa-mahasiswi yang lain. Beberapa diantaranya melihat Laila yang sedang lewat, memperhatikan dari atas sampai bawah. Ada juga yang menggoda Laila.
"Cewe, kenalan dong. Maba ya?" Serta siul-siulan yang mulai terdengar. Laila mulai risih.
Laila tidak nyaman dengan tatapan seperti itu terlebih jika tatapan itu diberikan oleh seorang lelaki. Namun, ia harus bertahan karena hanya itu satu-satunya jalan untuk menuju kelasnya.
Sampailah Laila di kelas 405. Berhenti sejenak, kemudian memberanikan diri untuk membuka pintu. Tangan dan kakinya terasa dingin. Kesan pertama? Laila sudah merasa bodo amat dengan itu. Ia sampai dan tidak telat saja sudah bersyukur. Apalagi penampilannya sudah tidak seperti tadi.
Lingkungan baru, teman baru, dan situasi yang baru. Laila harus beradaptasi dengan cepat.
“Hai!” sapa seseorang.
“Ayam, ayam, ayam.” Jantungnya menderu tanpa aba-aba. Tidak tahu datang dari mana Laila sampai bisa latah.
Tawa kecil seseorang terdengar. Dia yang semula berada di belakang, kini bergerak ke samping. “Hai, maaf ya jadi bikin kamu kaget. Habisnya lucu banget sih, mau masuk kelas aja kek mau wawancara kerja, tegang amat.” Dia tersenyum simpul.
“H-hai. Kamu di kelas ini juga?” tanya Laila malu-malu.
“Iya, perkenalkan namaku Linda.”
“Namanya cantik, anggun tapi penampilannya seperti preman gini. Astaga Laila, kenapa malah mikir yang enggak-enggak sih. Astagfirullah, Ya Allah maafin Laila," batin Laila.
Mereka berjabatan tangan. “Namaku Laila.”
"Tapi, ini beneran kelas ekonomi 405, kan?" tanya Laila memastikan.
“Iya, kita gak bakalan salah masuk kelas, kok. Ya, kalaupun salah kita tinggal keluar lagi, kan."
"Tapi kan nanti jadinya malu."
"Udah, gak apa-apa. Yuk, masuk.” Linda menarik tangan Laila.
Kontak fisik yang tiba-tiba dan terkesan begitu cepat ini membuat Laila terkejut dan merasa tidak nyaman. Apalagi penampilan Linda yang urak-urakan menimbulkan pertanyaan, apakah dia benar orang baik-baik? Namun, lagi dan lagi Laila tidak ingin berburuk sangka. Ia mencoba tenang dan merasa senyaman mungkin berada di dekat Linda meskipun sedikit canggung.
Dosen pengampu mata kuliah pun masuk, beliau memperkenalkan diri. Dosen itu, terdiam sesaat saat ada mahasiswa yang terlambat di hari mata kuliah pertama. Mahasiswa itu membicarakan sesuatu kepada dosen dan kemudian mengayunkan kakinya berjalan ke tempat duduk. Dia duduk di samping Laila.
Laila merasa semakin tidak nyaman, diapit oleh dua orang yang masih asing. Apalagi salah satunya adalah laki-laki. Dia terus berjaga hingga tidak memperhatikan materi yang disampaikan oleh Dosen. Jam pertama selesai dalam waktu satu jam.
“Laila, ayo ke kantin," ajak Linda.
“Hm, oke.” Laila dan Linda menuju kantin. Mereka mulai bercerita mengenai pengalaman pertama yang mereka rasakan di bangku kuliah.
Tetapi ada yang aneh. Lelaki yang terlambat tadi seperti mengikuti mereka. Jarak mereka juga tidak terlalu jauh.
Laila mencolek tangan Linda memberikan pertanda. Entah Linda paham maksud Laila atau tidak, untungnya Linda membalas colekan Laila. Mereka saling melihat satu sama lain, langkah mereka pun semakin dipercepat. Lelaki itu juga mempercepat langkahnya.

Mereka semakin ketakutan pasalnya mereka baru saja membicarakan film psikopat yang menggunakan hoodie dan mengenakan topi, dan itu persis sama dengan lelaki yang mengikuti mereka.
Suasana semakin mencekam saat lelaki tadi semakin mendekat dan berusaha menggapai mereka. Mereka ketakutan hingga memutuskan untuk berlari secepat mungkin.
Laila dan Linda memilih belok ke kanan menuju kantin. Lelaki tadi masih mengejar mereka. Penampilan urakan yang lebih parah dari pada Linda menambah rasa seram saat melihatnya.
"Apa benar di kampus ini ada psikopat? Mana tampilannya mirip banget lagi. Bagaimana kalau habis ini dia tetap ngikutin aku dan Linda bahkan sampai ke rumah? Umi dan Abi bagaimana? Ahhh, apa yang harus aku lakukan sekarang?" batin Laila.
Laila sudah terengah-engah, meskipun dia sering joging di pagi hari, tetapi hari ini sepertinya dia sudah tidak sanggup. Dari pagi saja sudah dihadapkan dengan tangga, siangnya nambah lari lagi.
"Mana sih kok makin sepi?" tanya Linda, dia sedikit berteriak.

Komentar Buku (181)

  • avatar
    Manda Putri

    Bagus

    01/07/2025

      0
  • avatar
    YantoSipur

    bagus

    29/06/2025

      0
  • avatar
    michelle

    bagus

    14/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru