logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 2 Kesan Pertama

(Flashback empat tahun lalu)
Meja hias menatap Laila iba, seakan membelai sekaligus menertawakan. Sudah dua jam Laila duduk dan menatapnya, dia juga seakan menatap balik Laila dengan sinis. Masih tersisa dua jam sebelum jadwal kuliah pertamanya di mulai.
Cermin itu mulai menertawakan Laila lagi. Ia membalas dengan ekspresi sebal. Laila kemudian beranjak dari kursi, lalu pergi ke dapur untuk mengambil makanan, perutnya mendadak lapar padahal sudah sarapan. Sayangnya, ia bertemu dengan Abi dan Umi yang sedang menonton ceramah. Laila pun kembali ditertawakan. Abi dan Uminya semangat menggoda Laila.
"Semangat sekali anaknya Umi. Umi jadi bangga," ucap Umi.
"Abi juga, Umi. Bangga sekali, memang disiplin waktu itu penting," timpal Abi.
Laila mencoba bersikap cuek dan bodo amat padahal di dalam hatinya ia merasa sangat malu. Tetapi, wajah Laila tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Seperti kata orang tua, Laila berwajah masam sekarang.
Seharusnya, hari ini Laila akan masuk di mata kuliah pertama pukul 10.00 Wib tetapi ia sudah bersiap-siap mulai pukul 06.00 Wib. Pakaian rapi, sepatu putih, dandanan oke dan ternyata Laila salah melihat jadwal. Kejadian hari ini akan menjadi legenda di rumah Laila hingga nanti.
Hari pertama kuliah tentunya kita mengharapkan kesan pertama yang baik. Persiapan yang sempurna pun harus dilakukan Laila, mulai dari malamnya ia maskeran dan luluran. Segalanya tampak sempurna hanya saja mungkin ia terlalu bersemangat dan tidak sabar untuk memulai kehidupan perkuliahan yang sudah lama diimpikannya. Ya, terlalu bersemangat sampai tidak fokus juga tidak baik.
Setelah selesai makan, Laila mengendap-ngendap melewati Abi dan Umi untuk kembali masuk ke kamar agar tidak terlihat. Bak pencuri yang takut ketahuan, akhirnya ia berhasil masuk tanpa hambatan meskipun tangannya berkeringat, jantungnya pun berdebar-debar kencang.
Laila merebahkan tubuhnya ke kasur, matanya melirik jam dinding. “Huh, masih lama,” keluh Laila.
Ia merogoh tas dan mengambil ponsel. Laila berseluncur di berbagai media sosial yang dimilikinya. Hanya itu yang dapat gadis cantik ini lakukan sembari menunggu waktu yang berjalan lambat. Biasanya semakin menunggu semakin lama terasa.
Laila pun mulai menggerakkan jarinya, menggeser layar sentuh pada ponsel pintar itu, dia melihat ada sepasang kekasih yang mengunggah tik toknya di akun Instagram milik si laki-laki. Terlihat mereka sangat bahagia bersama.
Laila sebenarnya ingin memiliki seseorang yang berada di sisinya seperti itu namun bukan sebagai pacar, melainkan pasangan hidup. Tetapi, ia pun sadar bahwa dirinya belum siap untuk memulai sebuah hubungan dalam ikatan suci pernikahan. Karena menurutnya menikah itu bukan hanya sekedar hidup bersama, banyak hal yang perlu di fikirkan. Apalagi, ia menginginkan pernikahan sekali seumur hidup.
"Tetapi, bagaimana seandainya jika satu atau dua tahun lagi datang seorang lelaki yang memang sudah ditakdirkan untukku? Mungkin, dia lelaki yang bisa bertanggungjawab atas hidupnya dan hidupku? Ahhh, aku tidak bisa membayangkannya. Apa yang harus aku lakukan ketika bertemu dengan dia? Apa aku harus menyapa?" ucap Laila berbicara sendiri sembari menggeliat kesenangan dalam khayalannya.
Laila terus menscroll video pasangan-pasangan yang ada di sana. Karena asiknya melihat tik tok, Laila sampai lupa waktu.
Tidak terasa waktu berlalu amat cepat. Laila pun menyudahi kegiatannya itu dan mulai bersiap. Tidak banyak yang harus Laila persiapkan, ia hanya perlu menggati baju yang sudah dikenakan pagi tadi untuk ke kampus.
Laila akan berangkat menggunakan motor, matahari sudah mulai naik dan membuat cuaca panas menyengat kulit. Abi dan Umi sudah terlebih dulu berangkat ke pondok pesantren untuk mengajar. Laila membuka pagar rumah dan mengeluarkan motor kemudian menutup pagar kembali. Ia pun menaiki motor maticnya, tidak lupa juga membaca doa sebelum berangkat.
Laila adalah pengemudi sepeda motor yang taat peraturan lalu lintas. Dia tidak mengendarai motor dengan kebut-kebutan dan juga tidak melanggar lampu merah. Laila dengan santai sambil menikmati indahnya segala ciptaan Tuhan. Tentu saja ia harus berangkat lebih awal agar mempunyai lebih banyak waktu sebelum mata kuliah di mulai. Sekitar lima belas menit waktu yang digunakan untuk sampai ke kampus.
Jarak dari rumah Laila ke kampus tidak begitu jauh. Laila memang sengaja, selain terkenal kampus itu juga adalah kampus dengan jarak terdekat dari rumah Laila.
Laila yang masih mahasiswi baru seperti anak ayam yang kehilangan induk. Tidak punya teman dan tidak tahu di mana gedung untuk jurusannya. Ia berjalan menelusuri koridor, melihat ke sana-sini seperti orang kebingungan. Laila tidak sempat menanyakan di mana gedung jurusan Ekonomi saat orientasi minggu lalu. Belum lagi ia merasakan lirikan-lirikan mata dari semua penjuru.
"Rasanya tidak nyaman. Kenapa mereka seakan menatap ku? Apa ada yang salah dari diriku?" batin Laila seraya melihat-lihat pakaiannya takut ada sesuatu yang menjadi fokus semua orang, dia juga sesekali melihat wajahnya dari layar ponsel.
"Tidak ad yang salah dari aku hari ini, lantas kenapa aku merasa ada mata yang melihat? Apa hanya perasaanku saja?" ucap Laila lirih.
“Hei!” seseorang menepuk punggung Laila.
Laila terkejut. “Haaahhhhhh!” jeritnya, beberapa mahasiswa yang berada di sekitar Laila sontak melihat. Buku Laila terjatuh, ia masih belum melihat siapa orang yang mengagetkan dirinya itu. Laila hanya menyadari bahwa kini dia benar-benar menjadi pusat perhatian.
“Hei, ini gue. Lo kenapa sih teriak gitu?” Aini membalikkan tubuh Laila agar menghadapnya. Laila tersenyum, tetapi jantungnya masih berdetak cepat.
Laila memukul pelan bahu Aini. “Aini lo mau bikin gue mati muda?” Laila menarik nafas panjang.
“Amit-amit bund. Jangan sampe lo mati muda. Nanti siapa yang dengerin ocehan gue lagi.” Aini mengetok kepalanya dan mengetok pilar yang ada di dekat mereka. Seperti kata tetuah dulu, seperti memindahkan kesialan atau sesuatu yang tidak baik ke benda mati.
“Lagian lo ngapain jalan celingak-celinguk gitu?” tanya Aini.
Laila mengambil bukunya yang terjatuh. “Ngapain lagi? Ya, nyari gedung gue. Lo kan tahu waktu ospek gak ada satupun dari kelompok kita yang satu jurusan sama gue.”
Laila dan Aini berjalan pelan. “Kasihan, nasib anak yang terbuang.” Ledek Aini yang membuat Laila menyentil kening Aini seraya memperlihatkan ekspresi yang datar.
"Laila, stop!" perintah Aini.
"Kenapa?" tanya Laila bingung. Sementara dia sudah hampir telat masuk kelas.
"Ada cogan lewat, woy. Gila ganteng banget!" seru Aini. Dia kegirangan.
Laila menggeleng. Hal seperti itu tidak penting sekarang. "Gue duluan ya, udah hampir masuk kelas nih," ucap Laila kemudian melangkahkan kakinya pergi.
"Emangnya lo tahu di mana?" tanya Aini seraya matanya masih melihat ke arah lelaki tadi yang sudah perlahan menjauh dan menghilang.

Komentar Buku (181)

  • avatar
    Manda Putri

    Bagus

    01/07/2025

      0
  • avatar
    YantoSipur

    bagus

    29/06/2025

      0
  • avatar
    michelle

    bagus

    14/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru