logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Tidak Akan Ku Curi Kau Dari Tuhanmu

Tidak Akan Ku Curi Kau Dari Tuhanmu

Erina Daizy


Bab 1 Bahagia dengan dua rasa?

"Aku tidak akan mencurimu dari Tuhanmu. Kita memang tidak bisa bersama. Selamat tinggal," ucap Laila kemudian berlalu pergi sambil menahan kesedihannya. Hatinya hancur ketika harus mengambil keputusan itu, lebih hancur lagi ketika harus mengucapkannya.
"Tunggu, Laila! Aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpa kamu. Aku cinta kamu, Laila!" seru lelaki itu. Dia terdengar tulus. Laila juga mendengar suara tangisan. Tetapi, Laila bahkan tidak menghentikan langkahnya. Dia terus berjalan seakan tidak terusik oleh kata-kata itu. Saat memutuskan untuk bertemu, Laila sudah menguatkan hatinya.
"Maaf," ucap Laila lirih. Perkataannya tidak mungkin terdengar oleh lelaki itu. Inilah pilihan terbaik yang dapat dia ambil.
Sementara itu, lelaki yang mengatakan cinta kepada Laila bertekuk lutut. Dia tidak memperdulikan beberapa orang yang melihatnya. Tangan besarnya ia gunakan untuk menutup wajah, menutup bulir-bulir kesedihan yang mengalir.
***
(Dua tahun setelahnya)
Suasana haru memenuhi ruangan itu. Selempang tersematkan dengan nama dan gelar masing-masing. Nama mereka dipanggil satu persatu untuk memindahkan tali toga dari kiri ke kanan. Perjuangan yang begitu panjang kini berakhir. Beberapa mata berkaca-kaca, mungkin perasaan mereka terharu. Begitu juga dengan Laila.
“Nur Laila.” Namanya disebut oleh pembawa acara. Langkah Laila gemetar, tangan dan kakinya mulai terasa dingin. Laila grogi bukan main. Namun, semua bisa dikalahkan mengingat bagaimana perjuangannya dulu hingga sampai ke titik seperti sekarang. Dia bahkan bisa menangis saat ini.
Bolak-balik ke kampus, revisi yang menggunung, waktu yang diluangkan akhirnya bisa membuahkan hasil yaitu sebuah gelar kelulusan. Rasanya sedih, haru, dan bangga bercampur jadi satu.
Dengan bangga Laila mengayunkan kakinya menuju pentas utama disaksikan oleh ratusan pasang mata. Grogi? Sudah tidak lagi ia rasakan. Di sana terlihat ada dua pasang mata yang memperhatikan Laila dari kejauhan. Mereka adalah orang yang harus Laila banggakan.
Orang yang amat ia hormati menyaksikan bagaimana perjuangannya selama ini. Perjuangan yang menitikkan air mata itu tidak berakhir dengan sia-sia. Sayup dan berusaha menahan air mata saat Laila memandanginya. Perasaan bangga kedua orang tua Laila jelas terlihat. Apalagi saat anaknya itu melirik kedua orang tuanya sambil tersenyum.
Proses pemindahan tali toga selesai. Laila menghampiri dua orang tersebut yang terlihat sangat bangga kepadanya. Senyum hangat sudah mereka lontarkan dari kejauhan untuk Laila.
Jarak mereka semakin dekat hingga saat berhadapan ia memeluk Laila. “Terima kasih,” ucapnya sembari menyembunyikan tangisnya agar tidak kelihatan Laila.
Laila membalas pelukannya. “Terima kasih juga, Umi.” Mengucapkan kata-kata seperti itu membuat air mata Laila terjatuh tetes demi tetes. Begitu pula dengan Umi yang sudah tidak bisa menahan tangisnya. Umi melepaskan pelukannya. Tidak mau make up anaknya berantakan karena menangis. Namun, Umi sendiri juga masih belum berhenti menangis sejak Laila naik ke pentas hingga saat ini. Air matanya bahkan menetes sendiri.
Kelakuan Umi yang sangat terharu hingga menangis itu terus diperhatikan oleh seorang lelaki paruh baya yang berdiri di sampingnya. “Dasar ya Umi nangis mulu nih kerjaannya.” Lelaki itu mendecak pelan sambil menggoda Umi.
Umi yang tengah menghapus air matanya melihat tajam. “Abi juga dari pagi sudah nangis. Lagi mandi nangis, siap-siap pergi nangis, sarapan juga sambil nangis, bahkan di perjalanan mau ke sini saja masih nangis. Waktu ditanya kenapa malah pura-pura kelilipan, padahal mah nangis. Abi mu ini hanya pura-pura kuat saja di depan kamu. Padahal sebenarnya berhati hello kitty.” Umi mengomel tanpa jeda. Umi juga menggoda Abi. Tidak sadar tangisannya pun berhenti. Memang hanya Abi yang bisa mengerti cara menenangkan Umi dengan cara yang istimewa.
Laila merentangkan tangan. “Abi….” Seperti anak kecil yang minta dipeluk.
Abi yang mengerti kemauan anak manjanya itu lalu memeluk dan mencium jidat sang putri. “Terima kasih karena sudah berjuang, Laila. Terima kasih sudah kuat selama ini, kamu sudah melakukannya dengan baik.” Kata-kata singkat namun bisa membuat air mata Laila kembali terjatuh. Perkataan Abi seperti ramuan yang memulihkan dirinya, bukan dari luar tetapi dari dalam. Setidaknya, selain Laila, ada keluarganya juga yang menghargai perjuangan dan kerja keras Laila.
Masih merasa nyaman dalam pelukan Abinya, tetapi Abi sudah menjauhkan dirinya dari Laila. Laila memonyongkan bibir ke depan, bertingkah benar-benar seperti anak kecil. Abi mengeluarkan handphone dari sakunya dan membuka aplikasi kamera. “Ayo, kita foto dulu.” Segera Umi dan Laila mengambil posisi.
Mereka berfoto menggunakan kamera depan. “Satu, dua, tiga,” ucap Abi berhitung dan pada hitungan kedua Abi sudah memencet tombol kameranya.
“Ahh, Abi! Laila belum siap tadi. Coba lihat hasilnya kalau jelek Laila hapus.” Laila merengek, ia protes.
Laila dan Umi melihat hasil foto tadi. “Tuh kan, lihat coba mata Laila merem ini, terus foto yang ini lagi, lihat Laila jelek banget masa mulutnya kebuka gini.”
Abi memperhatikan foto mereka bertiga. “Sudah bagus kok ini.” Abi pun memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
Laila tidak habis fikir dengan Abi. Bagaimana bisa foto yang tidak bagus sama sekali itu baik-baik saja di mata Abi. “Ini gak bisa dibiarin. Kita foto studio aja biar lebih oke. Ayo Abi, Umi!” ajak Laila.
"Laila!" teriak seseorang memanggil Laila. Laila menoleh ke arah suara.
Seorang pria gagah dengan setelan jas resmi membawa buket bunga besar sambil tersenyum berjalan menuju Laila. Laila membalas senyuman itu sambil menunggu pria itu menghampirinya.
Dia memberikan bunga itu kepada Laila, Laila pun menerimanya. Sambil menatap mata Laila, dia mengucapkan sebuah kalimat dengan lirih kepada Laila.
Lail tersenyum lalu mengangguk. Wajahnya memerah karena perkataan itu.
"Ayo, katanya mau foto!" ajak Abi.
Akhirnya, mereka foto studio dengan hasil yang lebih bagus dan anggota yang lebih lengkap. Keluarga yang terlihat sangat bahagia, itulah yang akan orang-orang katakan ketika melihat foto itu.
Setelah itu mereka mampir untuk makan siang dan pulang, sedangkan pria tadi tidak ikut dengan mereka.
Laila sangat bahagia karena sudah menyelesaikan Pendidikan Strata-1, tetapi dari balik kebahagiannya itu, ia juga merasakan kekosongan dan kehampaan dalam diri. Entah sudah berapa lama rasa itu bersemayam. Ia merasa ada yang hilang.
Sesuatu yang sangat berharga dan terpaksa direnggut pergi karena putus asa dan keadaan yang memaksa. Anehnya, ada rasa lain yang memberi kebahagiaan di dada. Lantas, bisakah Laila bahagia dengan hadirnya kedua rasa itu? Dan siapa lelaki yang bersamanya saat hari kelulusan?
Bersambung...

Komentar Buku (181)

  • avatar
    Manda Putri

    Bagus

    01/07/2025

      0
  • avatar
    YantoSipur

    bagus

    29/06/2025

      0
  • avatar
    michelle

    bagus

    14/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru