Belajar adalah hal yang sangat dinantikan oleh mereka yang memiliki berbagai mimpi, disertai dengan semangat dan tekad yang kuat untuk mewujudkannya. Namun sayang, tidak semua anak begitu. Parahnya, ada juga beberapa anak yang baru saja akan memulai pembelajaran namun sudah mengharapkan jam kosong. Benar-benar payah! Jika saja anak-anak di zaman globalisasi dengan berbagai modernisasi ini dapat melihat bagaimana perjuangan anak-anak zaman dulu agar dapat mengenyam pendidikan, mungkin saat ini mereka tidak akan menyia-nyiakan waktu untuk melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat. "Semoga aja hari pertama pembelajaran berjalan lancar, ya. Aku udah nggak sabar." Keina tampak begitu bersemangat hari ini. Talitha yang duduk di samping Keina mengangguk setuju dengan perkataan Keina. "Aamiin. Gue juga berharap gitu," ucap Alga yang duduk tepat di belakang Talitha. "Yaelah, sok banget sih. Biar dikatain murid teladan? Ha ha ha, kuno!" Rara menyambar dari sisi pojok kelas. "Apaan sih,Ra?! Nggak suka?!" Alga berdiri dan memelototi Rara. Tidak habis pikir dengan gadis itu, selalu saja ingin membuat keributan dengan Keina. Apa mungkin hidupnya terlalu sepi hingga dia memilih pertikaian agar dapat berbicara dengan orang lain? "Kalo nggak emang kenapa, hah?!" jawab Rara dengan tidak tahu malu. Dia yang menciptakan keributan, tetapi tidak ada rasa bersalah sama sekali. Hanya ada tatapan kebencian di mata besarnya itu. "Udah, Al. Nggak usah diladenin," kata Keina dengan mendongakkan kepala menatap Alga dari sisi samping. "Lagian kalian tuh kenapa, sih? Iri sama kita? Pengen punya temen tapi nggak bisa?" sindir Talitha sambil tertawa meremehkan. Seketika Rara terdiam dan terlihat ekspresi yang sangat marah atas ucapan Talitha. Matanya melirik tajam dengan tangan yang mengepal. Bel sekolah berbunyi, pertanda kegiatan belajar mengajar akan segera dimulai. Perdebatan di antara tiga anak ini pun berakhir. Semua anak segera bersiap duduk rapi di tempatnya masing-masing. Ini biasa terjadi pada hari pertama bertatap muka dengan wali kelas. Semua tampak rapi dan berusaha memasang topengnya dengan erat. Tidak ada materi hari ini. Klara, wali kelas mereka hanya memerintahkan kepada anak didiknya agar saling memperkenalkan diri di depan kelas. Hari pertama pembelajaran berjalan lancar. Begitu pun dengan hari ketiga, keempat, kelima, dan satu bulan sudah pembelajaran berlangsung. *** "Ya ampun! Gue bosen banget sama pelajaran hari ini. Kenapa nggak ada yang bikin semangat sama sekali, sih!" Talitha menusuk sebuah siomay dengan penuh tenaga dan memasukkan siomay tersebut ke dalam mulutnya. "Iya, gue juga bosen banget. Apalagi sama kelasnya Pak Samsul. Belajar sejarah bikin mata gue mendadak berat dan pengen tidur saat itu juga," ucap Alga setuju dengan perkataan Talitha. Keina menggelengkan kepalanya. "Eh, nggak boleh gitu loh, kalian. Bagaimana pun semua itu penting. Karena pada dasarnya, nggak ada tuh yang namanya ilmu sia-sia." Keina menyeruput es teh dari gelas berukuran sedang. "Iya deh, iya. Tapi emang bener kok Na, kata Talitha. Hari ini tuh gue juga ngerasa nggak semangat gitu buat belajar." Keina yang duduk di samping Talitha dan berhadapan dengan Alga menatap mereka secara bergantian. "Kalian harus inget-inget lagi, apa tujuan kalian belajar. Kalian juga perlu inget, kalo dalam tangan kalian ada sebuah mimpi yang harus kalian gapai." Keina tersenyum manis. Mendengar ucapan Keina, Alga dan Talitha menatapnya lekat-lekat. Mereka bersyukur, karena tiga sekawan ini dapat saling menyemangati satu sama lain. Talitha mengulurkan tangannya yang mengepal di atas meja. Diikuti oleh Alga dan Keina. "Best friends!" ucap mereka bertiga dengan kompak. "Ke kelas, yuk! Sebentar lagi bel masuk bunyi." Talitha beranjak dari tempat duduk dan mengeluarkan selembar uang untuk diberikan kepada ibu kantin. Keina yang berniat membayar minumannya seketika terhenti karena .... "Ups sorry," ucap Rara dengan nada bersalah yang dibuat-buat. Wajah Rara dan Jeje menggambarkan kegembiraan dan puas melihat baju seragam Keina kotor akibat terkena minuman yang sengaja Rara tumpahkan. Keina yang terkejut hanya bisa merunduk sambil mencoba membersihkan bajunya. Namun tetap saja, hasilnya nihil. Talitha dan Alga yang tidak terima dengan perbuatan Rara dan Jeje langsung menghampirinya. Emosi. Itu yang ada pada diri Alga dan Talitha saat ini. "Kalian tuh punya dendam apa, sih sama Keina?!" teriak Talitha dengan mengangkat dagunya dan menatap Rara dengan sangat tajam. Senyuman iblis itu muncul pada wajah Rara dan Jeje. "Gue-nggak-sengaja." "Nggak sengaja lo bilang? Lo pikir gue buta, hah?!" bentak Alga dengan tangan yang mengepal, membuat mereka kini menjadi pusat perhatian dari semua anak di kantin tersebut. "Ya udah, gue minta maaf. Puas?!" Rara dan Jeje menatap Keina sebelum berlalu dengan senyuman liciknya. "Setan lo pada!" seru Talitha dengan tatapan penuh amarah. Memang benar-benar keterlaluan. Rara dan jeje seakan tidak punya perasaan. Rasa iri dan dengki sepertinya sudah menguasai hati keduanya. Alga dan Talitha mengajak Keina untuk membersihkan bajunya di toilet. Susah payah Keina menggosok baju yang terkena warna dari minuman Rara. Namun Keina bukanlah anak yang lemah. Di kondisi seperti ini dia masih bisa bersikap tenang, meski ada kesedihan di hatinya. Apa sebenci itukah Rara kepadanya? Itulah yang ada di pikiran Keina. Keina keluar dari toilet dan menghampiri kedua sahabat yang sudah membelanya mati-matian. "Gimana, Na? Nggak bisa dibuang, ya?" Alga menatap Keina dengan iba. "Susah, Al. Tapi ya udah, gimana lagi? Kita ke kelas aja, yuk!" ucap Keina lirih. "Ya udah, lo bilang? Lo tuh jangan diem aja kalo dijahatin orang, Na! Kelakuan Rara sekarang sama lo tuh udah keterlaluan." Ada nada emosi yang keluar dari mulut Alga. "Bener Na, kata Alga. Rara tuh udah kelewatan sama lo. Apa mau kita aduin ke guru BK? Ini tuh termasuk tindakan bullying, Na." Talitha menggengam tangan Keina. Berusaha untuk membujuk sahabatnya ini agar bertindak atas kelakuan Rara. Namun, itulah sisi baik Keina, dia tidak ingin kejadian ini menjadi lebih panjang. "Udah, Tha. Ini nggak papa, kok. Nanti pulang sekolah bisa langsung aku cuci, pasti bisa hilang kok bekas minumannya." Keina menepuk bahu Talitha sambil meyakinkan Talitha bahwa dirinya baik-baik saja. Talitha dan Alga hanya bisa menghembuskan napas. Tidak tahu lagi bagaimana caranya membujuk Keina. Mereka bertiga kembali ke kelas. Talitha dan Alga menatap Rara dengan penuh amarah dan rasa dendam. Rara dan Jeje memasang ekspresi puas dan berpura-pura tidak melihat kedatangan mereka bertiga. Mampus lo! Sok jadi ratu, sih. Itu belum seberapa, Keina. Masih banyak kejutan yang pengen gue kasih ke lo. Jadi tunggu aja, ya, batin Rara sambil tersenyum iblis. *** Di tempat parkir, Rara dan Jeje masih terlihat sangat bangga dan puas karena kejadian di kantin tadi. Mereka berdua tertawa lepas dengan penuh kesombongan. Tetapi seketika bola matanya terbelalak, tawa yang seakan tiada hentinya itu berubah menjadi jeritan. "Sial! Siapa yang berani ngegembesin ban mobil gue, woy?!" Dengan penuh emosi Rara terus berteriak. Rara tidak peduli bahwa saat ini dirinya tengah menjadi pusat perhatian semua anak di tempat parkir tersebut. Di balik dinding, Talitha dan Alga tertawa puas melihat wajah Rara yang kini sangat emosi. Sebuah tos kemenangan untuk mereka berdua. "Eh, ayok buruan! Keina pasti udah nungguin kita di depan gerbang. Tadi kita izinnya kan mau minjem buku di perpustakaan." "Oh iya, yok! Ha, ha, ha." Alga masih belum berhenti terbahak. Di depan gerbang, Keina menunggu Alga dan Talitha. "Udah pinjem bukunya?" "Udah, kok," jawab Alga dengan sumringah. "Kalian keliatannya seneng banget. Kenapa, sih?" selidik Keina dengan melirik dua anak yang kini berdiri tepat di depannya. Talitha masih memegangi perutnya. Dia juga terlihat sedang bersusah payah menahan tawa. "Eng-nggak papa kok. He he he. Eh, itu angkotnya dateng!" Alga menunjuk sebuah angkot dengan melirik Talitha yang masih terkikik. Mereka bertiga bergegas menghampiri angkot tersebut. "Loh, Rara, Jeje. Kalian kok naik angkot? Biasanya kalian bawa mobil," tanya Keina dengan polos. *** Lima menit sudah Alga dan Talitha menunggu Keina di kafe. Mereka telah berjanjian sebelumnya untuk dapat keluar di malam Minggu ini. Setidaknya sejenak me-refresh otak yang telah bekerja selama satu minggu. Ini adalah pertama kalinya mereka nongkrong di luar setelah sekian lama menjalin hubungan persahabatan. Tampak seseorang yang mengenakan kaos putih polos dengan celana jeans dan rambut hitam menjuntai sepanjang lengan dengan di hias sebuah penjepit rambut itu memasuki kafe. "Malem-malem gini pake kaos pendek," gumam Alga sambil melirik tajam ke arah Keina. Ada nada tidak senang yang terdengar dari ucapan Alga. "Bilang apa lo, Al?" tanya Talitha dengan mendekatkan wajahnya. Alga terkejut saat melihat Talitha yang sudah menatapnya dengan rasa ingin tahu. "Gue denger loh." Talitha sengaja memalingkan wajahnya ke langit-langit kafe. Membuat Alga menjadi salah tingkah. Sial. "Maaf, kalian pasti nunggu lama, ya?" "Nggak, kok. Kita juga baru nyampe lima menit yang lalu. Lo ke sini naik apa, Na?" "Aku bawa motor, Tha." Keina memilih posisi duduk di samping Talitha. "Kalo lo bisa bawa motor, kenapa lo naik angkot?" Alga menaikkan satu alisnya. "Soalnya kalo naik angkot lebih rame. Aku jadi ngerasa punya banyak temen." "Emangnya selama ini lo nggak punya temen?" Alga penasaran. "Waktu SMP banyak. Tapi sekarang mereka udah ngejauh dari aku. Sekarang aku cuma punya kalian," Keina menjawab lirih, seakan menutupi rasa sesak di dadanya. "Ya ampun, Na. Lo kan bisa dapetin banyak temen dari media sosial." Talitha menatap Keina. "Nggak asik. Aku lebih suka berteman sama temen-temen di dunia nyata, lebih seru." "Kita satu server, Na. Gue juga nggak terlalu suka sama temen-temen online, soalnya pertemanannya cuma sebatas saling like dan komen aja." "Yah. Alga mah semuanya juga setuju sama ucapan Keina," kekeh Talitha sambil menatap geli ke arah Alga. Alga hanya bisa menatap tajam Talitha tanpa menjawab ucapannya. Keina yang tidak mengerti dengan ucapan Talitha hanya terdiam bingung. Membuat Alga salah tingkah adalah keahlian Talitha. Hal ini yang terkadang membuat Alga untuk menceritakan segala keluh kesahnya kepada Talitha. Karena sahabat kecilnya itu bisa dibilang ember. Tidak bisa menjaga rahasia. *** Hari ini SMAN Merah Putih tampak begitu berseri, apalagi siswa siswinya terlihat sangat bersemangat untuk mempelajari berbagai materi hari ini. "Hari Jumat adalah hari kebanggaanku. Hari yang indah untuk dijalani," Talitha terus bersenandung di sepanjang koridor, meski suaranya terdengar sumbang. Alga mengernyitkan dahi, wajahnya menggambarkan rasa malu. "Diem, Tha. Lo nggak sadar dari tadi jadi pusat perhatian?" Alga melirik sekitar. "Biarin, gue biasa aja," ucap Talitha dengan santai. "Gue yang malu, ih." Alga sedikit mempercepat langkahnya, membuat Talitha kewalahan menyesuaikan diri agar tetap berdampingan. "Hari Jumat pulang lebih awal, aduhai senangnyaaa ...." Talitha kini memutar tubuhnya dan kembali berjalan centil. Alga yang sangat malu hanya bisa menunduk dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Saat tengah berjalan menuju ruang kelas, tanpa sengaja mereka berpapasan dengan segerombolan anak-anak basket. Salah satunya, Dev. Antara Dev dan Alga, keduanya sempat beradu tatap, keduanya sama-sama terlihat tenang tanpa senyuman. Talitha yang melihat aura menyeramkan itu langsung tersenyum tipis kepada mereka, tetapi mereka hanya melengos dan berlalu begitu saja. Sudah pasti, Talitha yang mendapat perlakuan demikian mencak-mencak dan mulutnya terus komat-kamit. “Dasar kakel songong! Awas lo ya, kalo naksir sama gue pasti langsung gue tolak saat itu juga! Sialan lo pada!” pekik Talitha emosi. Alga mengusap kasar wajah Talitha, berusaha menyadarkannya, barangkali dia kesurupan jin. Karena sejak keluar rumah kelakuannya sudah aneh. “Sadar, Tha. Siapa juga yang bakalan mau sama anak pecicilan kayak lo? Yang ada mereka kabur, kali.” Mendengar itu, Talitha mendelik tajam. Tidak ingin mendapat hantaman dari Talitha, Alga pun melarikan diri. *** Dari arah Barat Keina tampak tergesa-gesa berjalan sendirian. Jalannya terus menunduk hingga tidak melihat bahwa Keina benar-benar berjalan di tengah lapangan yang sedang digunakan untuk berolahraga. Tidak biasanya dia keluar kelas tanpa kedua sahabatnya. Sepertinya ada hal penting yang bersifat pribadi, hingga Alga dan Talitha tidak menemaninya. "Awas!" teriak seorang cowok. Entah siapa, Keina belum sempat melihat sang pemilik suara. Karena saat ini kepala Keina terasa pusing dan penglihatannya mulai kabur.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
seru dan 💗menarik
03/07
0Bagus banget
03/06/2025
0baguss
30/05/2025
0Lihat Semua