logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Episode 7

“Mei keluarlah dulu dengan para dayang.” akhirnya Gu Min membuka suara, memecahkan keheningan.
Dengan perintah dari tuan pertama semua dayang keluar dengan teratur, setelah Gu Min yakin semua dayang keluar dan memastikan hanya mereka yang tersisa di kediaman tersebut, akhirnya ia mengajak semua berpindah ruangan. Secara sekias ruang tamu tersebut hanya sebuah ruangan persegi empat terdapat beberapa jendela dan
satu pintu. Namun ruangan tersebut tak sesederhana itu, ruang tamu tersebut dilengkapi dengan pintu rahasia menuju ruang bawah tanah.
Semua tamu merasa takjub dengan ruang bawah tanah tersebut, karna di setiap ruangan memiliki fungsinya masing-masing. belum lagi setiap tulisan yang terukir sungguh indah. Setiap pintu ruangan yang terbuat dari kaca yang bening menampilkan isi dalam ruangan tersebut. Gu Min memimpin mereka semua ke salah satu ruang bawah tanah yang berada di ujung ruangan tersebut dengan bertuliskan ‘Meeting Room’ dimana itu merupakan tempat keluarga Gu melakukan diskusi bersama. Ruangan tersebut dilengkapi dengan satu meja bebentuk persegi panjang, 20 kursi yang tersusun rapi di samping meja, kemudian di tamabah beberapa lemari, lalu terdapat satu papan tulis hitam disertai beberapa buah kapur putih.
“Silahkan yang mulia.” kata tuan Gu kepada Raja Zang Zuan.
“Terimakasih, baiklah kita lanjutkan.” kata Raja Zang Zuan.
Saat semua sudah mulai duduk di tempat, tiba-tiba Gu Ana datang dengan heboh membawa beberapa cemilan di tangannya.
“Ah… Aku takut kita kelaparan jadi aku membawa beberapa cemilan.” katanya sambil cengengesan. Melihat hal tersebut sontak membuat Gu Jun memutar bolamatanya, ia bingung dengan kelakuan Jeijei nya yang sangat suka makan.
“Jeijei aku kira perutmu denar-benar karet, aku khawatir kau akan gemuk seperti sebuah kendi besar.” ejek Gu Jun kepada Gu Ana.
“Aduh adikku sayang, Jun’er kau sangat perhatian sekali dengan Jeijeimu ini. Aku sungguh merasa tersanjung.” kata Gu Ana dengan wajah dibuat seolah terharu. “Tenang saja aku akan tetap menjadi Meimei mu yang imut dan cantik, dan para pemuda yang sangat menggemariku tidak akan berkurang, ah mungkin saja akan bertambah.” sambung Gu Ana sombong sambil berpose imut sambil mengedipkan matanya, sontak membuat semua yang ada di ruangan melongo tak percaya dengan kata-kata Gu Ana. Sedangkan Gu Jun hanya menampilkan wajah mual di depan Gu Ana.
Lain halnya dengan pangeran ke-empat yang melihat hal terebut aneh, jujur ia baru bertemu dengan orang seperti itu, dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi.
"Tuhan… kenapa ada orang yang seaneh anak ini? Lagian dengan sifat yang seperti ini bagaiman ayahanda mau bekerja sama dengan nya?" ucapnya dalam hati sambil melihat Gu Ana dengan sini.
Sedangkan yang dipandangi malah sibuk dengan cemilan yang ia bawa.
“Hemm… baiklah kita lanjutkan saja rapat kita.” kata raja Zang Zuan mengembalikan fokus kepada inti pertemuan.
Gu Min mulai menjelaskan beberapa informasi kepada orang-orang dalam ruangan tersebut, dengan menggunakan media tulis di papan tulis tersebut, serta menyebutkan beberapa, sedangkan yang lain mangut-mangut mengerti tentang semua informasi tersebut, setelah selesai menjelaskan semua informasi tersebut Gu Min kembali ketempat duduknya.
“Baiklah aku mengerti semua informasih tersebut, namun aku ingin tahu apa yang kalian inginkan untuk menukar informasi tersebut?” tanya raja Zang Zuan.
“Yang mulia kami tidak mem…” Ucapan Tuan Gu tiba-tiba dipotong oleh Gu Ana.
“Aku ingin menjadi perajurit, perajurit yang maju dimedan perang, terutama saat perang melawan kerajaan Bei.” ucap Gu Ana dengan wajah yang datar, senyumnya yang sejak tadi melekat di wajahnya tiba-tiba luntur.
Pernyataan tersebut sontak membuat semua orang terkejut, terutama tuan Gu. Ia sangat terkejut, tentu saja tidak akan pernah setuju, putri semata wayangnya akan kemedan perang? Tentu saja sama saja mengantarkan nyawa dengan suka rela.
“Tidak!” bentak Tuan Gu secara tiba-tiba. “Maaf Yang Mulia, hamba terbawa suasana.” katanya kemudian menenangkan emosinya. “An’er, ayah tahu kau sangat membenci mereka, tapi jangan karna itu kau mau menjadi prajurit An’er.” katanya melembut.
Gu Ana yang sejak tadi mengarahkan pandangannya lurus ke arah peta kerajaan Bei, ingataannya kembali kepada pemilik tubuh ini satu tahun yang lalu. Saat raja dari kerajaan Bei hampir menodainya, padahal saat itu ia baru berusia sembilah tahun. Namun kecantikan yang ia miliki membuat Raja Bei Qing menginginkanya hingga hampir menodainya. Untung saja saat itu pelayan setia dari Gu Ana memrgokinya dan berhasil membuat Gu Ana melarikan diri, namun hal itu menyebabkan pelayan pribadi Gu Ana meninggal dunia. Ditambah lagi perlakuan dan pandangan Putra Mahkota yang penuh nafsu kepada Gu Ana membuatnya semakin ketakutan dan tertekan. Serta perlakuan dari beberapa Putri dari raja Bei Qing yang menatap Gu Ana dengan tatapan benci, iri dan tidak suka semakin
mengguncang jiwanya. Untungnya ia hanya tinggal satu bulan di kerajaan Bei Qing.
Fikirannya akan baik-baik saja setelah mereka keluar dari kerajaan tersebut, namun ternyata salah. Raja Bei Qing takut kejahatannya diketahui oleh orang lain, serta rasa ingin memiliki Gu Ana semakin tinggi hingga memutuskan untuk mengirim pembunuh bayaran untuk meculik Gu Ana dalam perjalanan kembali ke kerajaan Zang, namun usahanya semua telah gagal.
Pagi itu keluarga Gu memutuskan untuk singgah kekuil, mereka berdoa agar perjalanan mereka selamat sampai tujuan, namun nasib naas tak dapat di hindari. Sebelum mereka sampai di perbatasan, anak buah Raja Bei Qing menghadang mereka dengan berpura-pura menjadi bandit, yang menyebabkan mereka terluka parah dan nyonya
Gu meninggal dunia.
Mengingat hal tersebut tanpa sengaja Gu Ana meneteskan airmatanya, meski bukan ia yang merasakannya, entah mengapa ia merasakan sesak begitu dalam ketika memori tersebut keluar, kemudian membuatnya seolah merasakan rasa bersalah yang besar. Melihat Gu Ana meneteskan airmatanya membuat Gu Min khawatir dan memeluk Gu Ana.
“Sudah-sudah, ini bukan salah mu. Semua takdir, jangan menangis lagi. Semua sudah berakhir, kau aman, tidak ada lagi yang akan berbuat seperti itu disini. Kami akan menjagamu.” ucapnya di sela-sela pelukannya. Hal itu mengurangi sedikit sesak dan rasa bersalahnya yang Gu Ana sendiri bingung entah dari mana rasa itu.
Melihat putrinya begitu tertekan dengan rasa bersalah membuatnya iba dan kasihan, tuan Gu takut putri sematawayangnya melakukan sesuatu yang menyebabkan dirinya sendiri terluka. Sementara Gu Ana yang sedari tadi berada dalam pelukan Gu Min sedikit demi sedikit mulai tenang, dan nafas teratur dari Gu Ana mulai terdengar. Ternyata Gu Ana tertidur dalam pelukan Gegenya Gu Min, Gu Min pun mengangkat Gu Ana menuju ruangan lain untuk beristirahat.
Sedangkan Raja, para Pangeran, Jendral Li Zang, Xu Jiali, dan Xu Jiang telihat kebingungan dengan semua kejadian tersebut, melihat wajah mereka yang kebingungan seolah meminta penjelasan, akhirnya tuan Gu membuka suara dan menjelaskan apa yang terjadi dengan Gu Ana saat berada di kerajaan Bei selama satu bulan. Mendengar hal itu sontak membuat mereka merasakan perasaan yang campur aduk, antara kasih, amarah, dan iba menjadi satu.

Komentar Buku (44)

  • avatar
    rendyrendy

    teh4g3s eguf

    01/05

      0
  • avatar
    SelerakuIndomie

    bagus banget

    02/05/2025

      0
  • avatar
    Reza Rizkiansah

    aku sangat senang dengan apa yang terjadi dalam waktu singkat akan menghilangkan bosan ku

    20/03/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru