“Apa maksudmu?” tanya pengeran Zang Hade. “Mohon jangan menyelaku.” kata Gu Ana. “Yang menarik itu tato kanan perajurt yang digunakan untuk akses keluar masuk kerajaan, dan itu hanya diperuntukkan untuk perajurit tertentu. Dan untuk membuatnya tak mampu di tiru oleh orang lain, mereka menggunakan dengan garis khusus yang cukup rumit. Benar begitu penjaga?” tanya Gu Ana kepada penjaga keparcayaan raja yang sudah pucat pasi dibuatnya. “Benarkah itu?” tanya Raja Zang Zuang “Ti…tidak yang mulia, ham…” bantah penjaga tersebut, namun tak mampu melanjutkan karna terpotong oleh suara seseorang dari luar. “Ti…tidak yang mulia, hambah difitnah.” suara itu terdengar familiar, dan terdengar menggemaskan, ya itu adalah Gu Jun anak bungsu dari Tuan Gu. “Ah sungguh tepat waktu.” sahut Gu Min di belakang Gu Jun. “Bukan begitu Tuan Rou Ling?” lanjut Gu Min seraya menuju ke arah penjaga kepercayaan raja Zang Zuan. “A…apa maksudmu? Aku Lee Ling.” kata Rou Ling membantah “Ah benarkah? Menurutmu bagaimana kabar nyonya Rou di kerajaan Bei?” tanya Gu Min. Melihat gegenya mengintrogasi penyusup tersebut Gu Ana memilih memakan cemilan yang dia dapatkan dari penyusup tersebut. Wajah Rou Ling mulai menegang mendengar nama ibunya disebut. Melihat itu Gu Ana mulai tersenyum. “Ah salah Gege, sebaiknya kau tanya dengan adik kita Jun’er.” kata Gu Ana mengalihkan pandangan kepada Gu Jun. “Jun’er bagaimana kepala nyonya Rou? Apa masih ada di tempat atau sudah berpindah ditanganmu?” tanya Gu Ana kepada Jun’er sambil tersenyum manis. “Ah untuk saat ini aku masih menitipkannya kepada pemiliknya.” katanya tersenyum sinis. “Bisahkah kita memilikinya malam ini?” tanya Gu Min kepada Gu Jun tanpa mengalihkan pandangannya dari Rou Ling. “Aku bisa memerintahkan mereka.” kata Gu Min santai. Semua yang berada disitu bergidik ngeri mandengarkan percakapan tiga kakak beradik tersebut, tapi tidak untuk Xu Jiang, saat mereka masuk ia mulai curiga bahwa mereka bukanlah jiwa yang sebenarnya melainkan jiwa yang sama sepertinya, mengingat keberhasilan mereka dalam dunia bisnis. Akhirnya Rou Ling tertunduk lesu di hadapan semua orang. Mau tidak mau ia harus mengakui di hadapan Raja dan Pangeran. Akhirnya raja memerintahkan untuk menangkap, dan memenjarakan Rou Ling. Namun sebelum Rou Ling pergi dibawa penjaga Gu Ana tiba-tiba membuka suara yang sontak membuat semua orang terkejut. “Bagaimana rasanya kehilangan ibu? Bagaimana rasanya nyawa berada di ujung tandu?”tanya Gu Ana menatap sinis, kini senyum manis berubah menjadi seringai mengerikan yang terlihat diwajah imutnya. “Kelihatannya ekspresimu jauh dari prediksi yang aku perkirakan.” katanya tersenyum sinis dan meninggalkan semua orang yang berada di ruangan tersebut. Kediaman Gu “Lapor tuan, di depan ada rombongan yang mulia raja serta para pangeran.” ucap kasim kepada tuan Gu. “Apa? Kenapa tiba-tiba? Cepat persilahkan masuk aku akan segera kesana.” ucap tuan Gu. “Perintahkan anak-anakku untuk berkumpul menyambut yang mulia.” sambung tuan Gu. “Baik tuan.” ucap kasim berlalu pergi, sedangkan tuang gu sudah bergegas menuju gerbang untuk menyabut rombongan raja dan para pangeran. Tak lama kemudian ia telah sampai sedangakan raja Zang Zuang, para pangeran, jendral Li Zong, dan kakak beradik Xu Jiali dan Xu Jiang telah turun dari kereta masing-masing. “Selamat datang yang mulia, para pangeran, jendral dan kedua nona muda Xu.” ucap tuan Gu. Tak lama kemudia kedua tuan muda telah sampai untuk menyambut rombongan kerajaan “Selamat datang yang mulia, para pangeran, jendral dan kedua nona muda Xu.” ucap kedua tuan muda Gu. “Kemana An’er?” tanya tuan Gu setengah berbisik kepada kedua putranya, yang di jawab dengan gelengan serentak, menandakan bahwa mereka tidak tahu. “Kemana lagi anak tu?” guman tuan Gu. Dari kejauhan terdengar kegaduhan menuju arah mereka. “Ah…. Aku terlambat.” guman Gu Ana. “Ayahhhh….. maaf aku terlambat.” teriak Gu Ana dari kejauhan dengan menggendong sebuah gitar yang baru saja ia ambil dari penempa sambil berlari, dan mengengkat hanfunya hingga betisnya sedikit terekspose. Tuan Gu sungguh kehilangan kata-kata, sedangkan kedua tuan muda Gu hanya geleng-geleng dibuatnya. “Hah…. Ayah kenapa taman belakang jauh sekali rasanya? Ahh… tunggu sebentar, aku masih mengumpulkan nafasku.” katanya terengah-engah kehabisan nafas tangan kanan memegang perutnya, sedangkan sebelah kiri mengibas-singibas tanda kepanasan. Setelah beberapa menit Gu Ana berdiri dengan tegap dan menghadap rombongan kerajaan, sambil membungkuk ia memberi salam. “Selamat datang yang mulia, para pangeran, jendral dan kedua nona muda Xu.” ucap Gu Ana dengan sedikit masih sesak untuk bernafas. Para rombongan kerajaan tersebut sedikit tertegun dengan kedatangan nona Gu Ana, ditambah lagi benda yang bertengger di punggungnya sangat asing, ya namun tidak berlaku bagi Xu Jiang. “Ah maaf ketidak sopanan putri hambah, silahkan masuk yang mulia.” kata tuan Gu memecahkan masing-masing lamunan mereka dari keterkejutan. Tuan Gu menuntun mereka ke ruang tamu dan mempersilahkan mereka duduk, raja sendiri duduk di kursi kebesaran, sedangkan mereka duduk di kursi yang lainnya. Tak lama kemudian pelayan datang membaw makanan dan beberapa cemilan yang lagi-lagi nampak asing bagi mereka terkecuali Xu Jiang. Mereka membawa ubi goreng yang direbus kemudian di goreng, kentang yang sudah di goreng, serta ayam yang telah di jadikan chicken nugert, dan terh hijau. “Makanan apa ini?” tanya Raja Zang Zuan penasara. “Itu adalah cemilan yang dibuat oleh putri hamba An’er.” jawab tuan Gu,sedangkan Gu Ana setia dengan senyumannya yang manis di wajah imutnya. “Silahkan di makan yang mulia, cemilannya akan tambah enak jika di cocol dengan saus sambal yang telah hamba buat.” sambung Gu Ana dengan senyum yang masih setia ia perlihatkan. “Baikalah, ayo makan semua.” kata raja Zang Zuan. Semua mulai memakan cemilan sesuai dengan intruksi Gu Ana, terlihat ekspresi raja, keempat pangran, jendral Lizong, dan Xu Jiali yang terkesan takjub dengan makanan yang ia makan. Ini pertama kalinya mereka memakan cemilan tersebut. Setelah beberapa menit mereka semua memakan cemilan tersebut, akhirnya tersisa beberapa cemilan manis yang baru di bawa para dayang. Kemudian raja Zang Zuan akhirnya membuka suara “Sungguh makanan yang sangat enak, kau berbakat dalam memasak An’er.” kata raja Zang Zuan. “Hamper saja aku lupa tujuanku kekediaman ini.” sambung raja Zang Zuan sambil terkekeh pelan. Sedangkan yang lain masih setia menunggu perkataan raja Zang Zuan. “Aku ingin membicarakan tentang penawarmu tempo hari An’er.” kata raja Zang Zuan kemudian dengan memandang Gu Ana. "Tawaran apa yang mulia maksud? Bahkan An’er tak pernah berbicara apapun pada ku." kata tuan Gu dalam hati. Melihat kebingungan tuan Gu, Gu Min, Gu Ana, dan Gu Jun saling berpandangan seolah berkomunikasi satu sama lain dan saling meminta pendapat. “Mei keluarlah dulu dengan para dayang.” akhirnya Gu Min membuka suara, memecahkan keheningan.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
siip
21h
0teh4g3s eguf
01/05
0bagus banget
02/05/2025
0Lihat Semua