Aku berdiri di sisi tempat tidur Edlyn, kasihan gadis itu. Dia kesepian, menanggulangi rasa sedih sendirian. Rindu yang membuncah terhadap sang Ibu, disimpannya rapi. Aku menyelimuti tubuh Edlyn, membawa piring kotor bekas mie--keluar dari kamar. "Kenapa kamu belum pulang?" Garneta sudah berdiri di belakangku. "Mulai hari ini saya menginap, tapi hanya sementara sampai Bik Yuni kembali," jawabku, kemudian berjalan melewatinya. "Siapa yang menyuruhmu menginap?!" Suara itu menggelegar. "Lenni." Aku memutar kembali badanku, berhadapan dengan Garneta. "Dia sudah meminta izin pada Pak Aksara." "Suatu hari aku akan memecat perempuan tua itu," sungut Garneta. "Jika aku sudah resmi--" Aku meninggalkan lawan bicaraku yang sedang emosi entah karena apa. "Eh, Hasna! Tolong buatkan susu," pinta Garneta. "Baik." Untuk ukuran wanita kelas atas, gaya bahasa Garneta sungguh kampungan. Ups, aku julid terhadap majikan. Seharusnya Garneta lebih memperhatikan Edlyn. Bukan hanya fokus pada Pak Aksara. Bukan hanya lelakinya saja yang dicintai, tetapi juga anaknya. Apa karena dia hanya istri siri? Jadi bersikap acuh pada Edlyn. Ah, itu bukan urusanku. Aku hanya bekerja di rumah ini. Aku menaruh piring kotor di wastafel dapur, bergegas membuat segelas susu buat Garneta. Sorot lampu mobil menembus kaca jendela dapur. Mungkin itu Pak Aksara. Aku berlari kecil menuju pintu utama untuk membuka pintu. "Apakah Edlyn sudah tidur?" tanya Pak Aksara. "Sudah, Pak." Lelaki bertubuh tinggi itu melangkah sembari melepas dasinya. Aku kembali ke dapur, menaruh susu di nampan. Ketika aku naik, Pak Aksara baru saja keluar dari kamar Edlyn. "Sayang, apa benar kau mengizinkan Hasna menginap?" tanya Garneta, yang berdiri di mulut pintu kamar. "Apa ada masalah?" "Aku takut dia menggodamu, dia 'kan janda ...." sahut Garneta. "Garneta, di kantorku banyak perempuan cantik, jika aku berniat selingkuh, sudah kulakukan," ujar Pak Aksara. "Aku butuh kejelasan hubungan kita, Aksa. Kapan kita meresmikan pernikahan kita secara hukum? Dan mengumumkan pada dunia kalau aku istrimu." Garneta menyilangkan kedua tangannya di dada. "Eh, kamu nguping pembicaraan kami!?" seru Garneta, yang menyadari keberadaanku. "Saya hanya mengantar susu." Aku meletakkan nampan di atas meja buffet. "Saya permisi." Mereka bicara di luar kamar, dengan suara yang jelas. Jadi tanpa menguping pun, aku bisa mendengar pembicaraan mereka. Setelah mencuci piring, membereskan dapur. Aku merebahkan diri di kasur busa. Lenni mendengkur pelan. Pikiranku berkeliaran, ucapanku di saat bertengkar dengan Amanda--membuatku resah. Namun, lebih baik kami tidak bertemu jika hanya saling menyakiti. Aku juga takut akan mengeluarkan sumpah serapah untuk putriku sendiri. Semoga kamu cepat menyadari kesalahanmu, Nak. Dan kita bisa berkumpul seperti semula. Semoga saja. *** "Bu Hasna, jadi mengantarku menemui Mama?" tanya Edlyn, setengah berbisik. Dia baru saja pulang sekolah. "Kapan? Kita datang ke rumahnya?" "Tidak, Mama mengajakku bertemu di mal," jawab Edlyn. Alisku bertautan. "Kamu punya nomor teleponnya?" Edlyn mengangguk. "Terakhir bertemu Mama, dia memberikan nomor teleponnya. Aku simpan tanpa sepengetahuan Papa. Aku mau mandi dulu, setelah itu kita berangkat." Edlyn menaiki anak tangga, dia begitu bahagia. Riak-riak ceria bergurat di wajahnya. Aku segera merapikan bantal. Tampak Garneta masuk dengan menenteng paper bag besar. "Terima kasih, ya, Bude suka sekali gelangnya." Aku yang sudah berjalan menuju dapur, refleks menoleh--mendengar suara yang tidak asing bagiku. Suara Bu Rosie. Sebelum dia melihatku, gegas aku bersembunyi di balik dinding. "Itu model keluaran terbaru dari perusahaan Aksara," sahut Garneta. "Kamu harus menjerat Aksara sampai dia benar-benar tidak berkutik. Jangan sampai lepas. Dia lelaki kaya," ujar Bu Rosie. "Segera buat dirimu hamil." "Mau hamil bagaimana, Bude? Setiap kali kami bercinta dia selalu memakai pengaman," dengus Garneta. "Ya, pintar-pintarnya kamu. Bagaimana kabar Edlyn?" "Bocah itu masih sulit ditaklukkan, dia selalu menentangku," keluh Garneta. "Kamu juga harus mengambil hati Edlyn, dia juga jalan menuju gerbang istana ini. Rumah ini benar-benar mewah, rumahku bahkan kalah." Mantan mertuaku memang perempuan matre. Uang, uang dan uang. "Hasna, ngapain kamu?" Lenni mencolek lenganku. "Perempuan bersasak tinggi itu saudara Nyonya Garneta?" tanyaku pelan. "Iya, dia sering datang. Orangnya judes, angkuh, sombong. Sangat menjengkelkan," sungut Lenni. "Oh, ya, Non Edlyn minta aku menemaninya ke mall. Tidak apa-apa, 'kan? Aku sudah menyelesaikan pekerjaan." "Hmm, aku iri. Lima tahun bekerja di sini belum pernah diajak jalan-jalan ke mall," sahut Lenni, bibirnya mecucu. "Oleh-olehnya jangan lupa, RotiBoy." Lenni meminta dibelikan roti dengan model tempurung dan berkulit renyah dengan rasa mentega yang khas. "Ya ... aku belikan satu saja." Aku melangkah menuju kamar. Tubuh penuh keringat, harus mandi dan berganti pakaian. Hampir 30 menit aku menunggu, tetapi Edlyn belum turun juga. Di ruang tengah masih ada Bu Rosie, aku tidak mungkin ke kamar Edlyn. Kucoba menghubungi ponselnya, aktif tapi tidak diangkat. Aku merunduk, mengintip si tamu yang masih asyik mengoceh. Kapan Bu Rosie akan pulang? Kulihat layar ponsel, Edlyn tidak kunjung membalas pesan. Apa yang terjadi dengan Edlyn? Tolong, Lyn ... balas pesanku. Akhirnya aku bisa bernafas lega, Bu Rosie dan Garneta berjalan ke luar, kudengar Bu Rosie berpamitan. Aku langsung berlari cepat menaiki anak tangga. "Edlyn ...?" Gadis itu sedang duduk di sofa, matanya fokus melihat televisi. Acara infotainment, ada Amanda dan Soraya. Mereka sedang di wawancarai, tertawa lepas bahagia. Sang reporter bertanya kiat Soraya bagaimana menjalin hubungan yang baik dengan putri tirinya. Ya, mereka berdua benar-benar tampak bahagia. Saling menyanjung, saling menyebutkan kelebihan dan kekurangan. Tanpa sadar mataku berkabut, sebulir air mata jatuh lewat ujung mata. "Maaf, Bu Hasna ... kita tidak jadi pergi. Mamaku membatalkan pertemuan kami." Suara Amanda bergetar. "Aku pikir, Mama juga merindukanku setelah lama tidak bertemu." Edlyn menengadahkan wajahnya, dia menahan air mata yang penuh di pelupuk mata. "Mama lebih mementingkan orang lain ...." lirih Edlyn, lalu dia mengembuskan nafas panjang. Bangkit dari sofa. "Bu Hasna, aku mau tidur. Lelah sekali." Aku mengerti lelah yang di maksud Edlyn. Bukan raganya yang lelah, namun seonggok hati yang lelah luar biasa. Edlyn menarik selimut sampai atas kepala, aku bisa mendengar isak tangisnya. Mataku beralih lagi ke televisi. 'Amanda akan terjun di dunia hiburan, saya yang akan menjadi manajernya,'ucap Soraya, sambil menepuk-nepuk punggung tangan Amanda. Aku mematikan televisi, berjalan lambat keluar kamar. Sekuat apa pun aku berusaha tidak merasa sakit, nyatanya pilu merambah di setiap helaan napasku. *** Aku menyempatkan diri mampir ke rumah setelah berbelanja sayur mayur dan lauk pauk di pasar. Mengambil beberapa lembar pakaian. "Hasna ... aku kangen." Mbak Niken muncul seperti angin, mendadak sudah berada di ambang pintu. "Ish, geli aku mendengar kata kangen darimu, Mbak." Aku mendorong pelan tubuhnya yang menghalangi jalan. "Bagaimana kabarmu? Kabar Amanda?" "Amanda tetap lebih memilih tinggal bersama Papanya," jawabku, sambil mengunci pintu. "Lebih baik kami tidak bertemu, untuk saat ini." "Kalau aku jadi kamu sudah kukutuk Manda jadi cilok," ujar Mbak Niken. Aku tertawa mendengarnya. "Aku harus segera balik ke rumah bos," pamitku kemudian. "Ya, hati-hati." Baru saja motorku keluar pelataran rumah, ponselku berdering. Nama Edlyn muncul di layar. "Bu Hasna ... bisa datang ke sekolah? Aku takut ...." "Ada apa, Lyn?" "A-ku berkelahi dengan temanku." Suara Edlyn sepertinya sedang menangis. "Aku di ruang kepala sekolah. Papa belum bisa dihubungi. Cepat, ya, Bu Hasna ...." "Ya, aku akan datang. Jangan menangis, Lyn." Aku tidak membuang waktu, melaju lumayan cepat dengan motor. Anak semanis Edlyn bisa berkelahi dengan temannya. Aku tidak menyangka. Pasti ada alasan kuat. Aku memarkirkan motor, bertanya pada satpam ruang kepala sekolah--berlari menuju ruang sekolah. Terkejut. Mendapati Amanda dan Soraya, duduk berdampingan di kursi. Sementara Edlyn duduk di pojok ruangan. Wajah Amanda dan Edlyn sama-sama terluka, bekas cakaran kuku. Seragam Amanda sobek di bagian lengan. "Sudah ada Mama Soraya, kenapa Mama datang?" Amanda mendengus kasar. "Mama datang untuk Edlyn," sahutku, berjalan mendekati Edlyn. Ujung bibirnya berdarah. Mandala dan Pak Aksara datang bersamaan. Ada yang sedikit janggal, Pak Aksara dan Soraya saling bertatapan kaget, namun keduanya langsung memalingkan muka. Begitu pun Mandala, yang menatapku heran, seolah berkata 'kenapa kamu memeluk anak itu?' Menurut Amanda perkelahian dimulai karena Edlyn sengaja menumpahkan jus ke sepatunya. Lalu adu mulut terjadi, berujung perkelahian. Aku membayangkan keduanya saling menjambak dan mencakar. Edlyn tidak membantah, bahkan dia mengakui tidak menyukai Amanda. "Kalian berdua di skors, satu minggu tidak boleh masuk sekolah dan membersihkan kamar mandi selama satu bulan," tegas Pak Haryanto--kepala sekolah. "Kok satu bulan, Pak?" protes Amanda. "Nggak masalah buat gue, karena gue bukan calon artis yang butuh kuku bagus," cibir Amanda. "Tolong, Bapak Ibu dinasehati putri-putrinya," tutur Pak Haryanto. "Mama, ada hubungan apa dengan Edlyn?" tanya Amanda yang beranjak dari kursi. "Ma--" "Bu Hasna calon istri papa gue, masalah buat lu!?" sela Edlyn. Mendengar ucapan Edlyn, Pak Aksara terlihat kaget. Mandala dan Soraya menatapku, ada pertanyaan tergambar di ekspresi mereka. "Itu tidak be--" "Nggak masalah buat gue, ambil saja mama gue, gue udah nggak butuh. Ape lu!?" teriak Amanda marah. "Cukup!" seru kepala sekolah. "Mereka berdua boleh pulang." Aku memandangi Amanda yang keluar beriringan dengan Soraya. Setiap kali bertemu kenapa lidahnya selalu berucap menyakitkan? Ambil saja mama gue, gue udah nggak butuh. Ya, Tuhan ... Amanda.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
Biaya 0 berlian
Keseimbangan: 0 Berlian ∣ 0 Poin
Komentar Buku (446)
HasanIstiqomah
ceritanya benar2 menyentuh, terima kasih
10d
0
MaryanaNini
bagus banget novel nya
15/04
0
HanifAchmad
CERITA NYA BAGUS, MENARIK , DAN BUAT AKU BETAH BACA BERDUA SAMA ADEK
ceritanya benar2 menyentuh, terima kasih
10d
0bagus banget novel nya
15/04
0CERITA NYA BAGUS, MENARIK , DAN BUAT AKU BETAH BACA BERDUA SAMA ADEK
15/12
0Lihat Semua