Aku mengusap lengan yang perih, kuku Amanda berbekas di permukaan kulit. Siluetnya menghilang dari pandangan. "Dia murid baru, tapi kami tidak satu kelas, agak sombong. Aku tidak begitu menyukainya," ujar Edlyn. "Agak sombong?" "Iya. Menurutku dia juga norak." "Oh, begitu, ya?" Aku menghela nafas. "Terima kasih, Bu Hasna. Sudah mengantar seragam olahraga, tadi pagi berangkatnya terburu-buru," ucap Edlyn, tersenyum. "Aku masuk kelas dulu." "Sama-sama, Lyn," sahutku. Edlyn berlari kecil meninggalkan pos satpam. Aku masih berdiri sejenak, melihat gedung sekolah bercat putih, lalu pada anak-anak yang sedang olahraga basket. Aku memutar badan, berjalan keluar dari pelataran sekolah--melewati pintu gerbang yang tinggi. Mengaitkan tali helm, meluncur dengan motor kembali ke rumah besar di kawasan elite. Lenni langsung menyongsongku begitu aku sampai, dia menyodorkan map berwarna biru tua. "Tolong, antar berkas ini ke kantor Pak Aksara." Aku menerima berkas dengan ekspresi melongo tidak percaya. Tadi anaknya yang ketinggalan seragam olahraga, sekarang Bapaknya ketinggalan berkas. Apakah sekarang pekerjaanku merangkap sebagai kurir? "Sampai kantor langsung telepon Pak Aksara, karena berkas itu tidak boleh dititipkan ke resepsionis," lanjut Lenni. "Buruan berangkat!" "Nomor ponsel Pak Bos?" Buru-buru Lenni merogoh ponsel dari dalam kantong celemek. "Sudah kukirim nomor kontaknya." "Alamat kantor?" Dengan muka jengkel, Lenni memberitahu alamat kantor Pak Aksara. Gedung mentereng di tengah kota, lantai dua. "Cepetan, Hasna!" "Mak Len ... ini juga baru mau starter motor, yang penting sampai, 'kan?" Aku berburu dengan waktu supaya tidak kehujanan, karena langit mulai menghitam, kode bahwa hujan mungkin akan turun. Sesuai mandat Lenni, aku menelepon Pak Aksara ketika aku sampai. Aku menunggu di dekat jendela kaca besar, melihat gerimis hujan mulai turun. "Tina!" Ah, aku haus dan lapar. Padahal baru pukul sepuluh. Gerobak bakso yang lewat di kejauhan, membuatku menelan air liur sendiri. "Tina." Satu tepukan di bahu membuatku menoleh, rupanya Pak Aksara. "Aku memanggilmu, tapi kamu tidak mendengar. Mana berkasnya?" Aku mengangsurkan berkas pada Pak Aksara. Dia memiliki usaha perhiasan dan jam tangan. "Terima kasih, Tina," ucap Pak Aksara. "Maaf, Pak--" Pak Aksara yang sudah berjalan dua langkah, berhenti. "Nama saya Hasna bukan Tina," lanjutku, tersenyum. "Oh, pantesan kamu tidak menoleh waktu aku panggil Tina. Baik, akan kuingat namamu, Hasna," kata Pak Aksara sebelum melangkah tergesa. Tentu saja Pak Aksara tidak ingat namaku, selama empat hari bekerja di rumahnya kami jarang bertemu. Ponselku berdering, ada panggilan masuk dari Lenni. Belum sempat aku tekan terima, panggilan berakhir. [Hasna, untuk sementara kamu menginap, Bik Yuni balik kampung karena anaknya sakit. Sebelum ke sini, kamu pulang ambil baju.] Pesan dari Lenni. Aku tidak membalas pesan, cukup dibaca saja. *** Pukul 17.36 Lenni duduk di tepi tempat tidur, dia memijat tengkuknya lalu mengoleskan minyak kayu putih. Dia mengeluh sakit kepala, perempuan bertubuh subur itu terlihat kelelahan. "Biar aku yang menyiapkan makan malam," ujarku seraya memasukkan baju ke dalam lemari kabinet. "Hanya untuk Non Edlyn," sahut Lenni. "Nyonya Garneta entah pergi ke mana, biasanya dia baru pulang jam delapan." "Pak Aksara?" "Sama saja, sibuk bekerja, kadang tengah malam baru pulang." Lenni meregangkan otot leher. "Hal seperti ini terjadi dari hari Senin sampai Jumat. Nona Edlyn minta dibuatkan mie godog, kalau sudah matang antar saja ke kamarnya." Aku beranjak dari kamar yang terletak di bagian belakang. Rumah besar ini sepi dan kosong. Bahan untuk mie godog sudah disiapkan Lenni, aku tinggal memasak. Pintu kamar Edlyn terbuka lebar, gadis itu sedang bersandar di kursi meja belajar. Wajahnya tertunduk dalam, tangannya memegang selembar foto. Aku mengetuk pintu. "Lyn ...." Dia menoleh, pipi putih itu tampak basah. Dengan cepat dia menyelipkan foto di buku, lalu mengusap pipi. "Mienya sudah matang." Aku meletakkan baki di meja. Aku pura-pura tidak peduli dengan wajah sedihnya. Edlyn mengaduk mie godog dengan garpu, sejurus kemudian bahunya bergetar. Dia menangis. "Terakhir kali bertemu Mama, kami berdua makan mie godog buatan Mama," ucapnya disela tangisan. "Sudah lama sekali kami tidak bertemu, hampir tujuh tahun." Aku mengelus punggung Edlyn, tangannya merangkul pinggangku. Membenamkan kepalanya di perutku. "Aku sangat merindukannya sekaligus membencinya." "Kenapa tidak mencoba menemuinya lagi?" Kali ini aku mengusap rambut Edlyn. "Dilarang Papa. Bagi Papa, Mama adalah wanita yang tidak bertanggung jawab," ungkap Edlyn. "Kamu tahu Mamamu tinggal di mana?" "Iya." "Coba temui, aku akan mengantarmu." Edlyn mendongak. "Mama sudah punya keluarga baru. Apa dia mau bertemu denganku?" "Kamu belum mencobanya, Lyn ...." sahutku. Edlyn kubiarkan berlama-lama memelukku, dia merindukan sosok Ibunya, sementara aku merindukan putriku. Mataku berhenti di undangan yang tergeletak di meja. Undangan ulang tahun dari Amanda. "Lyn, kamu tidak datang ke pesta ulang tahun temanmu?" tanyaku, penasaran. Edlyn melepas pelukan, dia menggelengkan kepala. "Malas, tidak penting." Aku tidak bertanya lagi, hak Edlyn mau datang atau tidak ke pesta ulang tahun Amanda. "Mau aku suapin?" tawarku pada Edlyn. "Makanan harus dihabiskan, di luaran sana banyak keluarga yang hanya bisa makan satu hari sekali. Mereka pun harus kerja siang malam untuk mendapatkan segenggam beras." Edlyn menggangguk. Aku mengambil kursi meja rias, duduk berhadapan dengan Edlyn. Perlahan menyuapkan mie ke mulut Edlyn. Dia malah tertawa kecil. "Nanti tersedak, jangan tertawa!" Aku mendelik. Edlyn meraih piring yang kupegang. "Biar aku makan sendiri, Bu Hasna. Aku sudah besar." "Harus habis," ucapku bersamaan dengan dering ponsel yang berbunyi. Aku segera berdiri, berjalan keluar kamar. "Halo." "Kamu di mana, Hasna?" tanya Mandala. "Aku di tempat kerja. Ada apa?" "Kamu harus datang ke rumahku. Jika tidak, pesta ulang tahun Amanda aku bubarkan," ancam Mandala. "Aku tidak bisa datang," tegasku. "Pestanya tidak akan mulai jika kamu tidak datang!" Klik. "Halo? Halo? Mandala!?" Mandala menutup panggilan. Dia tidak mungkin main-main dengan ucapannya. Tapi, apa sebenarnya maksud Mandala? *** Rumah Mandala tampak riuh oleh para tamu yang kebanyakan anak remaja, mereka asyik bersenda gurau. Aku mencari sosok Mandala atau Soraya. Mendadak Mandala mencekal lenganku, menarik ke arah panggung. Di sana ada Amanda yang memakai gaun warna merah muda, dia cantik sekali. Berdiri di antara Soraya dan si wanita berambut sasak tinggi alias Bu Rosie. "Kita mulai acara tiup lilinnya," kata Mandala begitu sampai di atas panggung. "Mamamu sudah datang." "Tapi, Mandala--" "Tidak ada tapi, Ma!" Mandala memotong ucapan Bu Rosie. "Jangan ada yang protes atau pestanya cukup sampai di sini." Muka Amanda seperti hutan yang terbakar, Soraya merangkul bahunya dan berbisik entah apa di telinga Amanda. Mungkin mencoba menenangkan Amanda. Serupa dengan Amanda, Bu Rosie juga menahan gelegak amarah. "Sebelum acara dimulai, perkenalkan saya Papanya Amanda, itu istri saya, Ibu sambung Amanda. Dan di samping kiri saya, Mamanya Amanda, mantan istri pertama saya," jelas Mandala pada undangan. Tentu saja semua mata tertuju padaku, seseorang yang selama ini di bawah radar. Tidak terlihat, tidak diakui. Selanjutnya tiup lilin dan pemotongan kue diiringi lagu Happy Birthday to You. Kami berempat--aku, Mandala, Soraya dan Bu Rosie menerima suapan kue dari Amanda. Kupikir sudah cukup aku berada di rumah Mandala, berjalan turun dari panggung--berencana pulang. Namun, kali ini Amanda yang menarik lenganku. Kami berhenti di dapur. "Kenapa Mama menuruti permintaan Papa? Aku tidak apa-apa jika pesta ulang tahunku dibubarkan Papa." "Kenapa tadi kamu tidak bilang sendiri ke Papamu?" "Karena Mama Soraya yang mencegahku," sahut Amanda. "Dan Mama datang ke pestaku memakai sepatu kets ...." Aku baru ingin menyahut, tetapi Mandala lebih cepat menimpali, "Karena Mamamu datang terburu-buru. Papa yang memintanya datang, karena semua orang harus tahu siapa Ibu kandungmu." Di belakang Mandala, berdiri Bu Rosie dan Soraya. "Tapi, tidak di hari ulang tahunku," protes Amanda. "Amanda, dia Ibumu, yang melahirkanmu. Hormati dia!" lanjut Mandala tegas. "Seorang Ibu tidak akan menutupi dan menghalangi anaknya bertemu ayah kandungnya," ucap Amanda. "Siapa yang bilang?" Kutatap wajah Amanda. "Siapa yang memberitahumu hal seperti itu!?" "Oma," jawab Amanda. Kali ini aku yang marah. "Apa kamu tahu siapa yang memisahkan mama dari Papamu? Oma tercintamu! Dia menusuk perutnya sendiri, mencoba bunuh diri untuk menekan Papamu!" "Hasna!" teriak Bu Rosie. "Dan, Omamu berhasil. Papamu yang pengecut itu meninggalkan Mama begitu saja tanpa berpamitan. Hilang tanpa kabar. Seharusnya Mama tidak pernah melahirkan anak sepertimu! Yang tidak mengerti perjuangan untuk membesarkanmu!" Aku menarik nafas panjang. Menghimpun energi kembali. "Sebenarnya yang tidak mengakui keberadaanmu dari awal adalah Oma dan Papamu. Kita berdua dibuang. Kamu mengerti itu!?" "Mama berbohong!" teriak Amanda. "Semua yang dikatakan Mamamu benar." Mandala mengakui. "Papa meninggalkan Mamamu demi Oma Rosie." "Aku akan tetap tinggal bersama, Papa. Kenyataan itu tidak akan merubah apa pun," kata Amanda. "Ayo, Mama Soraya kita kembali ke pesta." Amanda menggamit lengan Soraya. "Pintu rumah Mama mulai sekarang tertutup bagimu, Amanda. Bahkan jendela juga tertutup rapat untukmu," pungkasku. "Seharusnya kamu tidak berkata seperti itu pada putrimu," ujar Soraya. "Bukan urusanmu aku harus bersikap seperti apa. Selamat malam." Aku berjalan keluar dapur. Ketika rasa sakit dan kecewa sudah dalam fase parah, tidak mungkin ada celah lagi.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
Biaya 0 berlian
Keseimbangan: 0 Berlian ∣ 0 Poin
Komentar Buku (446)
HasanIstiqomah
ceritanya benar2 menyentuh, terima kasih
12d
0
MaryanaNini
bagus banget novel nya
15/04
0
HanifAchmad
CERITA NYA BAGUS, MENARIK , DAN BUAT AKU BETAH BACA BERDUA SAMA ADEK
ceritanya benar2 menyentuh, terima kasih
12d
0bagus banget novel nya
15/04
0CERITA NYA BAGUS, MENARIK , DAN BUAT AKU BETAH BACA BERDUA SAMA ADEK
15/12
0Lihat Semua