logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 7 Hanya Orang Asing

Aku meraih selimut yang sering digunakan Amanda, bergelung di dalamnya--seolah dia ada di dekatku. Walaupun ada rasa sakit yang dahsyat, tetapi aku tidak bisa membenci putriku sendiri.
Saking lelahnya aku pun terlelap jauh, melalui malam yang panjang, dan berhenti ketika pagi sudah menggenapi hari. Waktu berjalan maju, akan seperti itu sampai dunia lebur.
Lenni memintaku datang tepat pukul tujuh pagi, jadi lekas aku mengeluarkan motor setelah minum secangkir kopi.
"Kamu kerja di mana, Hasna?" Mbak Niken sudah berdiri di teras, tangannya menenteng rantang makanan. "Pagi-pagi sudah berangkat."
"Bersih-bersih di rumah besar, alias asisten rumah tangga," jawabku sambil menyalakan mesin motor.
"Wah, aku membawa bubur ayam untukmu, terus bagaimana?" tanya Mbak Niken, konyol.
Aku turun dari motor, meraih rantang warna hijau muda dari tangan Mbak Niken. "Kebetulan aku belum sarapan, jadi kubawa saja."
"Kalau ada lowongan pekerjaan di rumahmu bosmu, aku mau," ujar Mbak Niken.
"Siap, kalau ada pasti aku beritahu," sahutku, kemudian melaju dengan motor.
.
Menurut Lenni, aku tidak boleh lewat pintu utama. Harus lewat pintu belakang, karena aku bukan tamu, tapi orang yang bekerja di rumah mewah itu. Aku memarkir motor di pojokan garasi.
"Hari ini tugasmu mengganti sprei," perintah Lenni begitu aku muncul di dapur. "Spreinya sudah aku siapkan, di keranjang di ruang cuci. Setelah itu bersihkan ruang kerja Pak Aksara, ingat jangan memindah barang sembarangan, ganti sarung bantal sofa."
"Boleh aku sarapan dulu, 10 menit saja?" Aku meletakkan rantang berisi bubur ayam di meja.
"Baik. Se-pu-luh me-nit, tidak lebih. Aku harus menyiapkan sarapan." Lenni membalikkan badan, sibuk membuat kopi.
"Lenni, aku mau susu cokelat." Edlyn masuk ke dapur, dia masih memakai piyama. Hari Sabtu, jadi dia tidak pergi ke sekolah.
"Sebentar, saya buatkan," sahut Lenni.
"Selamat pagi, Bu Hasna," sapa Edlyn, ramah.
"Selamat pagi, Non Edlyn," balasku sambil merapikan rantang.
"Panggil aku Lyn," pinta Edlyn.
Aku menggaruk tengkuk yang tidak gatal, dia anak majikan mana mungkin aku hanya memanggil namanya. Lenni memberi kode supaya aku menuruti kemauan Edlyn.
"Baik, Lyn," ucapku pelan. Setelah mencuci mangkuk dan sendok aku melangkah keluar dapur, menuju ruang kerja Pak Aksara. Aku belum bertemu dengannya--aku juga tidak melihat foto keluarga di rumah ini. Bayanganku, Pak Aksara itu lelaki gendut dengan kacamata kecil.
"Aku harus bagaimana Bude? Aksara memang memanjakan aku dengan kemewahan, tetapi dia tidak kunjung meresmikan perkawinan kami di KUA."
Kakiku berhenti di depan pintu ruang kerja yang sedikit terbuka. Garneta sedang menelepon seseorang.
"Hamil? Betul kata Bude, kalau aku hamil pasti Aksara semakin bertekuk lutut. Aku bosan dengan status istri siri."
Ternyata Garneta istri sirinya Pak Aksara.
"Sudah, ya, Bude. Aku tutup teleponnya, aku harus menyiapkan sarapan untuk Aksara."
Mendengar suara kaki Garneta bergerak, aku langsung melipir bersembunyi, berjongkok di dekat meja. Perempuan itu berjalan cepat menyusuri koridor, lalu aku masuk ke ruang kerja. Menyibak semua tirai, supaya lebih terang.
Aku menggunakan vacuum cleaner--kemarin Lenni mengajari aku bagaimana menggunakannya. Maklum, seumur hidup membersihkan debu lantai cukup dengan sapu. Aku berhenti di meja kerja, menatap bingkai foto. Itu foto Edlyn dan seorang lelaki. Supaya lebih jelas, aku meraih bingkai foto.
"Oh, mungkin ini yang namanya Aksara ...," gumamku.
"Siapa kamu?!"
Jantungku berdetak ribuan kali saking kagetnya, seorang lelaki berdiri di ambang pintu. Segera kuletakkan kembali bingkai foto.
"Saya Hasna, pekerja baru di rumah ini," jawabku gugup.
"Oh." Dia berjalan mendekat. "Aku hanya mau mengambil laptop, teruskan pekerjaanmu."
Aku sedikit menunduk, tetapi mata ini memindai wajahnya. Persis dengan di foto. Ternyata dia tidak gendut, tidak pula berkacamata. Pasti dia Pak Aksara. Wajah ganteng dengan brewok tipis. Pantas saja Garneta takut kehilangan.
***
Minggu sore, langit yang tadi sempat hitam berubah cerah--di dominasi warna jingga. Sepulang kerja, aku menyempatkan diri membersihkan halaman rumah yang kotor. Aku berjongkok merapikan pot bunga.
"Mama ...."
Aku menoleh. "Manda!" seruku, bahagia.
"Aku bawa oleh-oleh dari Bali buat Mama." Amanda menyodorkan paper bag warna cokelat.
Tanganku menerima paper bag, lalu berdiri. "Ayo, duduk dulu."
Kami berdua duduk di teras sementara sinar matahari sore semakin bergulir ke barat.
"Kapan pulang dari liburan?"
"Tadi siang," sahut Amanda. "Besok malam, Papa akan mengadakan pesta ulang tahun untukku."
Besok usia Amanda genap 15 tahun. Sepertinya baru kemarin Amanda kecil duduk di pangkuanku.
"Akan banyak teman sekolah yang datang, juga relasi Papa dan Mama Soraya. Mama boleh datang boleh tidak," lanjut Amanda. "Kalaupun datang, Mama harus pakai baju yang bagus."
"Mama akan usahakan."
"Tidak perlu bawa kado. Mama Soraya sudah memberikan kado tas yang sangat mahal harganya."
Aku pikir, Amanda datang ke rumah ingin menuntaskan rindunya. Ternyata dia hanya menyemai luka lagi.
"Aku pulang dulu," pamit Amanda.
"Mama tidak akan datang ke pesta perayaan ulang tahunmu. Mama tidak perlu oleh-oleh darimu, bawa pulang lagi." Aku meraih tangan Amanda, mengembalikan paper bag. "Satu lagi, kado dari mama tidak mahal, hanya seuntai doa," pungkasku.
"Aku akan bilang ke Papa, Mama menolak datang."
"Karena kamu sebenarnya tidak ingin mama datang. Iya, kan?"
Amanda terperangah.
Aku bangkit dari kursi dan berujar, "Mama capek, ingin istirahat."
"Ya, ya, aku akan pulang." Amanda langsung melangkah pergi begitu saja.
Amanda, mama berharap kamu tidak terlambat menyadari kesalahanmu.
***
Bik Yuni sedang menyeterika, sementara aku memasukkan pakaian kotor ke mesin cuci. Bik Yuni bercerita tentang Pak Aksara.
"Mereka menikah sekitar 4 bulan yang lalu. Selama menikah Nyonya Garneta tidak boleh mempublikasikan pernikahan siri mereka. Bahkan keluarganya tidak boleh ada yang tahu. Kasihan Nyonya Garneta ...."
"Harusnya sebagai perempuan bisa bersikap tegas dan menolak hubungan seperti itu," timpalku, duduk di tepi jendela.
"Namanya juga cinta, Hasna. Kadang cinta bisa menyesatkan," tukas Bik Yuni. "Pak Aksara tidak pernah percaya pada perempuan, baginya semua perempuan hanya tertarik dengan hartanya."
"Tapi, dia menikahi dengan Garneta. Aku lihat mereka mesra sekali."
"Tapi, dia tidak menikahinya secara resmi ...." Bik Yuni berkata pelan.
Lalu Bik Yuni bercerita, bahwa dulu Pak Aksara pernah menikah kemudian berpisah dengan istrinya, karena faktor ekonomi. Istrinya pergi meninggalkan dia dan Edlyn begitu saja.
"Pak Aksara patah hati sejak itu, dan tidak ada perempuan yang bisa menggeser mantan istrinya," lanjut Bik Yuni.
"Disakiti tapi masih mencintai," lirihku, menghela nafas.
Cinta kadang bisa begitu menenangkan, membuat candu hati yang kesepian. Cinta kadang sangat mengerikan, membuat jiwa enggan bercinta lagi.
"Hasna, tolong antar seragam olahraga milik nona Edlyn," pinta Lenni.
"Ke sekolah?" tanyaku.
"Iya, ke mana lagi?"
"Pak Roni 'kan bisa diminta tolong, aku sedang mencuci," tolakku--karena Edlyn satu sekolah dengan Amanda.
"Si Roni sedang mengantar Nyonya Garneta, biar aku yang mencuci." Lenni meletakkan tas serut di pangkuanku. "Buruan, Hasna."
"Iya, iya." Aku melepas celemek, kemudian melangkah keluar rumah.
Dengan motor kesayangan aku menembus jalanan kota yang ramai. Sampai di sekolah, aku menunggu Edlyn di pos satpam. Pesan singkat sudah kukirim.
Sepuluh menit berlalu, Edlyn belum terlihat. Padahal pesan sudah centang biru.
"Apa yang Mama lakukan di sini?" Amanda mencekal lenganku kuat sekali. "Sudah aku bilang, Mama tidak perlu datang ke sekolahku," bisiknya, marah.
"Mama ke sini bukan untuk menemuimu, Manda ...."
Amanda semakin mencengkeram kuat lenganku, kukunya terasa menghujam ke kulit. "Lalu Mama mau menemui siapa?"
"Bu Hasna, maaf menunggu. Eh, Manda, kenapa kamu ada di sini?" Edlyn sudah datang.
Refleks Amanda melepas lenganku. "Oh, hanya lewat saja," sahut Amanda.
Edlyn sepertinya tidak percaya, dia melihat ke arahku. "Kalian berdua saling kenal?"
"Ng. Itu ... kami ...." Amanda gelagapan menjawab. "Dia hanya ... ka-mi ...."
"Kami tidak saling mengenal, Lyn," sahutku. "Dia orang asing, dia bukan siapa-siapa."
Ada rona kaget yang berusaha disembunyikan Amanda. Mungkin dia tidak mengira aku akan berkata seperti.
"Kami tidak saling mengenal," tandasku.
Amanda berlari meninggalkan pos satpam, aku bisa melihat semburat bening di matanya.
Apakah kau terluka mendengar ucapan mama, Amanda? Bukankah itu yang kau inginkan? Kita tidak ada hubungan apa pun. Hanya orang asing.

Komentar Buku (446)

  • avatar
    HasanIstiqomah

    ceritanya benar2 menyentuh, terima kasih

    13d

      0
  • avatar
    MaryanaNini

    bagus banget novel nya

    15/04

      0
  • avatar
    HanifAchmad

    CERITA NYA BAGUS, MENARIK , DAN BUAT AKU BETAH BACA BERDUA SAMA ADEK

    15/12

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru