logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 6 Menepi

"Mama sekarang sensitif," sungut Amanda, menyambar tote bag. "Kenyataannya rumah ini mirip gubuk di tengah sawah."
"Cukup!" teriakku, geram.
Amanda tampak kaget, pucat.
"Mulai detik ini, mama tidak berharap kamu datang ke rumah ini. Mama tidak akan memintamu datang menemui mama. Terserah kamu mau melakukan apa," ucapku, berusaha merendahkan intonasi suara.
"Baik. Aku malah suka," sahut Amanda. "Jadi aku tidak ada beban untuk berkewajiban menemui mama."
Aku tidak tahu apa keputusanku tepat. Semakin menarik Amanda, dia semakin melepaskan diri. Semakin kuikat kencang, dia semakin berontak. Dalam tahap ini aku ingin menepi. Memberikan kelonggaran pada Amanda. Apakah dia akan kembali? Hanya waktu yang bisa menjawab.
"Taksinya sudah datang, Mama akan mengantarmu."
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri." Amanda berjalan keluar rumah.
Setelah mengunci pintu, gegas aku mengikutinya, ini sudah malam aku tidak bisa membiarkan Amanda pulang sendirian. Aku duduk di jok belakang, di sebelah Amanda yang berkutat dengan ponselnya.
"Semoga kamu bahagia tinggal dengan Papamu ...." lirihku.
"Tentu aku bahagia," ujar Amanda.
Aku menghela nafas. "Semoga kamu tidak menyesal, Manda."
"Mana mungkin aku menyesal," sahut Amanda, jengkel.
Mataku beralih memandang keluar jendela mobil. Pada kerlip lampu jalanan, sudah berkali-kali Amanda mematahkan hatiku. Tidak menghormati aku--ibunya--perempuan yang tidak punya gemerlap berlian. Namun, punya kasih sayang yang tidak mungkin luntur.
"Aku sudah besar, jadi tidak perlu mengatur-atur kapan aku harus ke rumah Mama," papar Amanda ketika taksi memasuki gerbang perumahan elite.
"Mama hanya bisa berdoa untuk kebaikanmu dan kebahagiaanmu," ungkapku sambil mengambil uang dari dompet, untuk membayar taksi.
Begitu taksi berhenti, Amanda langsung turun. Berlari masuk ke dalam rumah. Setelah membayar taksi, aku melangkah pelan. Mandala yang tampak berdiri di mulut pintu, menghampiriku.
"Ada apa dengan Amanda? Kenapa dia pulang ke sini?" tanya Mandala.
"Aku yang menyuruhnya pulang, dia tidak bahagia menginap di rumahku," jawabku. "Jadi kau tidak usah mengatur Amanda mau bertemu aku atau tidak. Jangan memaksanya lagi."
"Tapi, Hasna kau Ibunya."
"Aku tahu itu, bahkan seluruh dunia tahu. Tapi, jika semakin ditekan, Amanda akan semakin membenci dan mengabaikan aku. Biarkan mengalir." Ada yang menghangat di pelupuk mata. "Mandala, tolong tetap kabari aku tentang Amanda," pintaku kemudian.
"Pasti, Hasna," ucap Mandala.
Soraya yang berdiri di beranda, memandang dengan rasa tidak suka. Dia seolah sedang mengawasi mangsanya.
"Aku pulang dulu," pamitku.
"Tunggu, aku akan mengantarmu," sergah Mandala seraya meraih lenganku.
Aku menggeleng cepat dan mendorong tangan Mandala. "Tidak perlu, Mandala," tolakku. Sepasang mata cantik terlihat berkobar marah.
Cepat kulangkahkan kedua kaki. Bodohnya aku, kenapa tadi tidak meminta taksi untuk menunggu. Pikiranku benar-benar kacau.
***
Aku sedang menata donat di etalase, saat Rika memanggil namaku.
"Di panggil Pak Fahd, ditunggu di ruangannya."
Perasaanku tidak enak, karena seminggu yang lalu ada beberapa karyawan di PHK. Sudah lama ada isu toko roti akan mengurangi jumlah pegawai, karena penurunan omzet yang drastis.
Benar dugaanku di dalam ruangan Pak Fahd sudah ada Mbak Niken, Bu April, dan Meila.
"Maaf, kalian berempat tidak bisa bekerja lagi di toko roti. Ini ada sedikit pesangon untuk kalian," ucap Pak Fahd.
Kami berempat hanya bisa saling berpandangan lesu. Apalagi Bu April, dia sampai menangis. Bagi orang kecil seperti kami, kehilangan pekerjaan bagai kehilangan separuh nyawa.
Setelah menerima pesangon, aku dan Mbak Niken berjalan bersisian menuju ruang ganti.
"Sepertinya yang sudah berumur lebih dari 35 tahun menjadi target pemecatan," celetuk Mbak Niken, melepas apron warna cokelat.
"Tapi, umurku masih 34 tahun." Aku tertawa hambar.
"Otewe 35, deh ... cari kerja di mana, ya?"
"Di rumah saja, urus suami," timpalku. "Suamimu 'kan kerja, Mbak."
"Malas lihat mukanya," sahut Mbak Niken.
Aku juga bingung harus cari kerja ke mana, sementara usia tidak muda lagi. Aku mendengar ada suara notifikasi pesan.
[Bisa kita bertemu?] Isi pesan dari nomor yang tidak kukenal. Klik foto profil, seorang perempuan sedang duduk di pinggir pantai, melihat sunset. Wajahnya tertutup topi lebar.
[Siapa ini?] balasku.
[Soraya.]
[Baik. Kita bertemu di mana?]
[Aku tunggu di taman kota.]
Aku harap Soraya tidak membuat masalah, hari ini sudah cukup menyedihkan karena PHK.
"Serius banget wajahmu," ujar Mbak Niken.
"Soraya ingin bertemu denganku." Aku memberitahu Mbak Niken. "Aku duluan Mbak."
"Apa yang mau dibicarakan?"
"Entahlah." Aku mengangkat kedua bahuku tanda tidak tahu. Kemudian melesat ke tempat parkir.
***
Perempuan berambut panjang dan ikal itu sudah duduk di bangku taman. Kepalanya menengadah, entah langit atau pohon yang dilihatnya.
"Ada apa?" Aku duduk di ujung bangku.
"Apa benar kemarin malam Mandala makan di rumahmu?"
"Hanya semangkok mie instan." Aku heran dengan pertanyaan Soraya. Kenapa Amanda menceritakan hal sepele seperti itu?
"Apa kamu masih mencintai Mandala?" tanya Soraya.
"Sudah tidak ada apa pun di antara kami, hanya ada Amanda," jawabku.
"Aku tidak suka jika kalian bertemu berdua saja, walaupun hanya membicarakan perihal Amanda." Wajah cantik Soraya terlihat menahan emosi karena cemburu.
"Hanya itu yang ingin kaubicarakan?"
"Bisakah kau pergi dari kota ini?" Soraya balik bertanya.
"Tidak, karena di sini ada putriku. Dan kamu tidak bisa mengatur hidupku," ucapku. "Jangan khawatir aku tidak akan merebut Mandala darimu. Sekali lagi kukatakan, tidak ada yang tersisa di antara kami."
Soraya tersenyum tipis. "Aku menemukan fotomu di laci meja kerja Mandala."
"Seharusnya kamu membicarakan hal itu dengan Mandala, bukan denganku," ujarku seraya berdiri. "Aku rasa sudah cukup pembicaraan ini."
"Aku merasa bego karena bersaing dengan perempuan seperti dirimu."
"Itu masalahmu sendiri. Aku harap, kita tidak membicarakan ini lagi," pungkasku, meninggalkan Soraya yang masih betah duduk di bangku taman.
Mandala adalah masa laluku, bagian kecil dari bab kehidupan. Tentang rasa yang pernah tercecap di hatiku.
***
Semua lowongan pekerjaan selalu mensyaratkan umur di bawah 30 tahun. Hanya lowongan sebagai ART yang sesuai dengan usiaku. Aku harus segera menemukan pekerjaan. Uang pesangon hanya cukup untuk makan satu bulan.
Akhirnya aku memutuskan memilih salah satu lowongan sebagai ART. Aku menghubungi nomor telepon yang tertera.
"Selamat siang, apa lowongan pekerjaan sebagai ART masih ada?"
"Oh, masih ada," jawab seorang perempuan di seberang. "Datanglah sekarang jika Anda berminat."
"Baik, terima kasih informasinya."
Aku pun segera meluncur ke alamat rumah yang membutuhkan jasa ART. Aku sempat berputar dua kali di dalam kompleks perumahan mewah. Berhenti di rumah bergaya modern tanpa pagar. Mencocokkan nomor yang terpasang di dekat pintu.
Setelah dua kali menekan bel, seorang perempuan paruh baya membukakan pintu. Dia tersenyum ramah lalu bertanya, "Anda tadi yang menelepon menanyakan lowongan pekerjaan?"
"Benar, saya Hasna." Aku memperkenalkan diri.
"Panggil aku Lenni. Ayo, silakan masuk. Kita bicara di dalam."
Aku berjalan mengikuti Lenni, mataku mengamati ruangan demi ruangan yang kami lewati. Semua terkesan rapi dan elegan.
"Kamu masih muda dan cantik, kenapa melamar pekerjaan menjadi ART?" tanya Lenni.
"Kebutuhan perut lebih mendesak," jawabku.
"Tidak malu?"
"Kenapa harus malu? Toh saya tidak mencuri."
Kami berdua memasuki ruang makan yang luas, ada perempuan berwajah cantik--sedikit oriental yang umurnya kira-kira sebaya denganku. Dan gadis remaja yang sedang mengunyah makanan. Aku tebak mereka ibu dan anak.
"Nyonya Garneta, ini Hasna. Dia datang untuk melamar pekerjaan," kata Lenni pada perempuan yang bernama Garneta, sang nyonya rumah.
Garneta memandangi diriku dari ujung kaki sampai rambut. "Berapa umurmu? Sudah menikah?"
"34 tahun, saya janda."
"Maaf, kamu tidak diterima," ucap Garneta.
"Ini yang keempat kali kamu menolak setiap orang yang melamar pekerjaan." Gadis itu berkata sengit pada Garneta. "Ibu Hasna, Anda boleh bekerja mulai hari ini. Lenni, tolong beritahu apa saja yang harus dikerjakan. Seragam nanti menyusul."
Aku terkejut dengan sikap gadis itu, yang angkuh dan dingin. Bahkan dia berani menentang Garneta. Perempuan itu bersemburat malu dan marah.
"Baik, Nona Edlyn. Ayo, Hasna." Lenni menarik lenganku menuju dapur.
Aku masih bingung dengan kondisi rumah ini, Garneta dipanggil Nyonya, tetapi kalah dengan anaknya.
"Pekerjaanmu membersihkan seluruh rumah ini, mengganti sprei setiap dua hari sekali," jelas Lenni. "Tidak boleh ada debu yang tertinggal."
"Lenni, apa aku boleh bertanya, Nyonya Gar--"
"Dia ibu tiri nona Edlyn," potong Lenni setengah berbisik.
Mulutku hanya berkomentar, "Oh."
Di dalam rumah ini ada tiga ART termasuk diriku, selain Lenni, ada Bik Yuni--umurnya sekitar 50 tahun.
***
Aku langsung tiduran di kasur, hari pertama kerja, aku harus mengganti seluruh tirai rumah, membersihkan tempat gym pribadi, dan hasilnya tubuhku penat.
Tanganku meraih ponsel dari dalam tas, ada beberapa pesan masuk. Salah satunya dari Mandala, dia memberitahu mengajak Amanda liburan ke Bali. Di sertai foto Amanda yang sedang duduk di ruang tunggu bandara, dia tertawa bahagia.
Kemudian bergulir pada status Amanda di Instagram. Rasanya hatiku semakin nyeri saat melihat foto Amanda, Soraya, dan Mandala bersama.
Caption-nya sangat menohok. 'Dengan Mama dan Papa. Bali, kami datang. Yeayy.'
Kubiarkan air mata berkejaran di pipi. Ah, Amanda, sedikit pun kamu tidak mengingat Mama ... apalagi sebulir rindu untuk Mama. Tidak ada sama sekali.

Komentar Buku (446)

  • avatar
    HasanIstiqomah

    ceritanya benar2 menyentuh, terima kasih

    13d

      0
  • avatar
    MaryanaNini

    bagus banget novel nya

    15/04

      0
  • avatar
    HanifAchmad

    CERITA NYA BAGUS, MENARIK , DAN BUAT AKU BETAH BACA BERDUA SAMA ADEK

    15/12

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru