“Kita tidak bisa mengubah semua kejadian yang telah ditakdirkan. Yang dapat kita lakukan adalah tetap semangat menjalaninya.” “Hei! Anak kampung, mau kemana kau? Berpakaian sok rapi, bajumu ituloh udah jelek, buluk, sok-sokan kuliah ngaca dong!” hinaan mereka selalu mengaum menyeruak masuk ke rongga telinga. Keseharianku memang selalu diwarnai hal seperti ini, diri ini selalu bergumam ingin membungkam mulut mereka dengan kesuksesan yang akan kuraih nanti. Sayangnya dunia yang aku tempati tak memberikan kesempatan untuk hidup dengan nyaman dan tenang. Sesampainya di distributor koran, masih saja ada beberapa teman seloper yang mengejek penampilanku bahkan ada juga yang mengatai secara terang-terangan di depan banyak orang. “Hei ngapain loper koran seperti kau kuliah? Lagian nanti gak sampai lulus juga bakalan berhenti, kan kau cuma loper koran, buat makan aja susah kau, sok pakai gaya-gayaan kuliah segala, hahaha,” ledeknya dengan sikap merendahkan. Perkataan demi perkataan mereka tak pernah kuindahkan, diri ini berlalu melanjutkan aktifitas kuliah. Hari kuliah yang sangat melelahkan, jika bukan karena nasib dan biaya kuliah gratis, mungkin diri ini telah lama keluar dari kampus yang seperti neraka itu. Toni memang sudah sangat keterlaluan, dia menggunakan kekuasaan dan kekayaannya, hanya untuk kesenangan pribadinya, tak peduli dengan apa yang dialami orang lain karenanya. Bagaimana bisa menahan semuanya semakin lama, aku harus terbiasa dengan perundungan yang dia lakukan. Bagi diriku, semua yang terjadi terasa sangat tak adil. Padahal diri ini sangat ingin seperti yang lainnya, memiliki kehidupan normal sebagaimana mestinya. Berteman dengan banyak orang, kuliah dengan nyaman dan tenang, tanpa adanya perundungan atau apalah namanya. Malam hari setelah semua yang terjadi hari ini, tubuhku sangat lelah, meski begitu diri ini masih menyempatkan untuk belajar dan membantu ibu mempersiapkan dangangan krupuk untuk besok pagi. “Bagaimana kuliahmu hari ini nak, lancar? Tidak ada masalah kan?” tanya ibuku. “Lancar kok bu, aku juga banyak bertemu dengan teman baru. Alhamdulillah tidak ada masalah kok bu, bahkan kuliah hari ini aku senang bisa belajar bersama dengan orang baru yang begitu ramah kepadaku,” jawabku sedikit berbohong, karena tidak ingin membuat ibu khawatir, dengan apa yang telah kualami tadi pagi. “Syukurlah, kalau begitu nak, sekarang tidurlah agar besok tidak kesiangan, adikmu juga sudah tertidur,” sambungnya. “Baik, Bu! Aku tidur dulu, ibu juga istirahat, ibu kelihatan sangat lelah,” pamitku. “iya, Nak! Sebentar lagi ibu mau membereskan ini dulu,” jawab ibu. Malam ini entah kenapa, diri ini susah sekali untuk terlelap, hingga waktu menunjukkan pukul 00.00 malam. Hingga entah pukul berapa diri ini mulai terlelap, sampai merasakan hal aneh yang terasa begitu nyata, bahkan lebih nyata dari kehidupan di dunia sebenarnya. Apa yang kurasa ini terjadi ketika diri ini dalam keadaan tertidur, lebih tepatnya dalam keadaan bermimpi. Entah dari mana semua berawal, ketika diri ini tertidur lelap, namun diri ini terasa sangat sadar bahwa sedang dalam keadaan bermimpi. Singkat sekali diri ini merasakan mimpi dalam keadaan tersadar dan itu sungguh sangat membuat diri ini merasakan nikmatnya hidup. Bagaimana tidak, diri ini sempat memikirkan sebuah tempat yang sangat indah dengan tebing tinggi yang ditumbuhi berbagai macam tanaman hijau, air terjun yang begitu sejuk memanjakan mata setiap memandang. Dalam sadar, diri ini memejamkan mata sejenak, tapi yang terjadi malah bangun dari mimpi indah tersebut. Akhirnya tepat pukul 02.00 dini hari, diri ini mulai tertidur lelap kembali, namun sudah tidak terjadi lagi mimpi yang baru saja terjadi. Terbangunnya diri ini, waktu telah menunjukkan pukul 05.00 pagi dengan ditandai jam weaker butut yang berbunyi nyaring, itu pertanda diri ini harus memulai aktivitas hari ini. Tanpa sadar, ada sedikit rasa sakit di pergelangan tangan bagian dalam sebelah kiri. Awalnya terasa sangat sakit, tapi hanya sebentar hingga akhirnya kubiarkan saja, karena mungkin beberapa orang mengalami hal tersebut, yah kupikir itu nyeri sendi biasa. Sesampainya di kampus, Toni semakin menjadi-jadi memposisikan diri ini sebagai target rundungannya. Baru saja diri ini melangkah memasuki pintu kelas, plastik berisi air melayang tepat ke arah wajahku. Splass ... “Hahaha, nice shoot bro!” ucap salah satu anggota geng. “Iya lah, Toni! Pasti nice shoot!” ujar Toni membanggakan diri. “Hahaha, makanya orang miskin sok-sokan kuliah lu, pulang sono mulung koran!” Aku pun pergi meninggalkan kelas untuk mengerigkan baju, entah kenapa Toni dan gengnya mengikuti dari belakang. Apa yang akan mereka lakukan lagi terhadapku, padahal diri ini sudah berusaha menjauh. “Hei, Aryan, Si Loper koran! Mau kemana kau?” panggil Toni. “Apa lagi, Ton? Sudahlah aku kan tidak mengganggumu,” jawabku. “Wajahmu itu sangat mengganggu sekali, apalagi saat matamu lancang melihat Aulia, kau harus ingat ini, Aulia itu milikku jauh-jauh kau darinya!” Dipegangnya kerah baju, dan didorongnya diriku ke dinding. “I-iya, Ton, aku tidak akan melirik Aulia lagi,” ucapku agak gemetar. “Hei, Kalian! Hajar dia!” perintah Toni kepada anak buahnya. “Tu-tunngu, Ton, a-aku mi ....” belum sempat diri ini selesai bicara pukulan anak buah Toni sudah melayang di perutku. Toni dan gengnya benar-benar keterlaluan, diri ini sudah berusaha menjauh dan tidak membuat urusan dengan mereka, tapi tetap saja mereka tetap berusaha untuk membuatku tak betah untuk datang ke kampus. Lagi-lagi alasan mereka memukulku hanya karena Aulia, padahal pagi ini diri ini masih belum sempat melihat batang hidung Aulia. Tiba-tiba diri ini dikejutkan oleh rasa sakit yang begitu pedih, pada pergelangan tangan kiri bagian dalam, persis seperti kejadian tadi pagi setelah bangun tidur. Hal aneh kembali terjadi pada diri ini pergelangan tangan kiri bagian dalam mulai mengeluarkan cahaya dan meninggalkan bekas tanda berbentuk ukiran kecil dengan bentuk diamond di tengahnya. Diri ini mulai bingung serta mencoba menghapus tanda yang tiba-tiba muncul tersebut. Walau terlihat begitu samar, aku agak risih dengan tanda ini. Bagaimana tidak, jika ibu dan orang lain tahu mereka pasti menganggap diri ini mentatonya. Kejadian aneh apalagi ini, sejak kemarin mulai dari mimpi yang begitu aneh, rasa sakit di pergelengan tangan tadi pagi, dan barusan rasa sakit itu mulai terasa kembali diikuti cahaya remang serta tanda samar mirip tato pada pergelangan tangan kiri bagian dalam. Otakku masih tidak dapat mencernanya dengan baik. Belum sempat diri ini selesai tercengan, terdengar suara samar yang membuatku nanap seketika. ”Kandidat baru telah hadir, akhirnya akan segera dimulai,” ujar sesosok siluet yang dengan cepat menghilang di balik semak-semak setelah mengucapkan kalimat tadi. Tubuhku gemetar melihat dan mendengar perkataan sesosok tadi, apa maksudnya? Kandidat apa?. Jelas-jelas dia mengucapkan kandidat baru, dan akan segera dimulai. Apanya yang akan dimulai? Ada apa sebenarnya dengan duniaku ini? Apa aku masih dalam keadaan bermimpi?. Bertubi-tubi pertanyaan muncul di dalam kepalaku, entah jawaban apa yang benar-benar ingin kuketahui.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
cerita ini sangat bagus dan seru
08/01/2023
0mau top up
13/06/2022
0sukses selalu
03/05/2022
0Lihat Semua