Suasana di dalam rumah Gara terasa tegang karena melihat kado dari Bening. Apalagi tatapan mata mereka terus saja tertuju pada Bening, membuat wanita itu bingung sekaligus takut. Apakah dia salah karena telah memberikan kado seperti itu pada Gara? Atau mungkin saja itu terlalu murah untuk Gara? Banyak sekali pertanyaan bermunculan di benak Bening. Bening tak tahu harus bersikap seperti apa, di sini adalah tempat yang sangat asing, tak ada juga yang bisa membantunya jika dia terkena masalah. Bening mencengkeram ujung hijabnya dengan keras, hatinya benar-benar tak karuan karena melihat tatapan tajam dari Sisil. "Apa yang kamu bawa?!" bentak Sisil. Bening terkesiap, dia tak berani menatap Sisil. Rasanya Bening ingin menangis ketika mendapat bentakan dari Sisil, namun dia berusaha keras agar tak menangis di situ. "Asal kamu tau, Gara tak membutuhkan itu karena Gara--" "Sisil!" bentak Gara. Sisil menoleh ke arah Gara, wanita itu terkejut karena Gara membentaknya. Sisil melihat Gara menggelengkan kepalanya seolah mengatakan 'jangan bicara apapun padanya' Sisil menatap Gara tak percaya, dia bingung apa maksud Gara bertindak demikian. Gara kembali menoleh ke arah Bening, pria itu kembali tersenyum manis. "Terima kasih kadonya, Bening. Aku suka," kata Gara lirih. Bening mendongakkan kepalanya, tatapan mereka pun bertemu, namun tak lama karena Bening memutuskan kontak mata itu. "Maaf jika itu bukan sesuai ekspektasimu," lirih Bening. Kepala wanita itu menunduk, membuat Gara merasa bersalah. "Aku suka, kok. Aku pakai ya." Gara memakai peci itu dikepalanya, orang-orang di sekitarnya hanya bisa diam melihat Gara. "Kalau tidak suka jangan dipaksa, Sagara. Buang saja." Gara mendengar suara Bening tampak serak, tanpa sadar Gara mengepalkan tangannya. Sungguh! Bukan ini yang dia mau. Yang Gara inginkan adalah suasana pestanya tampak berjalan sesuai rencana, bukan malah sebaliknya. Apalagi saat ini Bening sedang terpojok. Gara menyesal karena telah membuka kado itu di tempat umum, harusnya dia bisa menahan agar tidak membukanya. "Aku suka, kok. Nih buktinya aku pakai. Jadi gimana, Bening? Apakah aku tampan jika memakai peci?" tanya Gara untuk mengalihkan pembicaraan. Bening menatap Gara agak lama, kemudian mengangguk pelan. "Iya, kamu tampan jika seperti itu," puji Bening tulus. Gara tersenyum miris, seandainya saja mereka tak berbeda, mungkin Gara dengan senang hati menyambut pujian itu. "Terima kasih, Bening." "Aku yang berterima kasih padamu, Sagara, karena mau menerima hadiah pemberianku." Sisil mengepalkan tangannya ketika mendengar obrolan di antara mereka berdua, di sini sedang ada banyak orang. Kenapa mereka terlalu asyik dengan dunia mereka sendiri. Sisil menatap Bening tak suka, sejujurnya jauh di dalam lubuk hatinya sedang terluka karena sedari tadi Gara mengacuhkannya. Di tahun-tahun sebelumnya jika Gara ulang tahun, Sisil selalu di nomor satukan oleh Gara, namun sekarang posisi itu sudah beralih pada Bening. "Kalau begitu aku pamit pulang, sudah larut malam. Tadi ayahku berpesan agar pulang jangan terlalu larut. Terima kasih atas undangannya. Assalamualaikum." Bening membungkukkan badannya sebentar, kemudian berbalik badan. Wanita itu menghela napas lega karena akan terbebas dari situasi menegangkan seperti ini. "Tunggu! Bahkan acaranya belum dimulai, kau sudah mau pulang?" tanya Gara. Gara tampak kecewa dengan keputusan Bening. "Maaf, Sagara," gumam Bening lirih, Bening mengacuhkan ucapan Gara, berjalan dengan cepat untuk segera keluar dari rumah itu. "Kenapa kamu diam saja? Sana kejar!" perintah Gara pada Sisil. Sisil mengedikkan bahunya acuh, kali ini dia tak ingin mengikuti perintah Gara. Yang ada nanti hatinya tambah sakit. "Apa hubungannya denganku?" tanya Sisil. "Apa kamu lupa, hah! Dia tadi ke sini bersamamu, lalu nanti dia pulang dengan siapa?!" "Peduli banget sama dia? Memangnya dia siapa kamu? Dan dia siapa aku? Kenapa kamu begitu peduli dengannya dan juga kenapa harus aku yang kamu suruh-suruh. Asal kamu tau, aku ini bukan supirnya!" tandas Sisil. Gara mendesis lirih, Sisil tak akan mengerti maksud Gara. Gara sengaja menyuruh Sisil karena Gara tahu kalau Bening tidak akan mau jika hanya mereka berdua. Gara sedikit tahu mengenai bahwa Islam melarang perempuan dan laki-laki berduaan, itulah alasan Gara menyuruh Sisil. "Sisil, tidakkah kamu merasa kasihan padanya? Ini sudah malam, kamu tidak kasihan jika terjadi sesuatu padanya?" tanya Gara untuk meyakinkan Sisil. Sisil melipatkan kedua tangannya, dia menatap Gara dengan intens. "Kamu aja nggak pernah kasihan padaku ketika aku pulang sendiri ketika larut malam, kenapa padanya kasihan?" tanya Sisil menantang. Gara menyugar rambutnya dengan kasar, hatinya benar-benar tak tenang. "Itu jelas beda. Kamu sudah terbiasa keluar malam. Sedangkan dia? Siapa tau baru kali ini dia keluar malam. Cepat susul dia, Sil," mohon Gara. Sisil tersenyum kecut, baru kali ini dia melihat Gara memohon seperti itu hanya karena seorang wanita yang baru saja Gara kenal. Sisil sudah menebak jika Gara jatuh cinta pada gadis itu. Sisil tak terima. "Dia bukan anak kecil lagi, Gara. Kenapa kamu khawatir padanya? Dia hanya orang asing di sini, lihatlah di sana." Sisil menunjuk menggunakan jari telunjuknya, Gara langsung mengikutinya. "Itulah yang sekarang harus kamu prioritaskan. Teman-teman sudah menunggu lama, mari kita ke sana," ucap Sisil, wanita itu menggandeng tangan Gara. Namun Gara bergeming di tempat. Pria itu malah menyentak tangan Sisil dengan kasar. "Dia bukan orang asing, dia juga sudah menjadi bagian dari kita!" 'Dan juga dia menjadi bagian hatiku,' lanjut Gara dalam hati. "Ada apa denganmu, Gara? Kenapa tingkahmu seperti anak kecil sekarang?" tanya Sisil dengan dahi berkerut. Gara menatap Sisil tajam, rasanya Gara ingin mengumpati wanita yang ada di hadapannya. Namun sayangnya dia tak tega. Gara menggeleng pelan, pria itu berlalu meninggalkan Sisil, menurutnya percuma jika berbicara dengan Sisil, hanya sia-sia. Gara mendekati Rio, Yogi, dan Radit. Mereka berempat saling beradu pandang. Mereka bertiga tahu apa maksud tatapan Gara. "Sepertinya tadi aku sedang melihat drama mencengangkan," ucap Yogi yang memulai obrolan itu. Gara menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Gara tak menjawab, pikiran pria itu terus saja tertuju pada Bening. 'Bagaimana dengannya? Apakah dia baik-baik saja? Ah, semoga saja dia sudah sampai rumah. Bening, maafkan aku,' batin Gara. "Aku ...." Gara menggantungkan kalimatnya, dia bingung harus berbicara apa pada ketiga temannya itu. "Kamu suka dengan dia?" tanya Yogi tajam. "Tidak," elak Gara. "Bohong!" sela Rio. "Aku setuju dengan Rio, kalau Gara tak suka pada wanita itu, tak mungkin tadi dia bertindak yang sangat mustahil. Dan apa-apaan tadi wanita itu? Memberimu kado sebuah peci? Kamu bukan muslim, Gara," sungut Yogi. "Apa kamu tidak memberitahunya?" tanya Yogi lagi. Gara menggeleng pelan, membuat Yogi dan Rio mengumpat secara bersamaan. Sedangkan Radit hanya bisa geleng-geleng kepala.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
bagusss
19/03
0mantap
10/01
0mantap
16/08
0Lihat Semua