logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 6 Kado dari Bening

Bening menatap toko pakaian pria dengan bingung. Banyak sekali model baju maupun celana di sana, dan lagi jangan lupakan tentang harganya. Bening memandang uang yang ada di dompetnya, dia meringis pelan karena uangnya tak cukup untuk membeli salah satu dari toko itu.
Bening berbalik badan, wanita itu menghela napas panjang, sudah tiga kali dia mendatangi toko pakaian pria berbeda, dari toko ke toko, tapi tetap saja uangnya yang menjadi kendala.
"Apa yang harus aku beli, sebelumnya aku belum pernah membelikan kado untuk pria, kira-kira kado apa yang cocok untuk Sagara," gumam Bening dengan suara lirih.
Sebenarnya Bening tak ingin datang ke acara ulang tahun Gara, namun rasanya tak enak jika dia tak datang, karena Gara sudah mengundangnya secara langsung.
"Ibu, kenapa membelikanku tasbih, untuk apa?"
Bening melirik ke arah sumber suara, dia memperhatikan anak kecil yang tampak bingung sambil memegang tasbih berwarna hitam.
Bening juga melihat ibu dari anak itu tersenyum lebar, wanita itu memegang pundak anaknya.
"Fungsinya tasbih untuk apa?"
Anak kecil itu tampak berpikir keras, setelah lama berpikir akhirnya anak itu menggeleng pelan.
"Aku tidak tau, Ibu," gumam anak kecil itu dengan kepala tertunduk.
Lagi-lagi si ibu dari anak itu tersenyum. "Nak, tasbih ini fungsinya untu berdzikir, dengan kita berdzikir hati kita akan menjadi tenang, hati gembira, mendatangkan Rahmat Allah, dan yang terakhir adalah kita akan mendapatkan--"
"Pahala," sela anak kecil itu cepat.
"Pintar sekali anak ibu, mulai sekarang rajin berdzikir juga ya," ucap ibu itu dan di jawab anak itu dengan anggukan cepat.
"Subhanallah," gumam Bening dengan mata berkaca-kaca, dia terharu dengan pemandangan tadi.
Dia salut dengan wanita itu karena telah mendidik anaknya sedari kecil. Menurut Bening sosok wanita tadi adalah sosok ibu yang sangat mulia.
Kepala Bening menengadah, menatap langit sambil memohon pada yang maha kuasa.
"Ya, Allah, semoga kelak aku bisa memberi contoh seperti wanita itu yang dilakukan tadi. Semoga aku bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anakku kelak. Amiin."
Bening mengusap wajahnya menggunakan kedua tangannya, setelah selesai melakukan itu, wanita itu kembali tersenyum tipis karena wanita itu tahu apa yang akan dia beli untuk Sagara.
"Semoga saja dia menyukainya," gumam Bening.
Bening pergi ke toko pakaian muslim di mana tadi tempat anak dan ibu itu sedang bercengkrama.
***
Bening menunggu Sisil di depan teras dengan sabar. Sisil mengatakan bahwa sebentar lagi akan sampai, namun sampai sekarang wanita itu tak muncul juga di hadapannya.
Sejujurnya Bening bisa saja berangkat sendiri, namun sayangnya Gara tak memberikan alamat rumahnya, pria itu mengatakan jika dirinya akan dijemput oleh Sisil.
Dan entah dari mana Sisil bisa mendapatkan nomor Bening, tiba-tiba saja wanita itu mengirimkan pesan padanya agar segera bersiap-siap karena sebentar lagi dia akan datang.
Sudah setengah jam Bening menunggu tetap saja Sisil tak datang.
"Kenapa lama sekali, apa terjadi sesuatu?" Bening bertanya-tanya sendiri.
Bening merogoh ponselnya di dalam tas, dia mencoba untuk menghubungi nomor Sisil untuk memastikan bahwa tidak terjadi apa-apa. Ketika Bening hendak menaruh ponselnya ditelinga, tiba-tiba saja ada suara klakson berbunyi.
Bening menatap mobil itu sambil tersenyum lega, dengan cepat Bening menghampiri mobil itu.
"Aku kira kamu tidak jadi datang," kata Bening.
"Sorry, tadi aku ada urusan sebentar, yuk naik. Keburu pestanya dimulai."
Bening mengangguk kemudian menaiki mobil itu. Mobil melaju dengan kecepatan sedang, di antara mereka berdua tak ada yang membuka obrolan, mungkin canggung karena belum saling mengenal satu sama lain, hanya sekedar mengenal nama saja.
"Oh iya, kenalin, namaku Sisil," ucap Sisil membuka obrolan.
Bening mengangguk sambil tersenyum tipis. "Iya, aku sudah tau namamu melalui Sagara."
"Oh, Gara," kata Sisil sambil manggut-manggut, mata wanita itu tetap fokus menatap jalanan.
Bening menatap Sisil cukup lama, entah apa yang sedang Bening pikirkan.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Sisil.
Bening tersentak kaget, wanita itu langsung menggumamkan kalimat istighfar.
"Tidak ada, aku hanya kagum padamu, kamu cantik, cocok dengan Sagara. Kalian adalah pasangan sempurna. Ganteng dan cantik," puji Bening tulus.
Sisil tersenyum kecut, seandainya saja apa yang diucapkan Bening memang nyata, Sisil pasti akan tersenyum lebar ketika Bening mengucapkan hal itu.
Mobil berhenti di sebuah pelataran rumah yang menurut Bening sangat megah. Bangunan itu menjulang tinggi membuat mata Bening tak berkedip.
"Hei, ayo turun. Pasti pestanya sudah dimulai," tegur Sisil, wanita itu tampak tergesa-gesa.
Bening pun ikut turun, dia mengikuti Sisil dari belakang. Diam-diam matanya melihat ke samping rumah itu, lagi-lagi Bening takjub dengan pemandangan yang ada di sana.
"Kau sudah datang?"
Langkah Bening terhenti ketika mendengar suara itu.
"Ya, apa aku datang terlambat?" tanya Sisil cemas.
Gara menggeleng sambil tersenyum, dia melirik ke belakang, di sana ada wanita yang sedari tadi dia tunggu-tunggu kedatangannya. Senyum Gara semakin lebar ketika melihat Bening memakai gamis pemberiannya.
'Ah, cantik sekali wanita itu,' batin Gara.
"Hei, Bening. Kemarilah," tegur Gara sambil melambaikan kedua tangannya.
Bening langsung mendekati Gara dan Sisil dengan perasaan campur aduk, pasalnya hanya dia saja yang memakai pakaian tertutup.
"Assalamualaikum," sapa Bening lirih.
"Wa-waalaikumsalam," jawab Gara ragu.
'Benar nggak sih jawabnya,' batin Gara.
"Oh iya, ini kado untuk kamu, selamat ulang tahun ya, Gara. Umur kamu sudah makin tua, jangan lupa untuk segera menikah," kata Sisil sambil menyerahkan kado pada Gara.
Gara menerimanya dengan senyum tulus. "Terima kasih."
Bening melihat kado pemberian Sisil cukup besar, seketika membuat Bening minder. Pasti hadiah yang Sisil kasih pada Gara harganya cukup mahal, Bening tak sadar jika dia meremas bungkusan kado yang ada di tangannya.
"Bening, kamu tidak apa-apa?" tanya Gara.
Bening mendongak, wanita itu menggeleng cepat sambil tersenyum.
"Tidak apa-apa," jawab wanita itu. Bening memberikan kado itu pada Gara dengan tangan gemetar. "Sagara, se-selamat ulang tahun ya, ini kado dari aku."
Gara langsung mengambil kado itu dengan cepat. "Kenapa harus repot-repot sih, aku tidak berharap dikasih kado, dengan kehadiranmu di sini saja aku sungguh senang. Tapi tidak apa-apa juga sih kalau kamu memberikan ini untukku, terima kasih, Bening," ujar Gara dengan tulus. Gara menaruh pemberian Sisil di atas meja, sedangkan pemberian Bening dipegang oleh Gara.
Bening tersenyum, dia menoleh ke arah Sisil. Raut wajah wanita itu seketika murung. Bening jadi merasa bersalah pada Sisil.
"Aku buka ya," kata Gara.
Mata Bening terbuka lebar, dia ingin mencegahnya tapi semua terlambat karena Gara sudah membukanya.
Bening melihat tubuh Gara menegang, sama halnya dengan orang-orang yang ada di sekitarnya.
"Peci?"
Semua orang menatap Bening dengan tatapan menusuk.

Komentar Buku (90)

  • avatar
    PAfif

    bagusss

    19/03

      0
  • avatar
    YulianiRici

    mantap

    10/01

      0
  • avatar
    MuzzakiRizki

    mantap

    16/08

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru