Gara menggerutu kesal karena mamanya memaksanya untuk menemaninya pergi ke supermarket. Gara memberikan berbagai macam alasan, tapi tetap saja mamanya selalu bersikeras. "Gara sibuk, Ma," erang pria itu. Sarah mendelik tajam. "Kamu mau alasan apa lagi, hah! Tadi bilang kamu lagi tidak enak badanlah, ngantuklah, capeklah, pokoknya hari ini kamu antar Mama, Mama mau belanja bulanan!" putus Sarah. "Ma--" "Cepat siap-siap, Mama tunggu di mobil." Sarah menjauh dari pandangan Gara, Gara mengacak rambutnya dengan kasar. Mendengkus keras karena kalah telak dengan ucapan Sarah. Dengan malas Gara berjalan menuju mobilnya, tak peduli dengan pakaian biasa yang dia kenakan. Toh, hanya ingin ke supermarket, bukan ingin bertemu dengan orang spesial. Gara menutup pintu mobil itu dengan kasar, membuat Sarah terlonjak kaget. "Bisa lebih keras lagi?" sindir Sarah. Gara tak menjawab, dia sengaja menulikan telinganya karena terlanjur kesal dengan Sarah. Dengan kecepatan sedang dia mengemudi mobil tersebut. "Kamu yakin memakai pakaian seperti itu?" tanya Sarah yang tengah melihat pakaian Gara, kaos oblong dan juga celana kolor. Gara mengernyitkan dahinya. "Kenapa? Lagian hanya mengantar Mama saja, kan. Tidak untuk menemani Mama masuk ke dalam," sahut Gara datar. Sarah mendengkus keras, dia menjewer telinga anaknya hingga Gara mengaduh kesakitan. "Sakit, Ma. Jahat banget sih sama anak sendiri," sungut Gara kesal. "Lalu siapa lagi yang bisa Mama harapkan selain kamu, Gara! Hanya kamu anak satu-satunya di keluarga kita!" Sarkas Sarah. Sarah ingin mengubah sifat anaknya. Sarah ingin membuat Gara menjadi pribadi yang lebih baik, Sarah muak jika Gara selalu nongkrong dengan teman-temannya yang menurutnya berandalan itu. "Apa salah kalau Mama terlalu berharap padamu, Gara? Apa Mama salah jika Mama menginginkan lebih dari kamu, yaitu ingin menimang cucu, Mama salah ya?" tanya Sarah sambil tersenyum kecut. Gara mencengkeram erat setir itu, hatinya sakit jika mendengar Sarah berkata seperti itu, apalagi dari nada bicaranya Sarah seperti menahan sedih. "Maafin Gara, Mah. Gara lagi-lagi membuat hati Mama terluka," gumam Gara lirih. "Tapi asal Mama tahu bahwa hati ini tidak bisa dipaksa, Gara janji akan memberikan Mama cucu, tapi nanti, belum waktunya. Gara harus mencari pasangan yang tepat untuk Gara. Gara ingin betul-betul mencari wanita yang terbaik untuk Gara, yang mau menerima kekurangan maupun kelebihan Gara, mau hidup bersama Gara sampai ajal menjemput, dan juga yang paling penting adalah kami berdua saling mencintai, bukan sepihak," terang Gara, pria itu menatap mamanya dengan sorot mata sendu sambil tersenyum tipis. Mata Sarah berkaca-kaca ketika mendengar penuturan anaknya. Dia percaya jika Gara akan menepati janjinya, kapan pun itu, Sarah tetap menantikannya. "Janji sama Mama?" tanya Sarah dengan suara serak. Gara memegang tangan Sarah dengan erat, kemudian mengangguk pelan. "Gara janji, Ma. Tapi ... Gara tidak janji membawa jodoh dalam waktu dekat." Sarah membalas memegang tangan Gara, wanita itu tersenyum tulus. "Mama akan menantikannya, Mama akan tunggu saat itu tiba, dan Mama juga akan menerima siapapun wanita yang kamu inginkan, kamu bebas memilih siapa wanita itu, yang penting dia bisa membuatmu bahagia." Gara mengangguk penuh semangat, dia semakin percaya diri untuk mendekati Bening karena mendapat dukungan dari Sarah. "Terima kasih, Ma," ucap Gara antusias. Gara menyetir mobil itu dengan perasaan bahagia, terkadang dia bersiul-siul saking senangnya karena mendapat kebebasan dari Sarah. Tiba-tiba saja ekor matanya menatap seseorang yang sangat dia kenali, Gara mengerem mobil itu secara mendadak, membuat Sarah memekik keras. Namun sayangnya Gara tak menggubrisnya, mata Gara terus saja tertuju pada objek yang sedang dia incar. Gara tersenyum tipis. "Mama pergi sendiri ya." "Loh, loh, loh. Mana bisa begitu, baru saja Mama mengizinkanmu, kamu sudah berbuat ulah lagi," dengkus Sarah. "Bukankah Mama selalu memaksaku untuk menikah, Gara sedang berusaha." Sarah mengerutkan keningnya heran. "Maksudnya?" tanya Sarah tak mengerti. Gara menggeleng pelan, dia tak menjawab pertanyaan Sarah, pria itu keluar dari mobilnya. "Doakan Gara ya, Ma. Supaya cepat-cepat menikah, dan Mama segera mempunyai cucu. Anakmu sedang berusaha untuk mendekati wanita!" teriak Gara sambil menjauh dari mobil Sarah. Sarah menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku anaknya, namun batinnya berdoa untuk kebaikan anaknya. 'Semoga saja dia berhasil menemukan wanita yang tepat untuknya,' doa Sarah dalam hati. "Ck! Anak itu, selalu saja bikin kesal," gumam Sarah pelan. *** Gara diam-diam mengikuti Bening dari jauh, Gara rela berjalan kaki demi untuk mengetahui ke mana tujuan Bening. Ternyata tujuan wanita itu adalah pasar. Dan di sinilah dia berada, sedang berada di tengah gerombolan ibu-ibu yang sedang membeli sayuran. Gara mendesis lirih ketika ada yang sengaja menubruk badannya. Namun dia tak ingin membalasnya. Gara sungguh tidak tahan dengan persembunyiannya. Akhirnya pria itu pun mendekati Bening yang sedang menawar harga sayur. "Hai," sapa Gara. Bening menoleh ke arah Gara, sedikit terkejut karena melihat ada pria itu di sana. "Ka--kamu? Sedang apa kamu di sini?" tanya Bening gugup. Gara menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia bingung harus mencari alasan apa yang terdengar masuk akal. "Oh, itu ... aku sedang menemani Mama berbelanja, tapi sayangnya aku tersesat, lalu aku tak sengaja bertemu denganmu, tidak boleh ya?" tanya Gara. "Bo--boleh kok," jawab Bening. Wanita itu mengambil sayuran dengan gugup, lalu menanyakan berapa harga sayur itu pada penjualnya. Gara tersenyum kecil ketika melihat kegugupan Bening. "Kamu tidak beli?" tanya Bening pada Gara karena melihat pria itu tampak diam saja. "Tidak, aku hanya sedang mencari mamaku, kurasa tadi aku melihatnya berjalan menuju ke sini," dusta Gara sambil pura-pura melihat ke kanan dan ke kiri. Bening mengangguk paham, wanita itu kembali memilih sayuran yang ingin dibeli. Gara selalu saja melihat tingkah Bening, pria itu tersenyum tipis dengan suara lembut Bening. 'Ah, sungguh istri idaman,' gumam Gara dalam hati. Bening beranjak pergi dari situ, Gara pun mengikutinya dari belakang. Bening menatap Gara dengan heran. "Ada apa mengikutiku?" tanya Bening lirih. "Siapa yang mengikutimu? Aku juga ingin berjalan menuju ke sana, mungkin tujuan kita sama," elak Gara. Lagi-lagi Bening mengangguk, dia membiarkan Gara berjalan di belakangnya. "Bening," panggil Gara. Seketika langkah Bening terhenti, dia menunggu kalimat Gara selanjutnya. "Besok aku ulang tahun, aku harap kamu datang ya," ucap Gara dengan sungguh-sungguh. Bening terdiam cukup lama, kemudian wanita itu menghela napas panjang. "Maaf Gara, tapi aku---" "Sampai jumpa, Bening. Aku tunggu kedatanganmu ya. Besok Sisil akan menjemputmu," potong Gara cepat. Pria itu langsung meninggalkan Bening, sedangkan Bening, wanita itu melongo.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
bagusss
19/03
0mantap
10/01
0mantap
16/08
0Lihat Semua