logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 4 Jatuh Cinta

Jatuh cinta itu sungguh rumit, makan jadi tak enak, tidur tak nyenyak, dan juga pikiran selalu tertuju pada objek yang dicintai.
Sama seperti perasaan Gara saat ini. Semenjak pertemuannya dengan Bening, wajah wanita itu selalu saja terbayang-bayang diingatannya. Gara sudah mencoba berbagai macam cara untuk membuang pikiran itu, namun sayangnya wajah itulah yang selalu muncul.
"Astaga! Ingat Gara, dia sangat berbeda denganmu!" Berkali-kali Gara mengingatkan dirinya sendiri, tapi tetap saja dia tak bisa.
Salahkah jika dia mencintai wanita itu?
Gara mengusap wajahnya dengan kasar, mungkin dengan bertemu temannya bisa membuat pikirannya berhenti pada wanita itu. Gara mengambil kunci motornya, bergegas menuju basecamp. Di mana tempat dia sering berkumpul dengan teman-temannya.
***
"Eh, lihatlah, kapten kita udah datang," celetuk Rio yang melihat kedatangan Gara.
Teman-teman yang lain pun ikut memandang ke arah Gara.
"Ya elah si Gara, dari tadi kamu ditungguin tuh sama si Sisil, wajahnya butek banget dari tadi kalau nggak ada kamu," sahut Yogi yang tengah meledek Sisil.
Sisil melirik tajam, tak terima disebut seperti itu walaupun sebenarnya memang benar.
Gara, Rio, Sisil, Radit dan Yogi adalah teman dekat semenjak mereka menduduki bangku SMA. Mereka berempat sering berkumpul bersama, berbeda dengan Radit, dia jarang sekali berkumpul dengan mereka karena Radit mempunyai kesibukan sendiri. Di antara mereka berlima, Raditlah yang paling kalem.
Gara mengacuhkan ucapan Yogi, dia mendekati Radit yang tengah asyik sedang memainkan ponsel, mulut pria itu tampak komat-kamit, Gara mendengar suara lirih Radit, Gara tahu kalau Radit sedang menggumamkan ayat suci Al-Quran.
"Dit," panggil Gara.
Radit langsung berhenti, dia mendongakkan kepalanya. Mengernyit heran karena melihat senyum Gara.
"Apa?" tanya Radit.
"Boleh tanya?"
"Tanya apa?"
Gara menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia menoleh ke arah Yogi, Rio dan Sisil. Mereka tampak asyik dengan obrolannya sendiri. Melihat hal itu membuat Gara bernapas lega. Dia kembali menoleh ke arah Radit.
"Di antara kita hanya kamu yang muslim, jadi ... bolehkan kalau aku bertanya?" tanya Gara pelan, Gara takut kalau suaranya terdengar oleh mereka bertiga.
Radit mengangguk ragu. "Mau tanya apa?" tanya Radit.
"Kalau Islam bilang aku cinta kamu itu apa?"
"Ana uhibbuki," jawab Radit heran.
"Kalau panggil sayang?" tanya Gara lagi.
"Habibati."
"Kalau--"
"Tunggu-tunggu, ini maksudnya apa kamu bertanya seperti itu?" tanya Radit bingung.
"Jadi gini, Dit. Temanku sedang menyukai seorang wanita, tapi sayangnya mereka itu berbeda keyakinan. Si wanita itu muslim sedangkan si pria ... ya kamu bisa tebak sendiri kan, Dit, maksud aku apa," jelas Gara dengan wajah menahan malu.
Radit terdiam beberapa saat untuk mencerna ucapan Gara, kemudian Radit mengangguk-anggukan kepalanya, Radit paham maksud Gara.
"Terus apa yang ingin kamu tanyakan?"
Gara membisikkan sesuatu di telinga Radit, membuat Radit melongo ketika mendengarnya.
"Jadi gimana, Dit?" tanya Gara tak sabar.
Radit menghela napas berat, pria itu mengusap tengkuknya pelan.
"Jadi gini, Ga. Jatuh cinta memang boleh, tidak ada yang melarang orang untuk jatuh cinta, karena jatuh cinta tak tahu tempat di mana hati kita berlabuh. Rasa itu tiba-tiba muncul di hati kita. Hanya saja ...."
Radit menggantungkan kalimatnya, dia menatap Gara tak enak hati.
"Hanya saja apa?" tanya Gara tak sabaran.
"Di dalam Islam pacaran itu sangat ditentang, Ga, sangat dilarang," jelas Radit.
Gara terpaku, entah kenapa hatinya tak setuju dengan ucapan Radit. Lalu bagaimana dia akan mendekati Bening?
"Apalagi kalian beda agama," lanjut Radit.
Gara menaikkan sebelah alisnya.
"Kenapa?" tanyanya tak suka.
Lagi-lagi Radit menghela napas.
"Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke Neraka, sedang Allah SWT mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran." ( Surah Al-Baqarah ayat 221 )
Gara tersenyum kecut. Dia menertawakan dirinya sendiri karena tak tahu menahu perihal itu.
"Apa tidak ada cara lain?" tanya Gara lirih.
"Tentu saja ada, kalian berdua harus seiman."
Gara menelan salivanya dengan kasar. Sesulit itukah jatuh cinta?
"Jadi siapa wanita beruntung itu yang kamu cintai?" tanya Radit, suaranya terdengar seperti meledek.
Mata Gara melotot, dia mendengkus kesal.
"Bukan dia yang beruntung, tapi aku," jawab Gara ketus.
Radit manggut-manggut sambil tersenyum tipis.
Gara tersentak kaget karena dia salah berucap, dia kembali menatap Radit.
"Heh! Sudah kubilang, pria itu bukan aku, tapi temanku, kenapa kamu jadi meledekku?" Gara tak terima karena mendapat senyuman jahil dari Radit.
"Iya, aku tau kok kalau itu temanmu," jawab Radit sekenanya.
Gara menggeram kesal karena kecerobohannya, harusnya tadi dia tak menanyakan hal seperti itu pada Radit, lihatlah sekarang Radit sudah tahu semuanya, pria itu terus saja tersenyum licik ketika melihatnya.
Gara mendekatkan diri pada Radit.
"Awas saja kalau sampai bocor!" bisik Gara.
Radit tergelak.
"Kalian serius banget sih, sedang membicarakan apa?" tanya Sisil tiba-tiba ada di belakang Gara.
Gara maupun Radit berdeham sejenak, mata mereka berdua saling kedip untuk memberikan kode agar Sisil tak curiga.
"Membahas tentang masalah pria, wanita dilarang kepo," jawab Radit datar.
Sisil memutar bola matanya malas, Radit selalu saja seperti itu padanya. Selalu judes.
"Kamu kenapa sih ketus banget sama aku, nggak dapat jodoh baru tau rasa," protes Sisil.
"Justru karena aku seperti ini untuk menghargaimu sebagai perempuan."
Sisil menggerutu kesal, dia tahu jika Radit ini orang yang alim. Setiap kali Sisil mendekati Radit, pria itu selalu menjauh, dan juga Radit selalu menyuruhnya untuk memakai pakaian tertutup dan juga tidak terlalu ketat, namun Sisil selalu saja mengabaikan ucapan Radit. Ini adalah hidupnya, dia bebas melakukan apapun tentang hidupnya, dia tak suka jika diatur-atur.
Sisil berjalan menjauh dari Gara dan Radit, membuat Radit bernapas lega.
"Aku tebak, kamu menyukainya, kan?" tanya Gara dengan senyum menyeringai.
"Tidak!" bantah Radit. "Dia sangat menyukaimu," jawabnya kemudian.
Gara menyugar rambutnya dengan pelan. "Itulah mengapa aku selalu bersikap dingin padanya, aku tidak mau membuatnya terlalu berharap," kata Gara lirih. "Dan lagi, cinta tak bisa dipaksakan. Kita sudah lama bersama, tapi perasaan cinta dikalahkan oleh seorang wanita yang tidak kukenal," lanjut pria itu dengan senyum miris.
Radit tak mengerti dengan ucapan Gara, menurutnya sungguh terdengar ambigu.
"Aku jatuh cinta, Dit. Zayna Bening Humairah, itulah namanya," gumam Gara.

Komentar Buku (90)

  • avatar
    PAfif

    bagusss

    19/03

      0
  • avatar
    YulianiRici

    mantap

    10/01

      0
  • avatar
    MuzzakiRizki

    mantap

    16/08

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru