Overview
|Catalog
- Tag(s):
- Detail
- Drama
- Supranatural
Hazel, gadis bermata hijau yang dapat melihat warna hati. Perjumpaan dengan Richard membawanya pada kisah cinta yang manis namun penuh tantangan. Bagaimanakah kisah mereka akan berakhir? Apakah cinta itu patut diperjuangkan, atau menyerah pada penolakan?
Last Update
Editor´s Choice
Recommendation
Book Comment (161)
- Total: 92
Chapter 1 Lelaki Kurang Ajar
"Sekali-sekali bawa pacarnya dong. Kenalin sama Ibu," goda Bu Ani, wanita paruh baya penjual makChapter 2 Ternyata Dia!
Di tengah keheningan mencekam di kantorku saat semua orang sedang sibuk dengan deadline masing-mChapter 3 Proyek dari Bos
Kesialan telah menimpaku sejak aku bangun pagi. Air mandiku mendadak sangat dingin. Sepatu ketsChapter 4 Kesibukan Luar Biasa
Langit sudah gelap. Seisi kantor masih berkutat di laptop masing-masing. Kata orang pekerjaan deChapter 5 I Will Survive
Mataku berkunang-kunang. Untung Wahyu menyeretku untuk makan siang, kalau tidak aku pasti melewaChapter 6 Kerjasama yang Baik
Sesi foto-foto hari ini berjalan lancar. Aku bekerja dengan cepat di tiga perusahaan tujuan. SemChapter 7 Lantai Dua Puluh
Keesokan hari...
Aku sengaja ke lantai lima belas untuk melihat keadaan. Pemandangannya membuChapter 8 Demi Sahabat
Sabtu sore ini aku bersiap untuk kencan ganda dengan Wahyu dan gebetannya. Aku tidak berdandan,Chapter 9 Jangan Resign
Seumur hidupku hingga saat ini tidak ada seorang pun yang curiga pada kacamata bingkai perak yanChapter 10 Pendekatan Halus
Setelah ancaman resign-ku kemarin Richard tidak lagi bersikap arogan, tapi tetap saja dia membujChapter 11 Hipokrit!
Maka jadilah aku seorang desainer grafis in house di Yilmaz Group, dengan posisi langsung di bawChapter 12 Musuh Dalam Selimut
Bernard terkejut melihat wajahku yang sekeruh air kobokan. Dia pasti terheran-heran karena tadiChapter 13 Mengungkap Perasaan
Pagi-pagi sekali aku sudah bangun. Jiwa petualangku memberontak ingin segera melaju ke pantai. AChapter 14 Cerita Tidak Ya?
Aku tidak mengerti kenapa orang membuat jargon 'I hate Monday'. Memang apa yang salah dengan harChapter 15 Kejutan
"Coba kamu berikan solusi untuk persoalan ini. Ciptakan strategi marketing yang baik untuk sebuaChapter 16 Perhatian Richard
Aku bersin tiga kali berturut-turut. Kepalaku pening. Aku tahu seharusnya tidak memaksakan diriChapter 17 Double Trouble
Aku bersembunyi di toilet. Aku tidak ingin tahu apa yang dilakukan si kembar di ruangan Richard.Chapter 18 Beda Level
Aku lelah. Sangat lelah. Energi yang kukeluarkan tidak sepadan dengan yang kumiliki. Bayangkan sChapter 19 Suka atau Tidak?
Pagi yang aneh. Semalam aku bermimpi seram dan mood-ku menjadi lesu. Aku berharap hari ini bisaChapter 20 Santai di Pantai
Seperti biasa aku melenggang bahagia di pasir pantai. Guliran butir pasir terasa seperti pijat rChapter 21 Penyamaran Terbongkar
"Pagi, Bernard," sapaku.
"Pagi, Hazel. Wah, ada yang sedang bahagia? Wajahmu cerah sekali?" kChapter 22 Pulang
Pagi yang aneh bersama bos yang aneh, batinku. Sudah dibilang tidak usah, malah memaksa untuk meChapter 23 Berkenalan dengan Richard
Aku menyelesaikan sebuah lukisan! Awalnya aku berusaha melukis kembang sepatu yang sedang mekarChapter 24 Sekretaris Dadakan
I love Monday! Terutama karena tidak ada gangguan dari Bryan! Dari info yang diberikan Bernard,Chapter 25 Lelaki Trans
Aku mengeluh karena pagi ini Richard menyeretku ke meeting yang tidak ingin kuhadiri. Padahal akChapter 26 Pengamatan Abram
Aku semakin mengagumi Richard. Dia masih bertahan menghadapiku yang seperti ini. Beberapa kali aChapter 27 Abram dan Hazel
Aku heran saat telepon di mejaku berbunyi. Langka sekali. Tanpa banyak berpikir aku mengangkatnyChapter 28 Mengorek Informasi
Hari ini aku berusaha fokus pada pekerjaan, yang sangat sulit kulakukan dengan kehadiran RichardChapter 29 Richard dan Abram
Suasana mencekam di kediaman mewah Abram Yilmaz. Richard duduk di sofa ruang tamu berhadapan denChapter 30 Dansa Pertama
Hari ini hari Sabtu. Nanti sore aku dan Richard akan menghabiskan waktu berdua dalam pesta perniChapter 31 Berteduh
Setelah apa yang terjadi di pesta semalam, aku benar-benar butuh refreshing. Aku harus menjernihChapter 32 Sayap Putih
Pagi ini terlihat cerah. Suasana hatiku sangat baik. Setiap kali memejamkan mata aku teringat paChapter 33 Pertimbangan
Sebelumnya aku sedikit bingung harus bersikap bagaimana terhadap Richard. Sekarang aku jauh lebiChapter 34 Kamu Cantik
Bayangkan coba. Makan siang saja membuatku resah gelisah, bayangkan bagaimana perasaanku ketikaChapter 35 Menanti Jawaban
Insiden semalam membuatku tidak bisa tidur. Pikiranku penuh dengan berbagai hal di mana sebagianChapter 36 Pendekatan Abram
Pagi-pagi sekali handphoneku sudah berbunyi. Aku meraba-raba nakas di kepala tempat tidur sambilChapter 37 First Kiss
"Kamu cari model kayak apa sih? Jangan-jangan yang belum dilaunching?" gerutu Richard.
Aku meChapter 38 Percaya
Aku duduk bersila di sofa sambil sibuk memindahkan data dari handphone lama ke handphone baru. KChapter 39 Asal-usul
Aku duduk termenung menatap jendela kereta. Sebentar lagi aku akan tiba di stasiun kota B, kotaChapter 40 Kesibukan Bryan
Satu bulan sudah Bryan berkeliling beberapa kota besar di Kalimantan Barat untuk meliput festivaChapter 41 Jalan Berdua
Aku bersin tiga kali berturut-turut. Palet yang kupegang nyaris terjatuh. Elisabet menatapku denChapter 42 Kincir Ria
Aku mencari info tempat wisata yang asyik di kota ini. Kebanyakan wisata alam bebas. Saat ini akChapter 43 Gerak Cepat Bryan
Pagi-pagi sekali aku sudah merenggangkan tubuh di pekarangan. Olahraga pagi baik untuk menjaga tChapter 44 Bryan dan Elisabet
Bryan tidak menyangka bahwa Hazel akan segera mengenali dirinya, padahal dia berniat menyamar seChapter 45 Masih Memikirkan
Aku tidak menyangka Bryan pulang dengan patuh. Jangan kira aku tidak melihat tatapannya yang begChapter 46 Pencuri Ciuman!
"Aku cuma mau ambil barang-barang yang masih ketinggalan di apartemen kok. Habis itu langsung puChapter 47 Dia yang Pertama
"Ini Ma, titipannya." Aku menyerahkan dua buah pot bibit air mata pengantin.
"Taruh aja di deChapter 48 Richard dan Abram
Malam hari yang mencekam di kediaman Abram Yilmaz...
Tadi siang Abram sudah memerintahkan kedChapter 49 Pindah ke Dekatmu
Aku terheran melihat nama Richard di layar handphone. Pagi sekali dia menelepon? Ini bukannya baChapter 50 Penawaran Menarik
Melihat Richard melangkah maju dengan hidupnya aku merasa ketinggalan. Aku memang bisa menghasilChapter 51 Butuh Refreshing
Satu minggu melakukan maraton meeting bersama Richard cukup melelahkan. Aku juga mulai bosan karChapter 52 Mengorek Jawaban
Richard bersikeras ikut menjemput Wahyu meskipun aku melarang sekuat tenaga bahkan sampai menganChapter 53 Obrolan Seru
"Ha ha ha dari muka lo gue udah tau!" Wahyu memicingkan mata.
"Udah deh, jangan macam-macam.Chapter 54 Serangan Abram
Dua minggu berlalu. Aku dan Richard sudah menemukan ritme dalam kehidupan pribadi maupun pekerjaChapter 55 Suntikan Semangat
Kuakui selera Wahyu akan lelaki bertambah baik. Pagi ini aku meeting secara virtual dengan CreatChapter 56 Freelance Deh!
Ayam jantan Mak Endah berkokok nyaring di atas pagar rumah. Aku membuka mata. Otakku langsung meChapter 57 Makan Siang Berempat
Selesai urusan dengan Irwan. Aku mengirim pesan singkat pada Richard. Dia memberitahu untuk mencChapter 58 Menunda Hubungan?
Peluit berbunyi tanda kereta akan segera berangkat. Aku teringat akan lagu anak-anak jaman duluChapter 59 Jangkauan Yilmaz Group
Pagi-pagi Richard sudah bangun dan bersiap untuk berangkat ke galeri. Aku juga harus bertemu BuChapter 60 Kepribadian Menarik
"Ma," panggilku.
"Apa?" Elisabet menoleh. Tangannya yang memegang kuas tergantung di udara.
Chapter 61 Bukan CLBK!
Richard menetap di kamarku sementara aku sibuk dengan desain. Dia memperhatikan setiap gerakankuChapter 62 Menemani Richard
Hari ini aku bertekad menemani Richard ke studio. Satu minggu ini dia bekerja tanpa mengeluh. TiChapter 63 Kangen Teman
"Whaaattt?? Richard ketemu siapa? Di mana? Bagaimana? Coba lo jelasin lebih pelan sedikit?" SuarChapter 64 Bryan Datang
Hari yang normal di antara hari-hari lainnya. Aku dan Elisabet menyibukkan diri di depan canvasChapter 65 Malam Terakhir
Aku teringat kisah Sam Pek Eng Tay, kisah cinta antara dua anak manusia yang tidak dapat bersatuChapter 66 Richard Kembali
"Apa rencana ayah?" tanya Richard. Dia sudah berada dalam mobil Bryan dan sedang melaju ke ibukoChapter 67 Apa Warna Hatiku?
Malam tiba. Aku duduk termenung di depan jendela. Sejak kepergian Richard tadi pagi rumah terasaChapter 68 Sudah Seminggu
"Oh, begitu cepatnya kamu akrab dengan klien? Yakin itu bukan strategi dia untuk nego harga desaChapter 69 Bertemu Daniel
Pagi ini aku janjian dengan Kak Sukma meeting santai di cafe yang didesain apik. Tanaman hijau bChapter 70 Curhat Para Wanita
Tidak hujan tidak angin, Wahyu menelepon siang-siang. Aku yang sedang asyik mempersiapkan finalChapter 71 Mempermainkan Wanita!
"Maksud Kak Sukma? Menghilang bagaimana?" Sumpah, aku benar-benar melongo.
"Dia nggak menjawaChapter 72 Membujuk
Aku dan Richard rebah berhadapan. Dia melepasku setelah semua kerinduannya terlampiaskan. Kami bChapter 73 Bantuan Terselubung
Setelah makan Richard masih bermanja-manja denganku. Sedetik pun dia tidak meninggalkan tempat tChapter 74 Menjebak Daniel
Aku meratapi nasibku yang malang. Dahiku bersandar di kaca jendela mobil Kak Sukma. Aku tidak meChapter 75 Penthouse
Tidak sampai sepuluh menit Richard sudah tiba di depan gedung kantor Daniel. Mobilnya mengklaksoChapter 76 Janji yang Tersingkir
Aku hampir lupa dengan ajakan Hendri. Sekarang lelaki ini berdiri di dalam rumah dengan tatapanChapter 77 Utusan Abram
Langit sudah gelap ketika aku dan Wahyu kembali ke rumah. Untung lampu jalanan di sekitar kompleChapter 78 Bertemu Tanpa Rencana
Minggu menjelang siang setelah berpamitan dengan Elisabet, aku dan Wahyu melakukan perjalanan keChapter 79 Hanya Ada Dua Cara
Tidak ada yang menyangka bahwa Bryan akan datang ke penthouse di hari Minggu. Karena Richard tidChapter 80 Janji yang Diingkari
"Kalau seperti ini aku teringat waktu tinggal di rumahmu," celetuk Richard.
"Oh ya? Emang sepChapter 81 Keraguan
Sore hari aku tiba di rumah. Richard mengantarku sampai ke depan Elisabet. Aku tersentuh, pacarkChapter 82 Elisabet VS Abram
Perasaanku yang sedang buruk bertambah buruk karena melihat wajah Abram. Tepat sebelum aku menguChapter 83 Hendri Menagih Janji
Jika dinikmati waktu berjalan lebih cepat. Beberapa hari ini aku bekerja seperti kuda pacu. DesaChapter 84 Tepat Waktu
Giliranku bernyanyi. Aku berdiri dengan mic di tangan, berusaha konsentrasi pada layar di tengahChapter 85 Terkejut!
Hangatnya sinar matahari menyambut kami yang melangkah keluar dari rumah sakit. Aku menarik nafaChapter 86 Will You Marry Me?
"Aku mau kerja sebentar, kamu duduk manis dong." Aku mengomeli Richard yang terus menjahiliku, mChapter 87 Richard dan Bryan
Pagi hari di gedung milik Yilmaz Group, tepatnya di lantai dua puluh. Bryan dan Richard duduk beChapter 88 Kiriman Foto
Sehabis hujan rerumputan di pekarangan rumah Elisabet berwarna hijau cerah. Udara pagi yang sehaChapter 89 Maafkan Papamu
Ketika rasa kecewa pernah menempati hatimu, selamanya perasaan itu akan tinggal, mengintai dariChapter 90 Bagian Hidupku
Yilmaz Group mengalami guncangan hebat. Harga saham merosot drastis hingga nyaris tidak berhargaChapter 91 Melamar
Aku menapaki langkah penuh kenangan. Seolah sudah lama sejak terakhir kali aku menjejakkan kakiChapter 92 Meminta Restu
Langit mulai temaram saat mobil Richard tiba di depan rumahku. Sepanjang perjalanan aku tidak he


















sangat menarik
08/04
0waah seruuu
11/09
0sangat bagus sy suka banget🥰
17/07
0bro
08/07
0saya suka
29/06
0mencoba
24/06
0bagus
21/06
0bagus
15/06
0mntp ceritanya
02/05/2025
0Bagus sekali nih😍😍
15/04/2025
0